Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Pentolan Senator Amerika Sebut Donald Trump Pembohong soal Iran: Saya Akan Menuntut Penuh

 Trump dimarahi tokoh visual

Repelita Washington DC - Seorang senator senior Amerika Serikat melontarkan kritik tajam kepada Presiden Donald Trump terkait kebijakan perang melawan Iran.

Chuck Schumer mengecam keras tindakan Trump di balik serangan militer terhadap Iran yang dinilainya memicu perang besar.

Kritik itu disampaikan menyusul insiden pengeboman sekolah khusus perempuan di Minab, Iran yang menewaskan 170 orang pada 28 Februari 2026 lalu.

Schumer menyebut pengeboman itu tidak masuk akal jika dilakukan oleh Iran seperti yang dituduhkan Trump dalam berbagai pernyataannya.

Ia meragukan klaim Trump yang menyebut serangan tersebut menggunakan rudal Tomahawk yang notabene bukan milik Teheran.

"Lagi-lagi ia mengatakan apa pun yang muncul di kepalanya, tidak peduli apa kebenarannya, itu mengerikan," katanya.

Peristiwa ini menyebabkan banyak warga sipil tewas termasuk anak-anak yang sedang berada di dalam gedung sekolah.

Schumer meyakini bahwa Teheran tidak memiliki rudal Tomahawk seperti yang dituduhkan Donald Trump.

"Saya akan menuntut penuh dalam penyelidikan independen dan transparan untuk mengetahui apa yang terjadi di sekolah ini," tegasnya.

"Mengapa begitu banyak warga sipil tak berdosa yang dibunuh secara tragis perlu ada pertanggungjawaban," sambungnya dengan nada emosional.

Schumer juga menyoroti pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang menurutnya hanya menjadi boneka Trump.

Ia menilai Hegseth tidak memiliki pendirian dan hanya menjalankan apa pun yang diperintahkan oleh presiden.

Sementara itu 100 tentara Amerika dilaporkan terluka dalam serangan rudal dan drone yang dilancarkan Korps Garda Revolusi Islam ke pangkalan militer AS di Kuwait.

Pernyataan itu disampaikan IRGC usai melakukan serangan ke Pangkalan Udara Al-Udairi di Kuwait yang menjadi salah satu basis militer Amerika.

"Angkatan Laut IRGC melakukan operasi yang kuat dan menentukan terhadap sisa-sisa militer AS di wilayah tersebut selama Lailatul Qadr pada hari ke-21 bulan suci Ramadan," katanya dikutip dari TasnimNews pada Kamis, 12 Maret 2026.

Serangan itu sebagai bagian dari gelombang ke-38 operasi True Promise 4 dengan kode "Ya Haydar al-Karrar (AS)".

Menyusul dua serangan rudal serentak di pangkalan helikopter AS di Al-Udairi, IRGC mengklaim sebagian besar tentara Amerika mengalami cedera.

Lebih dari 100 tentara yang terluka dilarikan ke rumah sakit Al-Jaber dan Al-Mubarak di Kuwait untuk mendapatkan perawatan intensif.

IRGC juga menyebut infrastruktur penting di pangkalan AS di Pelabuhan Mina Salman, markas besar Armada Kelima AS, termasuk sistem LEADS yang vital, dihantam oleh rudal dan drone Iran.

"Secara bersamaan, sistem rudal Patriot, gudang peralatan, dan barak yang menampung pasukan Amerika di pangkalan angkatan laut Mohammad al-Ahmad dan Ali al-Salem juga mengalami kerusakan parah," demikian bunyi laporan tersebut.

IRGC menekankan bahwa perjuangan melawan pasukan Amerika dan rezim Zionis Israel akan terus berlanjut tanpa henti.

"Kami hanya menginginkan penyerahan total musuh. Perang akan berakhir ketika bayang-bayang perang terangkat dari bangsa kita," kata mereka.

Pemerintah Iran dikabarkan telah menolak mentah-mentah permintaan dari utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steven Witkoff.

Disitat dari kanal YouTube Kompas, ada dua pesan yang ditolak, salah satunya terkait genjatan senjata.

Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa pihaknya tidak mengakui klaim kemenangan sepihak yang digaungkan Washington.

Alih-alih menyetujui genjatan senjata, Teheran justru memberi sinyal untuk melanjutkan gempuran dan mempertahankan kendali di Selat Hormuz.

Republik Islam itu pun menegaskan konflik hanya akan berakhir melalui perjanjian perdamaian permanen dengan jaminan tak ada agresi baru terhadap Iran.

Perlawanan yang dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam juga masih berlangsung hingga saat ini.

Iran dilaporkan melancarkan serangan intens ke wilayah Israel dan aset Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim militernya menembakkan rudal terus-menerus selama lebih dari tiga jam.

Tak hanya itu, Teheran juga disebut mengerahkan Rudal Khaibar dalam jumlah terbesar yang pernah dilakukannya.

Militer Iran menegaskan tidak akan menghentikan serangan sampai ancaman benar-benar hilang dari kawasan.

Serangan ini dilaporkan menghantam sejumlah lokasi strategis termasuk pusat komunikasi dan aset militer Israel.

Selain itu, IRGC juga mengancam untuk memblokir Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel.

Presiden AS Donald Trump kembali sesumbar bahwa pihaknya bakal melancarkan serangan 20 kali lebih berat terhadap Iran jika rute strategis itu masih diblokade.

Namun IRGC membalas tekanan tersebut dengan ancaman untuk terus melakukan blokade sampai Amerika Serikat benar-benar menghentikan serangannya ke Teheran.

Blokade ini pun membuat ratusan kapal industri dan minyak terpaksa menunda pelayarannya di kawasan Teluk.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani juga telah menegaskan bahwa pihaknya tak akan kompromi dengan AS.

"Kami tidak akan bernegosiasi dengan AS," tegasnya.

Ali juga mengkritik pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang negaranya dengan nada keras.

Ia menyebut Trump khawatir dengan dampak kerugian dari tindakannya menyerang Teheran.

"Dia sekarang khawatir tentang kerugian lebih lanjut dari tentara Amerika. Dengan delusinya sendiri, dia telah mengubah slogan 'Amerika Pertama' menjadi 'Israel Pertama' dan mengorbankan pasukan Amerika untuk nafsu kekuasaan Israel," sindir Ali.

Sementara itu pejabat militer Iran mengatakan mereka akan terus menyerang aset AS di kawasan tersebut serta posisi Israel di wilayah pendudukan sampai musuh belajar dari kesalahannya.

"Kami telah memutuskan bahwa kami tidak akan mundur atau membiarkan Amerika Serikat pergi tanpa konsekuensi. Kami tidak akan menghentikan perang ini," kata Wakil Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Brigadir Jenderal Kiomars Heidari.

Menurutnya Iran akan terus melanjutkan perang hingga lautan dipenuhi peti mati perwira, bintara, dan tentara AS yang dikirim kembali ke Amerika Serikat.

“Bagi kami, tidak masalah berapa lama perang ini berlangsung. Kami sudah pernah mengalami perang delapan tahun sebelumnya. Kami akan mengakhiri perang ini hanya ketika kami telah mencapai tujuan kami dan memaksa musuh untuk menyesali tindakan memalukannya.”(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved