Repelita Washington - Sejumlah analis militer menilai serangan Iran kini jauh lebih akurat dan tepat sasaran meskipun Teheran tidak memiliki konstelasi satelit militer sendiri.
Menurut informasi yang beredar Iran diduga memanfaatkan data intelijen dari Rusia sebagai mata-mata langit untuk mengunci lokasi kapal perang pesawat tempur serta radar over-the-horizon milik Amerika Serikat.
Kombinasi tersebut dinilai sangat mematikan karena menyebabkan kerugian signifikan bagi pasukan Amerika Serikat maupun Israel dalam konflik yang sedang berlangsung.
Garda Revolusi Islam Iran dilaporkan berhasil menyerang markas serta stasiun CIA di Riyadh Arab Saudi hingga rata dengan tanah dan tidak dapat dipulihkan lagi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi dugaan bantuan intelijen Rusia tersebut dengan menyatakan bahwa hal itu tidak memberikan dampak berarti bagi Iran.
Jika benar itu tidak membantu jika melihat apa yang terjadi pada Iran dalam seminggu terakhir kalaupun mereka mendapat informasi itu tidak banyak membantu mereka kata Trump.
Trump juga menolak mengaitkan dugaan kerja sama Rusia-Iran dengan perubahan pandangannya terhadap hubungan Washington dan Moskow.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan dirinya tidak khawatir dengan kemungkinan bocornya informasi intelijen ke Teheran.
Meskipun enggan merinci laporan tersebut Hegseth menegaskan militer Amerika Serikat terus memantau setiap pola komunikasi antar negara lawan.
Intelijen Amerika Serikat diklaim telah memahami pola komunikasi berbagai pihak di dunia sehingga bantuan semacam itu tidak mengubah situasi secara signifikan.
Sekretaris Gedung Putih Karoline Leavitt menambahkan bahwa informasi yang diberikan Rusia tidak memberikan perbedaan berarti bagi operasi militer Iran.
Saat ini Amerika Serikat telah menghancurkan hampir tiga puluh kapal Iran sehingga angkatan laut mereka dianggap tidak efektif lagi dalam pertempuran.
Pengurangan sembilan puluh persen dalam serangan balasan rudal balistik terhadap Amerika Serikat negara-negara Teluk Arab serta mitra di kawasan tersebut juga menjadi bukti keberhasilan operasi kata Leavitt.
Laporan terbaru menunjukkan Rusia diduga berbagi data citra satelit untuk memetakan posisi kapal perang pesawat tempur serta aset militer Amerika Serikat di Teluk Persia.
Kerja sama intelijen ini diyakini semakin intens setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada akhir Februari 2026 yang menyebabkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Beberapa pejabat Amerika Serikat sebelumnya mengungkap bahwa Rusia telah menyediakan informasi intelijen terbaru sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026.
Pada akhir 2025 Israel mendakwa seorang warga Rusia yang diduga berperan sebagai mata-mata untuk Iran di tengah hubungan strategis Moskow-Teheran.
Meskipun demikian serangan Iran sejauh ini belum berhasil mengenai kapal perang Amerika Serikat manapun.
Korps Garda Revolusi Islam terus menggempur pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah sebagai respons atas serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

