
Repelita Jakarta - Jurnalis senior Zakki Amali mengungkap secara rinci seluk-beluk pendanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang gencar dipromosikan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dia membeberkan perbedaan mencolok antara nasib guru honorer dengan aliran dana ke yayasan pengelola dapur MBG yang dinilainya sebagai bentuk pemborosan uang negara.
Menurut Zakki, guru honorer harus bertahan dengan gaji pas-pasan yang seringkali hanya berkisar ratusan ribu hingga 2 juta rupiah per bulan meski sudah mengabdi belasan tahun.
Di sisi lain, mekanisme terbaru justru memberikan kemudahan luar biasa kepada yayasan pengelola program MBG.
"Tidak habis pikir. Petunjuk teknis terbaru menunjukkan Yayasan pengelola MBG dapat insentif Rp6 juta per hari selama 313 hari," ungkap Zakki pada Selasa (17/2/2026).
Yang lebih menarik, insentif senilai itu tetap dibayar penuh meskipun pada hari libur ketika dapur tidak beroperasi.
"Libur pun masih dapat. Insentif itu tanpa kena pajak. Rp6 juta dikali 313 hari sama dengan Rp1,87 miliar per SPPG," bebernya merinci angka yang mengalir ke setiap Sentra Pengolahan dan Pendistribusian Makanan.
Perhitungan itu menjadi semakin mencemaskan ketika dikaitkan dengan jumlah SPPG yang dikelola oleh institusi Polri.
Zakki kemudian menyodorkan angka yang mencengangkan terkait potensi dana yang mengalir ke aparat.
"Bayangin Polri kelola 1.179 SPPG, per hari dapat insentif Rp7,07 M dan setahun jadi Rp2,21 Triliun," katanya memperlihatkan besaran nominalnya.
Itu belum termasuk TNI yang mendapat alokasi pembangunan hingga 2.000 SPPG di seluruh Indonesia.
Saat ini, sebanyak 452 SPPG yang berada di bawah naungan TNI sudah beroperasi dan jumlahnya dipastikan akan terus bertambah.
"Itu pun belum yayasan lain di bawah TNI. Udahlah bubar aja negara ini," cetus Zakki dengan nada kesal menyikapi temuan tersebut.
Zakki juga menjelaskan adanya perubahan fundamental dalam mekanisme pembayaran insentif program MBG.
Pada tahun 2025, insentif dihitung berdasarkan porsi makanan yang benar-benar berhasil disalurkan atau dikenal dengan skema output based.
Namun kini skemanya berubah total menjadi availability based di mana insentif Rp6 juta per hari mengalir hanya dengan status siap sedia.
Artinya, dana tersebut tetap cair meskipun dapur MBG belum beroperasi atau belum menyalurkan makanan sama sekali.
"Jelas-jelas enak donk yang penyaluran porsinya sedikit bahkan belum kerja sudah dapat Rp6 juta per hari. Cukup duduk manis dukung rejim," sindirnya tajam.
Ia menegaskan bahwa program ini terlihat seperti celah yang sengaja diciptakan untuk menggerogoti keuangan negara.
"Memang MBG ini dibikin buat mengeruk duit negara," tegasnya tanpa ragu.
Menurut Zakki, perbedaan perlakuan antara elite dan rakyat kecil sangat nyata dan terlihat jelas dalam kebijakan ini.
"Kepada elite mereka royal dan disebutkan sebagai insentif, sementara bantuan ke rakyat disebut subsidi dan dianggap beban," pungkasnya menyoroti pemilihan diksi yang digunakan pemerintah dalam mengategorikan berbagai bentuk bantuan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

