Repelita Tel Aviv - Ironi pahit menimpa salah satu tokoh paling kontroversial dalam kabinet perang Israel ketika putra Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menjadi korban perlawanan dari kelompok yang selama ini ia ancam untuk dihancurkan.
Insiden tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran melawan koalisi Amerika Serikat serta Israel yang kini memasuki hari kesembilan sejak dimulainya serangan gabungan pada 28 Februari 2026.
Serangan gabungan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei beserta puluhan komandan militer serta penasihat senior lainnya sehingga memicu respons balasan besar-besaran dari Teheran melalui Operasi Janji Sejati 4.
Operasi tersebut menargetkan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat serta Israel di seluruh kawasan Teluk dengan dukungan dari Poros Perlawanan termasuk Hizbullah di Lebanon.
Pada malam 1 Maret 2026 Hizbullah meluncurkan rentetan roket serta drone presisi ke wilayah utara Israel sebagai balasan langsung atas pembunuhan Sayyid Khamenei.
Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menegaskan bahwa kelompoknya akan terus melanjutkan konfrontasi terbuka tanpa menyerah pada tekanan militer Israel.
Peristiwa yang menimpa putra Smotrich terjadi pada Jumat 6 Maret 2026 ketika delapan tentara IDF terluka akibat serangan roket Hizbullah di perbatasan utara Israel.
Lima di antara korban tersebut berada dalam kondisi serius setelah roket menghantam posisi unit elite Brigade Givati di dekat perbatasan Lebanon-Israel.
Kantor Menteri Keuangan Israel mengonfirmasi bahwa putra Bezalel Smotrich termasuk di antara yang terluka meskipun laporan awal menyebut kondisinya kritis dan berpotensi tidak selamat.
Namun informasi terbaru menyatakan kondisinya relatif ringan meskipun insiden ini membawa simbolisme kuat bagi Smotrich yang dikenal sebagai pengusung kebijakan garis keras.
Smotrich kerap menyuarakan kebencian terhadap warga Palestina serta Muslim dan mendorong perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat serta kebijakan agresif terhadap Iran.
Hanya sehari sebelum putranya terluka Smotrich mengeluarkan ancaman keras terhadap Lebanon melalui akun Telegramnya.
Dalam waktu dekat Dahiyeh pinggiran selatan Beirut akan terlihat seperti Khan Younis katanya merujuk pada kehancuran di Gaza selatan akibat perang.
Hezbollah telah membuat kesalahan dan akan membayar mahal kami sedang memukul kepala gurita di Iran dan pada saat yang sama kami akan memotong tentakel Hizbullah-nya tambahnya.
Ancaman tersebut disampaikan di tengah bombardir besar-besaran Israel terhadap Lebanon yang telah menewaskan sedikitnya dua ratus tujuh belas orang serta melukai ratusan lainnya.
Sekitar seratus ribu warga Lebanon terpaksa mengungsi ke tempat penampungan kolektif menyusul perintah evakuasi massal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Keterlibatan Hizbullah dalam konflik ini merupakan bagian dari komitmen ideologis serta militer yang erat dengan Iran sebagai ujung tombak perlawanan terhadap Israel di perbatasan utara.
Hizbullah menegaskan bahwa serangan mereka merupakan kewajiban suci atas pembunuhan Sayyid Khamenei dengan mengerahkan drone serta rudal presisi yang menembus sistem pertahanan udara Israel.
Kelompok tersebut juga melaporkan telah menyerang kompleks industri militer milik perusahaan Rafael di selatan Acre serta meluncurkan rentetan roket ke wilayah utara Israel.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak serangan balasan Teheran namun menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menyerah kepada Amerika Serikat serta Israel.

Korban jiwa terus bertambah dengan setidaknya seribu dua ratus tiga puluh orang di Iran lebih dari dua ratus orang di Lebanon serta sekitar selusin orang di Israel tewas sejak konflik dimulai.
Enam tentara Amerika Serikat juga dilaporkan gugur termasuk tiga personel yang tewas dalam serangan drone di Kuwait.
Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi mengecam keras serangan terhadap infrastruktur sipil termasuk pabrik desalinasi air di Pulau Qeshm yang berdampak pada tiga puluh desa.
Federasi Jurnalis Internasional melaporkan bahwa markas harian nasional Iran Sazandegi di Teheran hancur akibat serangan langsung.
Insiden yang menimpa putra Smotrich menjadi cerminan meluasnya perang ke berbagai front termasuk Lebanon di mana Poros Perlawanan menunjukkan komitmen untuk membela prinsip mereka dengan harga berapa pun.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

