
Repelita Tel Aviv - Putra Menteri Keuangan Israel sayap kanan Bezalel Smotrich terluka dalam serangan mortir yang diduga dilakukan oleh Hizbullah terhadap tentara Israel di dekat perbatasan Lebanon dengan serangan itu juga melukai delapan tentara Israel lainnya.
Dalam unggahannya di X Smotrich mengungkapkan bahwa putranya Benya Hebron terluka setelah serpihan dari peluru mortir menembus punggung dan perutnya.
Salah satu serpihan tersebut menembus hati Hebron dan berhenti di dinding pembuluh darah terbesar di perutnya sehingga membutuhkan penanganan medis darurat.
Dilansir dari The New Arab Hebron dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif dan Smotrich berharap sang putra kembali sehat sepenuhnya dan segera bergabung kembali dengan tentara Israel.
Stasiun televisi Israel Kan pertama kali melaporkan cedera tersebut pada 6 Maret 2026 dan mengatakan bahwa putra Smotrich terluka di sepanjang perbatasan utara Lebanon dan berada dalam kondisi ringan.
Tidak banyak yang diketahui tentang Hebron selain bahwa dia adalah seorang tentara Israel di Brigade Golani yang merupakan unit elit Angkatan Darat Israel.
Para pejuang Hizbullah melakukan serangkaian serangan terhadap Israel dan pasukannya menuju Dataran Tinggi Golan yang diduduki dan wilayah Haifa pada 6 Maret 2026.
Serangan itu melukai lima tentara secara serius di tengah serangan lintas batas yang lebih luas menyusul perang gabungan AS dan Israel terhadap Iran yang terus berlangsung.
Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel setelah jeda 15 bulan sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026.
Israel telah melakukan serangan hampir setiap hari terhadap Lebanon sebelum penembakan oleh Hizbullah meskipun ada perjanjian gencatan senjata dengan Hizbullah yang mulai berlaku pada November 2024.
Smotrich telah memberikan dukungan kuat terhadap serangan terbaru Israel di Lebanon yang telah menewaskan sedikitnya 486 orang termasuk puluhan anak-anak tak berdosa.
Ia beralasan serangan itu untuk mengamankan perbatasan utara Israel secara permanen dengan merebut zona keamanan yang luas di selatan Sungai Litani.
Hampir 700.000 orang telah dipaksa mengungsi dari wilayah mayoritas Syiah di Lebanon termasuk wilayah selatan pinggiran selatan Beirut dan beberapa daerah timur di Bekaa.
Situasi kemanusiaan di Lebanon semakin memburuk dengan ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi ke wilayah yang lebih aman.
Pemerintah Lebanon melalui otoritas terkait terus mendata jumlah korban tewas dan luka-luka akibat serangan udara Israel yang terus berlanjut.
Masyarakat internasional mendesak dilakukannya gencatan senjata untuk mencegah semakin banyaknya korban sipil berjatuhan di Lebanon.
Namun hingga saat ini Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan serangan terhadap target-target Hizbullah di Lebanon.
Situasi ini semakin memperumit dinamika konflik di kawasan yang sudah sangat kompleks dengan melibatkan berbagai aktor.
Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi sambil menekan semua pihak untuk menahan diri dan mengutamakan keselamatan warga sipil.
Korban jiwa yang terus bertambah dan pengungsi yang semakin banyak menjadi tragedi kemanusiaan yang memilukan di tengah konflik berkepanjangan.
Rumah sakit di Lebanon kewalahan menangani korban luka yang terus berdatangan sementara persediaan obat-obatan semakin menipis.
Organisasi kemanusiaan internasional berupaya menyalurkan bantuan namun terkendala situasi keamanan yang tidak menentu di kawasan perbatasan.
Masyarakat Lebanon berharap konflik ini segera berakhir agar mereka dapat kembali membangun kehidupan yang normal.
Namun selama Israel dan Iran masih bersikeras melanjutkan perang, rakyat kecil di Lebanon yang akan terus menjadi korban utama.
Dunia internasional harus segera bertindak untuk menghentikan tragedi kemanusiaan ini sebelum semakin banyak nyawa melayang sia-sia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

