
Repelita Jakarta - Situasi di Teluk Persia dilaporkan semakin mendidih dengan narasi bahwa armada angkatan laut Iran sedang mengepung kapal-kapal tempur Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Ketegangan antara Teheran dan Washington terus meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
Iran baru saja memamerkan jaringan terowongan rudal bawah laut yang menyimpan ratusan rudal jelajah jarak jauh dengan kemampuan menjangkau lebih dari seribu kilometer.
Pengungkapan ini disampaikan langsung oleh Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Laksamana Alireza Tangsiri dalam rekaman yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
Tangsiri menjelaskan bahwa jaringan terowongan rudal bawah laut tersebut dibangun dalam skala besar khusus untuk menghadapi kapal perang Amerika yang beroperasi di Teluk Persia dan Laut Oman.
Menurutnya ratusan rudal jelajah dengan jangkauan lebih dari seribu kilometer disimpan di dalam terowongan-terowongan tersebut sebagai persiapan menghadapi ancaman.
Ia juga memperkenalkan rudal Qadir 380L buatan dalam negeri yang dilengkapi sistem pemandu cerdas dan menegaskan kesiapan penuh pasukan Iran menghadapi ancaman di wilayah mana pun.
Narasi pengepungan terhadap armada Amerika merujuk pada respons defensif agresif Iran terhadap kehadiran gugus tempur USS Abraham Lincoln yang dikerahkan Presiden Donald Trump.
Angkatan Laut IRGC menggelar latihan militer tembakan langsung di Selat Hormuz pada tanggal satu hingga dua Februari dua ribu dua puluh enam sebagai unjuk kekuatan.
Aktivitas latihan ini dianggap sebagai upaya membatasi ruang gerak armada Amerika di jalur perdagangan minyak yang sangat strategis tersebut.
Iran juga menyiapkan skenario taktik kerumunan dengan mengerahkan puluhan perahu cepat bersenjata rudal dan torpedo untuk mengepung kapal perang besar musuh.
Taktik swarm tersebut dirancang untuk membingungkan radar serta sistem pertahanan kapal induk Amerika di perairan sempit.
Saat ini setidaknya sepuluh kapal perang Amerika Serikat berada di kawasan tersebut untuk memberikan tekanan militer maksimal.
Amerika juga mengerahkan jet tempur elektronik EA-18G Growler ke Yordania guna memperkuat dominasi udara dan perlindungan terhadap serangan rudal Iran.
Panglima Angkatan Darat Iran Jenderal Amir Hatami menyatakan pasukannya berada dalam kewaspadaan tinggi dan siap membalas setiap agresi atau kesalahan dari pihak Amerika.
Meskipun kedua belah pihak dalam posisi siaga tempur terdapat sinyal diplomatik yang masih membuka peluang negosiasi untuk mencegah konflik terbuka.
Jenderal Abolfazl Shekarchi Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran mengeluarkan ancaman keras pada tanggal dua puluh satu Januari dua ribu dua puluh enam.
Shekarchi mengatakan bahwa jika ada agresi terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei maka Iran tidak hanya akan membalas langsung tetapi juga akan membakar dunia mereka.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei menegaskan bahwa pihaknya tidak gentar menghadapi ancaman Amerika Serikat maupun Israel.
Ia bersumpah akan menghancurkan kedua negara tersebut jika perang benar-benar terjadi dan memerintahkan pasukan membalas tanpa ampun.
Khamenei membantah tuduhan bahwa dirinya bersembunyi di bunker dan menegaskan Iran siap menghadapi serangan dari pihak mana pun.
Pada tanggal dua puluh lima Januari spanduk besar digantung di pusat Teheran yang menggambarkan kapal induk Amerika dibombardir jet tempur Iran.
Gambar tersebut menampilkan buih laut bercampur darah menyerupai bendera Amerika disertai tulisan jika menabur angin maka akan menuai badai.
Iran terus memperkuat kemampuan militernya dengan menerima seribu pesawat tak berawak baru pada tanggal dua puluh sembilan Januari dua ribu dua puluh enam.
Drone-drone tersebut memiliki kemampuan pengintaian jarak jauh serta melemahkan serangan musuh dan menjadi tulang punggung pertahanan udara Teheran.
Pengiriman ribuan pesawat tak berawak ini dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan sekutunya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

