Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Analis Ingatkan Konflik AS–Israel vs Iran Berpotensi Jadi 'Vietnam Kedua' di Tengah Ancaman Jebakan Eskalasi

 

Repelita Washington - Konflik gabungan Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang hingga kini belum mereda terus menjadi sorotan publik internasional.

Tak sedikit pihak yang angkat bicara terkait eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang semakin meluas dan sulit dikendalikan.

Bahkan sejumlah analisis militer menilai bahwa Amerika Serikat ceroboh saat memutuskan bersama Israel untuk membuka perang melawan Iran.

Sebab, negeri para Mullah tersebut bisa menjadi Vietnam kedua yang mempermalukan tentara Amerika Serikat di medan pertempuran.

Konfrontasi bersenjata antara koalisi AS-Israel melawan Iran kini memasuki fase yang sangat krusial dan berbahaya bagi stabilitas kawasan.

Meskipun Washington dan Yerusalem mencatatkan sejumlah keberhasilan taktis di lapangan, para analis militer mulai mencium aroma kegagalan strategis.

Kegagalan itu disebut serupa dengan pengalaman pahit yang pernah dialami Amerika Serikat di Vietnam puluhan tahun silam.

Iran nampaknya sengaja merancang konflik ini untuk menjadi rawa yang dalam, mahal dan melelahkan bagi militer Amerika Serikat.

Di atas kertas, serangan udara AS dan Israel terlihat sangat efektif dalam melumpuhkan target-target strategis di Iran.

Mereka berhasil melumpuhkan sejumlah tokoh kunci rezim Teheran termasuk Ayatollah Ali Khamenei dan menghancurkan fasilitas militer strategis.

Namun, kemenangan di permukaan ini justru menyembunyikan ancaman yang lebih besar yakni adanya jebakan eskalasi atau escalation trap.

Nah, disinilah Iran memainkan perannya mengubah perang ini menjadi Vietnam Kedua bagi Amerika Serikat dan sekutunya.

Robert Pape, sejarawan AS terkemuka yang ahli dalam keterbatasan kekuatan udara, memperingatkan bahwa keberhasilan awal dalam sebuah kampanye militer sering kali menyesatkan.

Menurutnya, serangan awal mungkin terlihat sempurna secara teknis namun gagal mencapai tujuan politik jangka panjang.

"Apa yang kita lihat pada serangan awal adalah kesuksesan taktis hampir 100 persen," ujar Robert Pape, dikutip dari The Guardian, Selasa 17 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa masalah besar muncul ketika keberhasilan itu tidak diikuti oleh kesuksesan strategis, yang akhirnya menyeret penyerang ke tahap berbahaya.

"Masalahnya adalah ketika hal itu tidak membawa kesuksesan strategis… Anda akan sampai pada tahap kedua dari jebakan tersebut. Penyerang masih memiliki dominasi eskalasi, sehingga ada upaya untuk melipatgandakan kekuatan, yang kemudian menaiki tangga eskalasi dan itu tetap tidak menghasilkan kesuksesan strategis," jelasnya.

"Kemudian Anda mencapai tahap ketiga, yang merupakan krisis nyata, di mana Anda mempertimbangkan opsi-opsi yang jauh lebih berisiko. Saya akan mengatakan kita berada di tahap kedua, dan di ambang tahap ketiga," sambung pakar militer tersebut.

Tahap ketiga yang dimaksud sering kali melibatkan pengiriman pasukan darat secara besar-besaran ke wilayah konflik.

Langkah invasi darat tersebut secara historis menjadi awal dari bencana militer AS di Asia Tenggara puluhan tahun silam.

Menghadapi kecanggihan teknologi militer Barat, Teheran tidak membalas dengan kekuatan yang setara di udara melainkan memilih strategi berbeda.

Sebaliknya, mereka menerapkan eskalasi horizontal, strategi ini bertujuan memperluas cakupan geografis konflik dan menyasar negara-negara Teluk.

Strategi itu juga meningkatkan biaya perang bagi Washington serta ekonomi global, khususnya melalui gangguan pasokan energi di Selat Hormuz.

Langkah ini dirancang untuk menciptakan tekanan internal bagi sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dengan menyerang fasilitas di negara-negara Teluk, Iran memaksa masyarakat setempat untuk mempertanyakan keberadaan militer Amerika di tanah mereka.

"Mereka memaksa publik di Teluk untuk bertanya: 'Mengapa kita harus membayar harga dari perang yang tampaknya didorong oleh kebijakan ekspansionis Israel?'" kata Pape menjelaskan dinamika psikologis di kawasan.

Strategi ini efektif menciptakan keretakan antara pemerintah negara-negara Arab dengan rakyatnya sendiri yang merasa terancam oleh konflik.

Di sisi lain, kebijakan luar negeri AS di bawah Donald Trump dianggap terlalu dipengaruhi oleh ilusi kontrol dalam membaca situasi.

Robert Malley, mantan utusan Amerika Serikat untuk Iran, mencatat bahwa Trump cenderung merasa nyaman berada di tangga eskalasi.

Kondisi itu justru merupakan medan permainan yang diinginkan oleh Teheran untuk menjebak pasukan Amerika dalam perang berkepanjangan.

"Pada suatu saat, saya berasumsi akan ada jalur keluar, tetapi saya bisa membayangkan eskalasi mencapai tingkat yang benar-benar tidak akan kita duga bahkan sebulan yang lalu… pasukan di darat, mengincar infrastruktur dasar, mengambil alih bagian dari Iran, bekerja dengan kelompok etnis Kurdi atau kelompok etnis lainnya. Semua itu bersifat eskalatif dengan cara yang berbeda," ungkap Robert Malley.

Kekhawatiran terbesar para analis adalah lereng licin inkrementalisme atau slippery slope of incrementalism yang sulit dihindari.

Ini adalah kondisi di mana keterlibatan militer AS bertambah sedikit demi sedikit hingga akhirnya mereka terjebak dalam perang besar yang tidak bisa dimenangkan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved