Repelita Teheran - Ledakan dahsyat mengguncang kota pelabuhan Haifa Israel setelah rudal hipersonik Iran menghantam kilang minyak terbesar di Teluk Haifa sehingga langit malam berubah menjadi merah menyala dalam sekejap mata.
Rekaman yang tersebar luas menunjukkan kilatan cahaya terang membelah kegelapan diikuti bola api raksasa yang membubung tinggi dari fasilitas penyulingan milik Bazan Group sementara asap hitam pekat menyelimuti sebagian besar cakrawala kota.
Iran melaporkan penggunaan rudal hipersonik Fattah-2 untuk pertama kalinya dalam pertempuran nyata sebagai respons langsung terhadap serangan terhadap infrastruktur energi Teheran oleh pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Rudal Fattah-2 yang dikembangkan dari Fattah-1 dilengkapi kendaraan luncur hipersonik mampu mencapai kecepatan Mach lima belas dengan jangkauan seribu lima ratus kilometer sehingga seluruh wilayah Israel serta pangkalan Amerika Serikat di Teluk Persia berada dalam jangkauan.
Kemampuan manuver dinamis selama penerbangan membuat rudal ini sangat sulit dideteksi dan dicegat oleh sistem pertahanan udara berlapis Israel termasuk Iron Dome dan Arrow yang selama ini dianggap canggih.
Korps Garda Revolusi Islam melalui Sepah News pada Sabtu malam 7 Maret 2026 mengonfirmasi bahwa kilang minyak Haifa dihantam rudal Kheibar Shekan sebagai bagian dari gelombang ke-27 Operasi Janji Sejati 4 yang dimulai pada Jumat 6 Maret 2026.
Serangan tersebut menargetkan fasilitas yang memasok lima puluh hingga enam puluh persen kebutuhan bahan bakar domestik Israel sehingga memberikan pukulan berat terhadap pasokan energi negara tersebut.
Operasi ini juga melibatkan rudal balistik berat Khorramshahr-4 yang mampu membawa hulu ledak hingga dua ton dengan kecepatan melebihi Mach empat belas dan jangkauan dua ribu kilometer untuk menghancurkan target strategis.
Sejak awal Maret 2026 Iran secara konsisten menyasar kota-kota kunci Israel termasuk Tel Aviv Haifa dan Yerusalem timur serta bandara-bandara utama dengan serangan bersama Hizbullah yang pertama kali terjadi pada 2 Maret 2026.
Sirene bahaya berbunyi di berbagai wilayah termasuk Al-Quds sementara media Israel melaporkan kerusakan signifikan di Tel Aviv selatan Haifa dan Ashkelon akibat rentetan rudal yang diluncurkan.
Pada 1 Maret 2026 rekaman menunjukkan ledakan besar di area berpenduduk Haifa serta kehancuran bangunan di Ashkelon dan gedung bertingkat di utara wilayah tersebut.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Larijani pada Sabtu 7 Maret 2026 menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel berusaha memecah belah negaranya serta menyerukan Presiden Donald Trump untuk mengakui kesalahan karena tertipu oleh Israel.
Orang-orang Amerika meninggalkan bekas luka di hati rakyat kami kami tidak akan melepaskan mereka katanya dalam pernyataan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi dalam wawancara dengan Independent Arabia yang dipublikasikan pada Sabtu 7 Maret 2026 menyatakan komunikasi intensif dengan Menteri Luar Negeri Saudi yang menegaskan Riyadh tidak akan membiarkan wilayah ruang udara atau perairannya digunakan melawan Iran.
Serangan rudal hipersonik ke Haifa ini membuktikan bahwa teknologi rudal Iran telah mencapai level yang mampu melumpuhkan infrastruktur vital dalam waktu singkat dan mengatasi pertahanan tercanggih sekalipun sehingga mengubah dinamika konflik di kawasan secara dramatis.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

