
Repelita Jakarta - Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI Bun Joi Phiau menanggapi candaan Gubernur Jakarta Pramono Anung yang menyindir Jusuf Kalla lebih memilih menggunakan pikiran daripada turun ke gorong-gorong.
Bun Joi menegaskan bahwa turun langsung ke lapangan tetap penting khususnya di musim hujan ketika saluran air selokan gorong-gorong serta sungai menjadi faktor utama penyebab atau pencegah banjir di ibu kota.
Melihat langsung situasi di lapangan itu penting terutama di musim penghujan di Jakarta di mana saluran air selokan gorong-gorong dan sungai sangat menentukan bagaimana banjir bisa terjadi atau dicegah katanya dikutip Senin 16 Februari 2026.
Ia mengingatkan aksi Joko Widodo saat menjabat Gubernur DKI Jakarta yang sengaja masuk ke gorong-gorong bukan sekadar gaya-gayaan melainkan untuk memahami kondisi riil serta mendengar keluhan warga secara langsung.
Banyak pemimpin termasuk Joko Widodo ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta turun langsung ke selokan atau gorong-gorong untuk memahami kondisi teknis dan mendengar langsung keluhan warga Ini tidak hanya simbolik tetapi sering memberikan insight nyata tentang masalah yang dihadapi tutur Bun Joi.
Bun Joi juga menghubungkan hal itu dengan pesan Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya aksi lapangan dalam kepemimpinan.
Relevan sebagai konteks kebiasaan kepemimpinan sebelumnya Jadi kepemimpinan yang efektif idealnya menggabungkan kerja berpikir strategis kebijakan dengan kepekaan terhadap realitas di lapangan jelasnya.
Meski demikian ia memandang ucapan Pramono Anung hanyalah gurauan ringan untuk mencairkan suasana tanpa maksud menolak kerja bakti atau sindiran tajam terhadap gaya kepemimpinan lain.
Ucapan tersebut jelas bersifat jenaka dan situasional bukan sebuah sikap resmi bahwa pemimpin harus tidak turun ke lapangan Pramono sendiri menyampaikan bahwa kalau sesekali ia masuk gorong-gorong pun ia siap tetapi itu mungkin akan mengejutkan media dan publik kata Bun Joi.
Ia menambahkan pernyataan itu disampaikan sambil tertawa sehingga lebih tepat dipahami sebagai lelucon situasional bukan kritik serius.
Karena disampaikan sambil tertawa dan tanpa konteks penolakan terhadap kerja bakti itu sendiri lebih rasional menafsirkannya sebagai gurauan ringan bukan sindiran tajam terhadap siapa pun atau terhadap gaya kepemimpinan lain sambungnya.
Sebelumnya Pramono Anung melontarkan candaan kepada Jusuf Kalla saat kegiatan kerja bakti massal Jaga Jakarta Bersih di Pintu Air Cipinang Melayu Jakarta Timur pada Minggu 8 Februari 2026.
Tadi saya sambil bercanda sama Pak JK Pak JK kita ini dibesarkan dalam teknokrasi Pasti Pak JK sama saya nggak mau masuk gorong-gorong tapi yang bekerja adalah pikiran dan otaknya Pak JK ketawa ucap Pramono.
Pramono menyatakan siap turun ke gorong-gorong jika diperlukan meski hal itu akan membuat media dan publik terkejut.
Sekali-sekali Gubernur masuk gorong-gorong saya mau aja Pak Tapi nanti wartawan malah kaget kalau saya masuk gorong-gorong tutur politisi PDIP itu.
Pada kesempatan sama Jusuf Kalla meminta agar masalah banjir Jakarta tidak hanya ditimpakan kepada Gubernur Pramono Anung melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga.
Kita ini warga Jakarta sehingga kita harus bertanggung jawab dan bekerja untuk kota kita Ketika kita membantu Gubernur sejatinya kita membantu diri sendiri Yang mengotori Jakarta adalah kita maka yang harus membersihkannya juga kita kata dia.
Jadi kita bersama-sama Pokoknya kalau banjir jangan marahi Gubernur marahi diri sendiri Kenapa rumah saya tidak bersih Kenapa selokan saya tidak bersih Kenapa buang sampah di sungai ucap JK.
Ia menekankan sungai selokan di depan rumah ruko serta kantor harus dibersihkan agar aliran air lancar dan banjir dapat dicegah.
Jika banjir terjadi yang paling terdampak adalah rakyat kecil Kerugiannya besar toko dan warung tutup kendaraan terhambat dan aktivitas usaha terganggu Ini kota kita jadi kita yang harus bertanggung jawab menjaganya ujar Jusuf Kalla.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

