Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Sekutu Trump Menolak Keras Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, Harga Minyak Terus Melambung

 

Repelita Pariaman - Negara Sekutu Tolak Ajakan Trump Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz Meski Harga Minyak Melonjak

Ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat akibat ancaman penutupan jalur perdagangan energi global yang sangat penting itu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengajak sejumlah negara sekutu untuk mengirim kapal perang guna mengamankan rute pelayaran di kawasan tersebut.

Ajakan tersebut bertujuan memastikan kapal tanker pengangkut komoditas energi tetap bisa melintas dengan aman terutama setelah Iran mengeluarkan peringatan bahwa jalur itu akan ditutup bagi kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel.

Seruan dari Washington tidak mendapat respons positif secara penuh dari berbagai pihak.

Beberapa negara menyatakan penolakan untuk mengerahkan armada militer ke wilayah rawan konflik itu.

Trump secara terbuka meminta dukungan dari negara-negara besar seperti China Prancis Jepang Korea Selatan serta Inggris agar ikut melindungi jalur tersebut.

Permintaan muncul di tengah kenaikan tajam harga minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Saya meminta negara-negara itu untuk turut melindungi wilayah mereka sendiri karena itu merupakan kepentingan mereka kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One.

Itu adalah tempat di mana mereka mendapatkan energi tambahnya.

Pejabat Amerika Serikat telah diinstruksikan untuk menghubungi negara-negara terkait guna membahas kemungkinan dukungan militer secara langsung.

Setidaknya empat negara telah menyatakan keengganan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.

Angka tersebut berpotensi bertambah karena beberapa negara lain masih mempertimbangkan posisi mereka.

Menteri luar negeri negara-negara Uni Eropa dijadwalkan mengadakan pertemuan pada Senin 16 Maret 2026 untuk membahas situasi terkini.

Pertemuan tersebut diperkirakan tidak akan menghasilkan keputusan untuk memperluas keterlibatan Uni Eropa di kawasan itu.

China belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai permintaan Trump.

Hubungan strategis Beijing dengan Iran membuat permintaan tersebut dinilai cukup rumit.

Jepang menghadapi kendala besar dalam merespons ajakan Washington.

Meskipun sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Asia Barat dan merupakan sekutu dekat Amerika Serikat konstitusi Jepang membatasi penggunaan kekuatan militer.

Konstitusi tersebut hanya mengizinkan pengerahan militer untuk menghadapi ancaman langsung terhadap eksistensi negara.

Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi berisiko menghadapi masalah konstitusional jika memutuskan mengirim pasukan ke Selat Hormuz.

Apa yang secara teknis biasa kami lakukan dan apakah kami harus melakukannya dalam situasi ini adalah cerita yang berbeda ujar Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi.

Inggris tidak berencana mengerahkan armada perang dalam skala besar ke kawasan tersebut.

Pemerintah London masih menimbang dampak dari pengerahan militer besar-besaran di Selat Hormuz.

Sebagai pilihan alternatif Inggris mempertimbangkan kontribusi berupa teknologi militer.

Sekretaris Negara Inggris bidang Energi Ed Miliband menyebut penyediaan drone penyapu ranjau laut sebagai salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan.

Sangat penting untuk kita mendapatkan kembali akses Selat Hormuz Ada berbagai cara yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi termasuk drone pemburu ranjau katanya dalam wawancara.

Prancis menunjukkan sikap sangat hati-hati terkait hal ini.

Pemerintah Prancis khawatir pengerahan kekuatan militer besar justru dapat memperburuk eskalasi konflik di kawasan.

Fokus utama Paris saat ini adalah menjaga stabilitas wilayah bukan menambah risiko konfrontasi militer.

Australia menyatakan tidak akan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.

Keputusan itu dipengaruhi oleh keterbatasan armada Angkatan Laut Australia yang sedang menjalani modernisasi.

Beberapa kapal perang mereka akan pensiun dalam waktu dekat sementara penggantian baru baru rampung sekitar tahun 2029.

Saat ini Angkatan Laut Australia hanya memiliki sembilan kapal perang yang masih operasional.

Kami tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz Kami sadar betapa pentingnya hal itu Namun itu bukan hal yang diminta kepada kami maupun jenis kontribusi yang akan kami berikan tutur Menteri Transportasi Catherine King pada Senin.*

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved