Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Bentrokan berdarah di Yogyakarta, jejak kelam peristiwa Gejayan 1998, ribuan massa turun ke jalan

 Inilah Fakta di Balik #GejayanMemanggil, Dari Gerakan Mahasiswa 1998 Sampai  Moses Gatutkaca – https://www.kalderanews.com

Repelita Yogyakarta - Pada penghujung November 1998, lebih dari dua dekade lalu, sebuah peristiwa berdampak besar mengguncang kawasan Gejayan di Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar.

Di tengah Indonesia yang baru saja melewati masa transisi politik pasca-Reformasi, warga dari berbagai kalangan turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan perubahan fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Aksi yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Gejayan 1998 itu bukan sekadar unjuk rasa biasa, tetapi menjadi salah satu momen penting dalam sejarah pergerakan mahasiswa dan masyarakat sipil di kota pelajar ini.

Para mahasiswa melakukan demonstrasi untuk menunjukkan keprihatinan mereka atas kondisi ekonomi negara yang kala itu sedang terpuruk serta menolak Soeharto berkuasa lagi sebagai presiden.

Peristiwa berdarah yang terjadi di jalanan Yogyakarta ini mengakibatkan ratusan orang mengalami luka-luka dan satu mahasiswa bernama Moses Gatotkaca tewas dalam insiden tersebut.

Yogyakarta menjadi salah satu kota yang memelopori aksi demonstrasi pada 1998 untuk melengserkan Presiden Soeharto dari kursi kekuasaan yang telah didudukinya selama tiga dekade lebih.

Aksi ini dipicu oleh kemenangan Golkar pada Pemilu 1997, yang akan memperpanjang masa kekuasaan Soeharto untuk periode berikutnya sesuai dengan mekanisme yang berlaku saat itu.

Ketua Umum Golkar saat itu, Harmoko, bahkan mengumumkan secara terbuka bahwa rakyat Indonesia menginginkan Soeharto menjabat sebagai presiden untuk periode 1998 hingga 2003.

Para mahasiswa di Yogyakarta pun segera bertindak karena mereka tidak ingin Soeharto berkuasa lagi dan menginginkan perubahan sistem pemerintahan yang lebih demokratis.

Mereka menggelar referendum tentang kepemimpinan nasional yang hasilnya menyatakan bahwa lebih dari 90 persen mahasiswa UGM menolak Soeharto menjadi presiden lagi untuk periode mendatang.

Ketika hasil referendum diumumkan secara terbuka, para mahasiswa segera mendapatkan tekanan dari berbagai pihak mulai dari kampus, kepolisian, hingga intel militer.

Kendati demikian, mereka tidak gentar dan mulai melakukan serangkaian aksi demonstrasi secara berkelanjutan untuk menyuarakan aspirasi perubahan di jalanan Yogyakarta.

Di Yogyakarta, aksi demonstrasi dilakukan di beberapa titik secara bergantian oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ada di kota tersebut.

Pada 2 April 1998, mahasiswa berencana melakukan long march dari kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) menuju Gedung DPRD Provinsi Yogyakarta yang berada di Jalan Malioboro.

Namun, rencana mereka terhambat karena dihalangi oleh aparat keamanan yang sudah lebih dulu bersiaga di luar kampus untuk mengantisipasi pergerakan massa.

Para mahasiswa dianggap mengganggu ketertiban umum oleh para aparat yang berjaga, sehingga polisi menawarkan agar para mahasiswa menumpang bus untuk mengawasi pergerakan.

Dengan begitu, mereka akan lebih mudah diawasi dan mobilisasi massa yang lebih besar dapat dihindari oleh aparat keamanan yang berjaga di lokasi.

Namun, tawaran polisi ditolak mentah-mentah oleh para mahasiswa dan mereka tetap memutuskan untuk bergerak, sehingga terjadi bentrokan fisik di jalanan.

Selama lebih dari satu jam, terjadi aksi lempar-lemparan batu antara para mahasiswa dan aparat keamanan yang berusaha membubarkan massa aksi.

Keesokan harinya, para mahasiswa berniat untuk melakukan demonstrasi lagi dengan tujuan kali ini adalah menuju Keraton Yogyakarta untuk bertemu Sultan.

Pasalnya, kala itu Sultan Hamengkubuwono X belum menyatakan dukungannya secara terbuka terhadap gerakan reformasi yang digelorakan mahasiswa.

Aparat keamanan kembali mengingatkan mahasiswa untuk tidak keluar kampus dan sebagian dari mereka memilih menuruti perintah aparat demi menghindari bentrok.

Namun, sebagian lainnya tetap bergerak dan berusaha menembus blokade polisi yang berlapis, sehingga terjadilah aksi saling dorong dan bentrok fisik kembali.

Pada 5 Mei 1998, mahasiswa di Yogyakarta kembali bergerak turun ke jalan dan harus menghadapi aparat keamanan yang sudah bersiaga di berbagai titik strategis.

Bentrokan fisik antara kedua pihak pun tidak terelakkan dan kembali mewarnai jalanan kota Yogyakarta yang biasanya damai dan penuh toleransi.

Keesokan harinya, mahasiswa dari beberapa kampus di Yogyakarta kembali menggelar unjuk rasa, seperti UGM, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Sanata Dharma (USD), dan UIN Sunan Kalijaga.

Pada hari itu, aksi demonstrasi dapat berjalan cukup lancar di beberapa titik, tetapi di Jalan Gejayan justru telah terjadi bentrokan yang cukup sengit.

Polisi pun mengejar mahasiswa sampai ke dalam area kampus untuk menangkap para demonstran yang dianggap melakukan perlawanan terhadap aparat.

Pada hari itu, sejumlah 29 demonstran berhasil ditangkap dan dibawa ke kantor polisi untuk menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut.

Pada 7 Mei 1998, pihak aparat keamanan meyakinkan publik bahwa mahasiswa yang ditangkap akan diperlakukan dengan baik sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

Setelah beberapa mahasiswa yang berunjuk rasa pada 6 Mei 1998 ditangkap oleh aparat keamanan, aksi demonstrasi justru memuncak pada 8 Mei 1998.

Hari itu, aksi dimulai pukul 09.00 pagi dengan melibatkan sejumlah kampus yang ikut melakukan aksi damai di antaranya Institut Sains dan Teknologi Akprind, STTNAS Yogyakarta, dan UKDW.

Siang harinya, pukul 13.00 WIB, ribuan mahasiswa menggelar aksi di Bundaran Kampus UGM yang berjalan dengan baik serta tertib tanpa ada insiden berarti.

Di Bundaran UGM, ribuan mahasiswa menyampaikan keprihatinan mereka atas kondisi ekonomi negara, penolakan Soeharto untuk dijadikan presiden kembali, memprotes kenaikan-kenaikan harga, dan mendesak agar dilakukan reformasi total.

Di saat yang sama, kampus-kampus lain juga menghelat aksi serupa, yaitu UNY dan USD, yang lokasinya hanya dipisahkan dua lajur, yaitu Jalan Gejayan.

Menjelang sore hari, para mahasiswa bergerak dari Jalan Gejayan menuju UGM untuk bergabung di Bundaran dan memperkuat massa aksi yang sudah ada.

Namun, aparat keamanan tidak mengizinkan pergerakan tersebut karena tidak ingin aksi demonstrasi semakin besar dan sulit dikendalikan.

Akibatnya, sekitar pukul 17.00 WIB, bentrok fisik pecah antara aparat keamanan dan para mahasiswa yang bersikeras ingin bergabung dengan rekan-rekannya.

Pasukan keamanan menembakkan gas air mata ke arah massa untuk membubarkan konsentrasi mahasiswa di pertigaan antara Jalan Gejayan dan Jalan Kolombo.

Ketika itu, suasana mencekam menghiasi Jalan Gejayan dan sekitarnya hingga malam hari dengan kepulan asap dan teriakan mahasiswa di mana-mana.

Aparat keamanan juga menutup setiap akses jalan yang menuju ke tempat kejadian perkara untuk mencegah bertambahnya massa aksi dari berbagai penjuru.

Pada hari itu, tragedi berdarah di Gejayan telah menyebabkan banyak korban luka-luka baik dari kalangan mahasiswa maupun warga sekitar yang kebetulan melintas.

Salah satu korban yang turut meregang nyawa adalah Moses Gatotkaca, seorang mahasiswa yang ditemukan bersimbah darah di ruas jalan sebelah selatan kampusnya, Universitas Sanata Dharma.

Moses pun segera dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh rekan-rekannya, tetapi nyawanya tidak terselamatkan karena luka yang dideritanya terlalu parah.

Diduga kuat, Moses tewas akibat pukulan benda tumpul di bagian kepalanya yang menyebabkan pendarahan hebat, pasalnya dari telinga hingga hidungnya terus mengalir darah.

Untuk mengenang jasa dan perjuangan Moses Gatotkaca, namanya pun diabadikan menjadi nama jalan di Jalan Gejayan, tepatnya di sebelah selatan Kampus USD yang menjadi saksi bisu gugurnya sang aktivis.

Hingga kini, Peristiwa Gejayan 1998 dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah reformasi Indonesia yang didorong oleh keberanian mahasiswa Yogyakarta.

Semangat juang para mahasiswa kala itu menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus mengawal demokrasi dan memperjuangkan keadilan di tanah air.

Jalan Moses Gatotkaca yang kini menjadi ikon kawasan Gejayan selalu mengingatkan warga Yogyakarta akan harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah perubahan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved