
Repelita Jakarta - Dokter Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa kembali mengomentari kontroversi foto Kuliah Kerja Nyata yang dikaitkan dengan masa muda mantan Presiden Joko Widodo.
Ia membuka pernyataannya dengan menyebut momentum 1 Ramadhan 1447 H yang jatuh pada Rabu 18 Februari 2026 berdasarkan perhitungan matematis.
Sebagai alumni Muhammadiyah, Dokter Tifa menegaskan bahwa ia menjalankan ibadah puasa dan menyatakan keyakinannya pada metode hisab untuk penentuan tanggal.
Latar belakangnya sebagai epidemiolog yang akrab dengan pendekatan matematika membuatnya semakin tertarik pada teknologi digital terkini.
Dokter Tifa kemudian menyoroti sebuah foto lama yang dinilainya buram dan telah disalahgunakan dalam konteks pembuktian riwayat pendidikan Jokowi.
Ia merujuk pada presentasi Bareskrim Polri tanggal 22 Mei 2025 yang menampilkan foto tersebut sebagai salah satu dari 709 dokumen pendukung keaslian pendidikan Jokowi.
Menurutnya Dirtipidum saat itu Djuhandani menyebut foto itu sebagai dokumentasi KKN Jokowi di Desa Ketoyan Wonosegoro Boyolali tahun 1983.
Dokter Tifa menegaskan bahwa teknologi saat ini mampu memperjelas foto buram sehingga detail yang sebelumnya tidak terlihat menjadi tampak jelas.
Setelah proses peningkatan resolusi terlihat bahwa lokasi KKN yang ditunjukkan adalah Desa Gosono bukan Desa Ketoyan seperti yang diklaim.
Ia mengamati bahwa wajah-wajah mahasiswa Universitas Gadjah Mada dalam foto tersebut berusia sekitar 22-24 tahun dengan ekspresi cerah dan cerdas.
Dokter Tifa menyatakan bahwa tidak ada satupun sosok dalam foto yang menunjukkan ciri-ciri fisik Joko Widodo baik dengan kacamata berkumis maupun tanpa kacamata tanpa kumis.
"Jelas di foto ini, tak ada sedikitpun ada tanda-tanda Jokowi berada di foto itu. Baik Jokowi yang berkacamata berkumis berhidung mancung bergigi rapi, maupun Jokowi yang tidak berkacamata, tidak berkumis, hidung tepes, rambut tipis, bergigi berantakan, yang kita kenal sebagai Presiden ke-7," klaimnya.
Ia mengkritik keras proses verifikasi yang dilakukan Bareskrim Polri yang dinilainya penuh kekurangan dan kecerobohan.
Dokter Tifa menilai bahwa menerima informasi nama desa dan tahun KKN tanpa investigasi mendalam merupakan bentuk keteledoran yang serius.
Ia mempertanyakan bagaimana foto yang dianggap ngasal dapat ditelan mentah-mentah tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Menurutnya hal tersebut mencerminkan kebutuhan reformasi fundamental dan menyeluruh di tubuh Kepolisian Republik Indonesia.
Dokter Tifa juga menyiratkan adanya upaya membungkam pihak-pihak yang mempertanyakan dengan memaksakan narasi tertentu menjadi fakta.
Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia Dian Sandi Utama kemudian memberikan tanggapan melalui platform X.
Dian Sandi menyatakan bahwa peningkatan resolusi justru menunjukkan perubahan visual yang signifikan pada beberapa individu dalam foto.
"3 orang dalam photo ini awalnya berkaca mata setelah diperjelas atau ditingkatkan resolusinya jadi tidak berkacamata," ucap Dian di X.
"Satu orang lagi tadinya tidak pakai kaca mata malah jadi pakai kaca mata. Gimana tuh Dok?," tambahnya.
Ia mengklaim memiliki file foto beresolusi tinggi karena merupakan pihak pertama yang mengunggahnya dan menyatakan masih menyimpan dua foto tambahan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

