Repelita Teheran - Di tengah peperangan yang telah memasuki pekan ketiga, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, melontarkan pesan yang menusuk sekaligus menyentil negara-negara Islam.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin, 16 Maret 2026, ia mempertanyakan solidaritas dunia Islam ketika Iran menjadi sasaran agresi tipu daya Amerika Serikat dan Israel.
"Kecuali beberapa tindakan politik yang jarang terjadi, tidak ada negara Islam yang mendukung Iran," ujar Larijani dalam pernyataannya yang dikutip oleh Kantor Berita Saba dan Observer BD.
Pernyataan ini muncul di saat eskalasi militer di kawasan mencapai titik kritis yang mengkhawatirkan.
Militer Israel mengklaim telah menyiapkan rencana operasional terperinci untuk melanjutkan perang setidaknya selama tiga pekan ke depan.
Mereka akan memburu ribuan target yang tersisa di Republik Islam Iran.
Larijani membuka pesannya dengan nada getir yang menusuk hati.
Ia menyebut bahwa Teheran menghadapi agresi yang penuh tipu daya justru terjadi di saat negosiasi sedang berlangsung dengan pihak Barat.
Agresi ini, kata Larijani, tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga menyebabkan gugurnya seorang pemimpin revolusioner senior, warga sipil, serta komandan militer.
Data di lapangan membenarkan besarnya skala serangan ini dari waktu ke waktu.
Mengutip laporan The Guardian, 15 Maret 2026, konflik ini telah menewaskan sedikitnya 826 orang di Lebanon saja.
Dari jumlah tersebut, 106 di antaranya adalah anak-anak yang tidak berdosa.
Sebanyak 65 perempuan turut menjadi korban dalam serangan tersebut.
Selain itu, 31 tenaga medis tewas ketika klinik di Burj Qalaouiya terkena serangan militer.
Di front Iran sendiri, serangan dilaporkan menghantam sebuah pabrik di Isfahan yang memproduksi pemanas ruangan dan lemari pendingin.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 15 pekerja sipil yang sedang bekerja.
"Para agresor menghadapi perlawanan nasional dan Islam yang kuat dari rakyat Iran," tegas Larijani.
Ia menambahkan bahwa Iran berhasil membuat musuh tidak mampu keluar dari kebuntuan strategis.
Puncak pernyataan Larijani adalah pertanyaan retoris yang ditujukan langsung kepada pemerintah negara-negara tetangga dan seluruh dunia Islam.
"Konfrontasi saat ini adalah antara Amerika dan Israel di satu sisi dan Iran serta pasukan perlawanan di sisi lain. Kalian berada di pihak mana?" dikutip dari Daily Observer.
Pertanyaan ini dilontarkan karena Iran mencium adanya sikap ambigu dari negara-negara Islam.
Beberapa negara tetangga justru mengklaim Iran sebagai musuh karena dinilai menargetkan pangkalan dan kepentingan AS-Israel di wilayah mereka.
"Apakah Iran diminta untuk berdiam diri sementara pangkalan-pangkalan Amerika di negara Anda digunakan untuk menyerangnya?" tanya Larijani, membalikkan logika tuduhan tersebut.
Ia menilai alasan yang dikemukakan negara tetangga tersebut sangat lemah.
Menurutnya, selama pangkalan AS di negara-negara Arab digunakan untuk melancarkan serangan ke Republik Islam, Teheran memiliki hak untuk merespons.
"Pikirkan masa depan dunia Islam. Anda tahu bahwa Amerika tidak setia dan Israel adalah musuh Anda. Berhentilah sejenak, renungkan, dan pertimbangkan masa depan kawasan ini," imbuhnya.
Ia mengingatkan bahwa Republik Islam tidak berusaha untuk mendominasi, melainkan memberi nasihat dengan tulus.
Seruan Larijani ini menyoroti apa yang ia sebut sebagai kontradiksi dengan sabda Nabi.
