Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Said Didu: Prabowo Sebut Nama Perampok Negara, Sama dengan yang Selama Ini Saya Gaungkan

 Said Didu (Tangkap layar YouTube Kompas TV)

Repelita Jakarta - Mantan Sekretaris Kementerian BUMN periode 2005 hingga 2010 Said Didu mengungkapkan bahwa nama-nama yang disebut Presiden Prabowo Subianto dalam pembahasan soal oligarki tidak jauh berbeda dengan yang selama ini ia gaungkan ke publik.

Pernyataan itu disampaikan Said Didu usai pertemuannya dengan Presiden dalam acara ROSI beberapa waktu lalu.

Ia mengaku sengaja menghilang hampir sepuluh hari setelah pertemuan tersebut untuk melihat respons publik terhadap dialog yang terjadi.

"Saya memang biasa menunggu reaksi publik atas sebuah pertemuan seperti ini. Jadi saya biarkan hampir 10 hari saya menghilang. Memang pulang kampung," ujarnya.

Said Didu menegaskan dirinya tidak akan berhenti bersuara kritis meski sudah bertemu langsung dengan kepala negara.

"Saya tidak punya bakat diam kalau melihat sesuatu. Saya pasti akan teriak. Setelah itu pun saya masih teriak soal bagaimana tanah transmigrasi diambil. Saya tidak akan diam," tegasnya.

Ia mengaku sebelum dialog ada sejumlah pertanyaan besar di kepalanya termasuk soal komitmen Prabowo terhadap pemberantasan korupsi dan oligarki.

"Apakah Prabowo ini masih bisa diharapkan untuk memberantas korupsi dan mengambil kembali kedaulatan dari oligarki Itu yang ada di kepala saya. Dan malam itu terjawab. Terjawab semua," katanya.

Dalam pertemuan tersebut Said Didu mengaku menyampaikan kritik keras secara terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto.

"Saya bilang Bapak sudah sampai di titik to kill or to be killed. Bapak membunuh atau dibunuh. Saya juga menyampaikan waktu Bapak tidak lama. Dan saya menganggap Bapak masih lambat dalam mengambil langkah. Saya agak keras saat itu," ujarnya.

Menurut Said Didu Presiden merespons dengan penjelasan panjang termasuk memaparkan data dugaan praktik perampokan negara.

"Dalam presentasi itu beliau menyebutkan nama-nama. Disebutkan inilah perampok negara. Rampoknya sekian. Caranya menyimpannya begini," ungkapnya.

"Bahkan beliau menyatakan hanya dari praktik under invoice saja nilainya 1,2 triliun dolar selama 30 tahun," lanjut Said Didu.

Ia menegaskan Presiden secara langsung menyebut pihak-pihak yang diduga terlibat dalam praktik tersebut.

"Beliau bilang ini harus kita beri pelajaran. Ini tidak bisa dibiarkan. Harus dihentikan. Artinya saya masih percaya bahwa beliau tidak sekadar omon-omon," kata Said Didu.

Hal yang menurut Said Didu paling menarik adalah kesamaan nama-nama yang disebut Presiden dengan yang selama ini ia sampaikan secara terbuka.

"Nama-nama yang disebutkan itu tidak jauh berbeda dengan nama-nama yang sering saya sebutkan secara terbuka. Jadi ya itu nama-namanya," pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved