Repelita Washington - Pejabat Amerika Serikat menyatakan Iran mulai menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz, langkah yang dinilai berpotensi mengganggu jalur pelayaran global secara signifikan.
Informasi tersebut dilaporkan berdasarkan data intelijen yang diperoleh pejabat AS dari berbagai sumber di kawasan Teluk.
Menurut seorang pejabat AS yang mendapat pengarahan intelijen, langkah tersebut dilakukan setelah militer Amerika menghancurkan kapal-kapal besar Iran yang sebelumnya digunakan untuk menebar ranjau di perairan tersebut.
Akibatnya Iran kini disebut menggunakan kapal-kapal kecil untuk menjalankan operasi penempatan ranjau karena armada besarnya telah hancur.
"Setelah pasukan AS menghancurkan kapal-kapal besar Iran yang mampu menebar ranjau dengan cepat, Iran mulai menggunakan kapal kecil untuk operasi tersebut," kata seorang pejabat AS yang dikutip The New York Times pada Jumat 13 Maret 2026.
Pejabat AS mengatakan operasi penebaran ranjau tersebut kini dilakukan menggunakan kapal-kapal kecil yang dimiliki Korps Garda Revolusi Islam Iran.
IRGC diketahui memiliki ratusan kapal kecil yang selama ini sering digunakan untuk mendekati dan mengganggu kapal-kapal besar termasuk milik Angkatan Laut Amerika Serikat.
Meski demikian pejabat AS menilai metode tersebut berjalan lebih lambat dibandingkan penggunaan kapal besar.
Namun Iran disebut berupaya menempatkan ranjau lebih cepat daripada kemampuan pihak lain untuk membersihkannya.
Strategi tersebut diduga bertujuan untuk semakin menghalangi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur transit utama minyak dunia.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia dengan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam global biasanya melewati jalur tersebut setiap harinya.
Iran sebelumnya mengumumkan penutupan Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap negara tersebut pada 28 Februari 2026.
Penutupan tersebut telah mengganggu aktivitas pelayaran internasional dan memicu kenaikan harga minyak dunia hingga mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak saat itu beberapa kapal dilaporkan terkena serangan di kawasan tersebut, sebagian di antaranya diklaim sebagai operasi Iran terhadap kapal-kapal yang melintas tanpa izin.
Meski demikian Iran membantah tuduhan mereka menebar ranjau di Selat Hormuz.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi menolak klaim tersebut sebagai propaganda musuh.
Sementara itu pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei dalam pernyataan perdananya sejak konflik dimulai menegaskan, penutupan Selat Hormuz akan terus digunakan sebagai alat tekanan terhadap musuh Iran.
“Penutupan dilakukan untuk memblokir Selat Hormuz harus terus digunakan,” kata Mojtaba menegaskan sikap negaranya.
Di sisi lain militer Amerika Serikat dilaporkan telah menargetkan sedikitnya 16 kapal Iran yang diduga digunakan untuk operasi penebaran ranjau di sekitar selat tersebut.
Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika benar-benar menghalangi aliran minyak global melalui jalur tersebut.
Aktivitas ranjau laut di kawasan itu menjadi perhatian besar bagi militer dan badan intelijen AS, mengingat sekitar seperlima konsumsi minyak dunia serta perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz setiap harinya.
Para analis memperingatkan bahwa kerusakan infrastruktur energi dan penempatan ranjau di Selat Hormuz dapat memperpanjang gangguan pasokan minyak dunia dalam jangka waktu yang tidak menentu.
Harga minyak mentah Brent melonjak hingga mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022 akibat kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Goldman Sachs memperkirakan bahwa harga minyak Brent akan rata-rata di atas USD 100 per barel sepanjang Maret 2026 karena volatilitas akibat perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz.
Situasi ini semakin memperumit dinamika konflik yang telah memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda akan segera mereda dalam waktu dekat.
Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi yang berpotensi memicu krisis energi global yang lebih luas di masa mendatang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

