Repelita Jakarta - Mantan Hakim Mahkamah Konstitusi sekaligus Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia Jimly Asshiddiqie menilai konflik yang melibatkan Amerika Serikat Israel serta Iran berpotensi berlarut-larut karena didorong oleh berbagai kepentingan geopolitik dan isu sektarian di kawasan Timur Tengah.
Menurut Jimly perang antara AS-Israel melawan Iran kemungkinan akan berlangsung panjang dengan memanfaatkan narasi perpecahan antara Sunni dan Syiah yang dapat semakin memecah belah dunia Arab.
Perang AS-Israel vs Iran akan berlangsung lama dengan peralat isu Sunni vs Syiah memecah belah dunia Arab.
Dalam kondisi seperti itu Jimly memandang negara-negara Muslim besar yang bukan Arab memiliki tanggung jawab lebih besar untuk turut menjaga kerukunan serta stabilitas di kalangan umat Islam secara keseluruhan.
Ia menilai Indonesia bersama negara-negara Muslim berpengaruh lainnya seperti Pakistan dan Turki dapat memainkan peran aktif dalam mendorong proses mediasi yang konstruktif.
Sangat baik jika negara-negara besar Muslim non-Arab dapat bersama-sama aktif untuk kerukunan dunia Islam. Maka tepat jika ide mediasi oleh RI dilakukan bersama Pakistan dan Turki untuk mediasi Iran-Arab.
Namun Jimly menegaskan bahwa upaya mediasi sebaiknya difokuskan terlebih dahulu pada penyelesaian ketegangan internal di dunia Islam bukan langsung menangani konflik antara Iran dan Israel.
Pendekatan tersebut dianggap lebih realistis mengingat tingkat eskalasi konflik belakangan ini termasuk setelah terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran.
Mediasi sebaiknya dilakukan untuk internal dunia Islam bukan antara Iran vs Israel yang baru saja membunuh Ayatullah Khamenei.
Pernyataan tersebut disampaikan Jimly melalui akun X miliknya pada Jumat enam Maret dua ribu dua puluh enam.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

