
Repelita Jakarta - Visi ekonomi Presiden Prabowo Subianto menuai pertanyaan tajam di tengah menguatnya tekanan global terhadap perekonomian Indonesia belakangan ini.
Isu tersebut mencuat dalam diskusi bertajuk Quo Vadis Pembangunan Ekonomi Nasional Indonesia yang diselenggarakan Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju di Universitas Paramadina Cipayung Jakarta Timur pada Rabu 25 Februari 2026.
Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju Prof Din Syamsudin menilai situasi ekonomi nasional sedang menghadapi tantangan berat akibat dinamika geopolitik termasuk dampak perjanjian perdagangan timbal balik antara Indonesia dan Amerika Serikat.
"Dari sekian faktor ada faktor eksternal dan gap ekonomi kita tapi masalah kita lebih kepada visi dan manajemen" ujar Prof Din.
Menurutnya posisi ekonomi Indonesia berpotensi mengalami turbulensi atau stagnasi sehingga menjadi tantangan serius yang harus dijawab oleh Presiden Prabowo Subianto beserta seluruh jajaran pemerintah.
"Saya tidak tahu presiden kita visi ekonominya apa walaupun saya waktu itu diundang ke Hambalang ketika tadi mulai cari solusi strategi pembangunan ekonomi ini yang dibutuhkan Indonesia" tuturnya.
Prof Din menekankan bahwa salah satu sektor strategis yang perlu mendapat perhatian serius adalah pengelolaan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia.
Ia mengusulkan agar pemerintah tidak menyerahkan pengelolaan sumber daya alam sepenuhnya kepada mekanisme pasar bebas melainkan mengembangkan pendayagunaan yang lebih berdaulat dan menguntungkan rakyat.
"Pikiran sederhana saya kenapa tidak mengembangkan selain pendayagunaan sumber daya alam yang kaya raya itu tapi tidak dengan menyerahkannya kepada pasar bebas" demikian saran Prof Din.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

