Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump diminta keluar dari perang Iran oleh penasihatnya sendiri di tengah eskalasi konflik yang semakin meluas.
Desakan itu bukan datang dari lawan politiknya, melainkan dari penasihat AI dan mata uang kripto Gedung Putih, David Sacks.
AS dianggap sudah berada di batas kemampuan yang dapat dicapai dengan aman dalam perang yang semakin meningkat melawan Iran.
Dalam sebuah siniar All-In, Sacks mendesak AS untuk melarikan diri atau mundur dari konflik sebelum semakin meluas di Timur Tengah.
"Ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan kemenangan dan keluar," kata Sacks, dikutip dari Palestine Chronicle, Senin, 16 Maret 2026.
Sebelum eskalasinya meluas ke seluruh kawasan, dia menyarankan Trump segera mencari jalan keluar melalui jalur diplomasi.
"Saya setuju bahwa kita harus mencoba menemukan jalan keluar," ucapnya menegaskan perlunya negosiasi untuk mengakhiri perang.
Jika perang tak segera diakhiri, menurutnya dampaknya akan makin signifikan dan semakin sulit diprediksi oleh siapapun.
Dia memberi gambaran terkait infrastruktur minyak dan pasokan air minum di seluruh Semenanjung Arab yang menjadi target potensial Iran.
Di saat yang bersamaan, ada ratusan juta orang yang tinggal di kawasan tersebut dan menggantungkan hidup pada infrastruktur kritis.
"Saya pikir ada sekitar 100 juta orang di Semenanjung Arab yang mendapatkan air mereka dari desalinasi," kata Sacks menggambarkan kerentanan kawasan.
Jika dibiarkan perang terus meluas, menurutnya dampaknya akan fatal bagi penduduk sipil yang tidak bersalah.
Dia menggambarkan skenario terburuk tersebut sebagai sebuah bencana kemanusiaan yang sangat mengerikan.
"Benar-benar bencana," tegasnya memperingatkan konsekuensi jika perang tidak segera diakhiri.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan pihaknya tak tertarik merespons komunikasi AS untuk mengakhiri perang.
"Kami stabil dan cukup kuat. Kami hanya mempertahankan rakyat kami," kata Araghchi dalam wawancara di program CBS, Face The Nation, Minggu, 15 Maret 2026.
Menurutnya, pihaknya tak berpikir untuk berunding dengan AS setelah pengalaman pahit di masa lalu.
"Kami tidak melihat adanya alasan mengapa kami harus berbicara dengan Amerika, karena kami berbicara dengan mereka dan mereka memutuskan menyerang kami," ucapnya.
"Ada pengalaman tidak baik berbicara dengan Amerika," sambung Araghchi merujuk pada sejarah panjang hubungan kedua negara.
Dengan sikap Iran yang menolak berunding dan desakan dari penasihat sendiri, Trump berada dalam posisi sulit menentukan langkah selanjutnya dalam perang melawan Iran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