“Barang siapa mendengar seseorang berseru, ‘Wahai kaum Muslimin,’ dan tidak menjawab, maka ia bukanlah seorang Muslim.”
Ia mempertanyakan diamnya negara-negara Islam di tengah agresi yang menewaskan warga muslim.
Di Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, seruan ini mendapat resonansi yang kuat.
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, secara terbuka menegaskan bahwa Indonesia harus berpihak kepada negara yang menjadi korban serangan.
"Sebagai negara yang diserang dan teraniaya, Indonesia harus punya sikap. Logikanya kita harus berpihak kepada negara yang diserang," ujar JK dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu, 7 Maret 2026 lalu.
Senada dengan itu, organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, juga mengeluarkan kecaman keras.
Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A Mughni, menyatakan bahwa serangan AS-Israel ke Republik Islam merupakan pelanggaran HAM dan hukum internasional.
Mereka mendesak PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam untuk segera mengambil langkah konkret menghentikan kekerasan.
Dukungan diplomatik juga disuarakan oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerd, yang secara eksplisit meminta negara-negara Islam untuk tidak hanya diam.
Tiga harapan disampaikannya melalui forum diplomatik.
Pertama, mengecam serangan secara terbuka di berbagai forum internasional.
Kedua, menggunakan kapasitas di OKI dan PBB untuk mendukung Iran secara aktif.
Ketiga, meluncurkan kampanye kolektif menolak perang untuk mencegah eskalasi lebih luas.
Di luar retorika diplomatik, realitas militer menunjukkan gambaran yang kompleks.
Juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan rencana untuk tiga minggu ke depan.
Rencana itu bertujuan melemahkan kemampuan Republik Islam secara signifikan, termasuk infrastruktur rudal balistik, fasilitas nuklir, dan aparat keamanan.
"Kami ingin memastikan bahwa rezim ini selemah mungkin," tegas Shoshani.
Militer Israel bahkan mengklaim telah merusak lebih dari 1.700 aset industri militer Iran.
Mereka juga memperkirakan 4.000 hingga 5.000 tentara Iran tewas dalam serangan.
Namun di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengklaim mampu bertahan dengan baik.
Juru bicara Garda Revolusi, Ali Mohammad Naini, menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran mampu melanjutkan perang intensif setidaknya selama enam bulan dengan laju operasi saat ini.
Ia juga mengklaim telah menargetkan lebih dari 200 pangkalan dan fasilitas milik AS serta Israel di kawasan.
Klaim ini diperkuat pernyataan Ali Larijani bahwa serangan balasan Iran, yang dikenal dengan Operasi Janji Sadiq 4, telah menewaskan lebih dari 500 tentara Amerika.
Diplomasi pun menemui jalan buntu di tengah konflik.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran belum mengajukan gencatan senjata maupun bertukar pesan dengan Amerika Serikat.
Menariknya, di tengah persiapan perang yang masif ini, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar justru menyatakan sikap yang berbanding terbalik dengan fakta.
"Kami tidak menginginkan perang tanpa akhir," kata Saar di hadapan media.
Namun, pernyataan itu dibarengi dengan syarat tegas bahwa Israel ingin menghilangkan ancaman eksistensial dari Iran untuk jangka panjang.
Pesan Ali Larijani bukan sekadar seruan diplomatik biasa tanpa makna.
Ini adalah cerminan dari kekecewaan mendalam sekaligus ujian bagi solidaritas dunia Islam.
Di tengah Selat Hormuz yang memanas, jalur yang dilalui 20 persen minyak dunia, dan ancaman inflasi global, pilihan berada di pihak mana menjadi pertanyaan dengan konsekuensi yang sangat berat.
Sebagaimana disampaikan Larijani di akhir pesannya, persatuan umat Islam adalah satu-satunya jaminan untuk mencapai keamanan, kemajuan, dan kemerdekaan bagi seluruh negara di kawasan.
Namun, di tengah deru mesin perang dan ribuan korban yang berjatuhan, jalan menuju persatuan itu tampak semakin terjal dan berdarah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

