Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Kritik Keras Tiyo Ardianto dari BEM UGM Universitas Gadjah Mada: MBG Dinilai Menggerus Anggaran Pendidikan Rp223 Triliun

 

Repelita Yogyakarta - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto mengalami rentetan teror setelah secara terbuka mengkritik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu kebijakan utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Teror dimulai dengan kedatangan pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp dari nomor asing yang terdeteksi berasal dari Inggris Raya di mana pengirim menuding Tiyo sebagai agen asing disertai ancaman penculikan.

Pesan tersebut berisi kalimat Hai agen asing jangan macam-macam cari nama dengan narasi sampah beserta intimidasi lainnya yang membuatnya merasa terancam.

Pada Kamis 12 Februari 2026 Tiyo melaporkan bahwa ia sempat diikuti oleh dua orang tidak dikenal ketika berada di sebuah kedai makan.

Ia juga mencatat adanya penguntitan serta pemotretan oleh dua pria berpostur tegap yang terjadi antara tanggal 9 hingga 11 Februari 2026.

Teror tersebut muncul menyusul pernyataan vokal Tiyo terkait kasus bunuh diri seorang anak di Nusa Tenggara Timur serta kritik tajam terhadap program Makan Bergizi Gratis.

Tidak hanya dirinya yang menjadi sasaran tetapi ibunya juga ikut mengalami gangguan serupa.

Tiyo mengaku difitnah dengan berbagai tuduhan termasuk perbuatan asusila hingga dugaan korupsi dana kemahasiswaan.

Teror terbaru yang beredar dikaitkan dengan isu lesbian gay biseksual dan transgender yang ditujukan untuk mendiskreditkannya.

“Rezim hari ini memang kita kenal sebagai rezim yang pengecut sejak awal bahkan sebelum rezim ini berdiri kita lihat bahwa untuk menang saja mereka harus mengakali konstitusi itu adalah pengecut pertama dari rezim Prabowo-Gibran” ujar Tiyo Ardianto seperti dikutip dari YouTube Kaukus Indonesia Kebebasan Akademik pada Kamis 18 Februari 2026.

Menurutnya sikap pengecut itu terus berlanjut terhadap siapa pun yang menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

“Apabila pemimpin ini punya sikap kesatria dan negarawan terhadap seluruh kritik apa pun diksi dan ekspresinya bisa terbuka sejatinya yang mengkritik motivasinya hanya satu yakni kepedulian pada bangsa agar tidak hancur oleh tata kelola” tambahnya.

Tiyo menjelaskan bahwa surat terbuka yang dikirimkan BEM UGM kepada United Nations Children’s Fund merupakan wujud kritik terhadap prioritas kebijakan yang dianggap menyimpang dalam program Makan Bergizi Gratis.

Ia menilai program tersebut tidak benar-benar bergizi dan tidak sepenuhnya gratis bahkan berpotensi menjadi sarana korupsi.

“BEM UGM menyampaikan surat kepada UNICEF sebagai bagian dari kritik karena prioritas yang luar biasa keliru ketika masalah kebangsaan kita adalah kebodohan dan minimnya akses pendidikan justru solusinya direduksi dengan MBG” katanya.

Kritik dari BEM UGM semakin menguat setelah terjadi tragedi bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur yang diduga disebabkan ketidakmampuan membeli pulpen dan buku sekolah dengan harga di bawah sepuluh ribu rupiah.

“Luar biasa kontras dan tragis saat pemerintah menggelontorkan dana besar untuk MBG hingga Rp1,2 triliun per hari dengan dugaan pengurangan anggaran pendidikan Rp223 triliun dan pada saat yang sama juga menyumbang BOP Rp167 triliun yang dinilai tidak mungkin memerdekakan Palestina” pungkas Tiyo.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved