Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Indeks Opini Arab 2025: Penolakan Normalisasi dengan Israel Capai Titik Tertinggi, Citra AS Anjlok Tajam

 

Repelita Jakarta - Pusat Penelitian dan Studi Kebijakan Arab merilis hasil Indeks Opini Arab tahun 2025 pada hari Kamis berdasarkan wawancara tatap muka dengan lebih dari empat puluh ribu responden di lima belas negara Arab.

Survei terbesar di kawasan ini menunjukkan opini publik Arab terhadap Palestina Israel serta Amerika Serikat tetap kokoh tanpa perubahan signifikan meskipun ada perjanjian normalisasi dan berbagai upaya diplomatik.

Survei edisi kesembilan tersebut dilaksanakan antara November dua ribu dua puluh empat hingga Agustus dua ribu dua puluh lima dengan margin kesalahan keseluruhan antara dua hingga tiga persen.

Mayoritas warga Arab memandang perjuangan Palestina sebagai isu bersama seluruh bangsa Arab.

Delapan puluh tujuh persen responden menolak pengakuan negara mereka terhadap Israel sementara hanya enam persen yang mendukung dan separuh dari kelompok kecil itu mensyaratkan pembentukan negara Palestina merdeka terlebih dahulu.

Angka penolakan ini menjadi yang tertinggi sejak survei tahun dua ribu sembilan belas hingga dua ribu dua puluh.

Libya mencatat penolakan tertinggi mencapai sembilan puluh enam persen diikuti Yordania serta Mauritania masing-masing sembilan puluh lima persen dan Kuwait sembilan puluh empat persen.

Di negara-negara yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel justru terjadi peningkatan penolakan publik dibandingkan sebelumnya.

Di Maroko dukungan pengakuan Israel merosot tajam dari dua puluh persen pada dua ribu dua puluh dua hingga dua puluh tiga menjadi hanya enam persen.

Di Sudan angka dukungan turun menjadi tujuh persen setelah sebelumnya berfluktuasi antara tiga belas hingga dua puluh tiga persen.

Alasan penolakan mayoritas bersifat politik bukan agama dengan tiga puluh satu koma lima persen menyebut Israel sebagai negara kolonial pemukim yang menduduki Palestina.

Tiga belas koma tiga persen menyoroti ambisi ekspansi Israel sementara sembilan koma satu persen menekankan penindasan berkelanjutan terhadap rakyat Palestina.

Motivasi keagamaan hanya menyumbang dua koma tiga persen turun signifikan dari hampir tujuh persen pada survei sebelumnya.

Perang di Gaza dan Lebanon memberikan dampak psikologis mendalam dengan delapan puluh tujuh persen responden melaporkan stres akibat konflik tersebut.

Tujuh puluh persen responden mengikuti perkembangan perang secara aktif terutama melalui televisi satelit lima puluh tujuh persen dan internet tiga puluh lima persen.

Afrika Selatan mendapat penilaian paling positif sebagai aktor internasional dengan lima belas persen responden menyebutnya sebagai negara paling mendukung Palestina.

Delapan puluh tiga persen responden menyatakan kasus Afrika Selatan di Mahkamah Internasional melawan Israel meningkatkan semangat mereka.

Spanyol dan Iran masing-masing mendapat tujuh persen dalam penilaian serupa.

Dalam evaluasi kebijakan internasional terhadap Palestina Afrika Selatan menduduki peringkat teratas dengan enam puluh dua persen penilaian positif diikuti Turki empat puluh sembilan persen dan Iran empat puluh lima persen.

Spanyol menjadi negara Barat paling positif dengan empat puluh tiga persen.

Kebijakan Amerika Serikat terhadap Palestina dinilai negatif oleh tujuh puluh enam persen responden menjadi peringkat terburuk di antara negara-negara yang disurvei.

Inggris enam puluh persen Prancis lima puluh delapan persen serta Jerman lima puluh lima persen juga mendapat penilaian buruk.

Warga di kawasan Levant Irak Yordania Lebanon Palestina serta Suriah memiliki pandangan paling negatif terhadap kebijakan Amerika Serikat.

Indeks Opini Arab dua ribu dua puluh lima mencatat penurunan citra Amerika Serikat secara signifikan dibandingkan survei terakhir tahun dua ribu empat belas.

Lima puluh enam persen responden memiliki perasaan negatif terhadap Amerika Serikat naik dari lima puluh persen satu dekade lalu.

Lima puluh empat persen mengaitkan sikap negatif tersebut dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat bukan nilai atau budaya Amerika.

Penurunan ini juga terlihat pada preferensi praktis seperti pariwisata studi universitas perawatan medis serta pembelian produk Amerika yang semuanya turun antara lima belas hingga dua puluh poin.

Persepsi terhadap masyarakat Amerika juga menurun pada hampir semua karakteristik termasuk demokrasi kebebasan pribadi toleransi serta penghormatan terhadap minoritas.

Hanya kemajuan teknologi yang masih mendapat skor tinggi meskipun sedikit turun.

Empat puluh empat persen responden menyatakan perubahan kebijakan Amerika Serikat terhadap Palestina dapat memperbaiki pandangan mereka terhadap Washington.

Tuntutan utama meliputi penghentian dukungan militer untuk Israel serta perlindungan rakyat Palestina dan penyelesaian adil bagi isu Palestina.

Tiga perempat responden setuju bahwa kebijakan Amerika Serikat mengancam stabilitas kawasan Arab.

Mayoritas memandang Washington berupaya mendominasi negara-negara Arab memaksakan kebijakan memperburuk perpecahan serta mendukung rezim tidak demokratis.

Indeks Opini Arab dua ribu dua puluh lima menyimpulkan bahwa sikap publik Arab terhadap Palestina semakin mengeras sementara penolakan terhadap normalisasi dengan Israel mencapai titik tertinggi.

Perang di Gaza memperdalam ketidakpercayaan terhadap Amerika Serikat yang kini meluas hingga persepsi budaya dan masyarakatnya.

Pesan bagi pembuat kebijakan adalah bahwa kesepakatan diplomatik yang mengabaikan opini publik hanya menghasilkan perjanjian di atas kertas tanpa legitimasi sejati.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved