Repelita Jakarta - Posisi utang pemerintah pusat diproyeksikan akan melebihi empat puluh satu persen terhadap produk domestik bruto seiring dengan pelaporan realisasi keuangan negara tahun anggaran dua ribu dua puluh lima.
Kementerian Keuangan mencatat nilai pembiayaan melalui utang untuk memenuhi kebutuhan APBN pada tahun tersebut mencapai tujuh ratus tiga puluh enam koma tiga triliun rupiah.
Angka tersebut ketika digabungkan dengan saldo utang pada penutupan tahun dua ribu dua puluh empat sebesar delapan ribu delapan ratus tiga belas koma enam belas triliun rupiah akan menghasilkan total kewajiban negara mendekati sembilan ribu lima ratus empat puluh sembilan koma empat puluh enam triliun rupiah.
Perhitungan tersebut menunjukkan rasio utang terhadap PDB berada di level empat puluh satu koma nol tiga persen dengan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar lima koma dua belas persen dan PDB nominal sekitar dua puluh tiga ribu dua ratus tujuh puluh dua koma lima puluh satu triliun rupiah.
Rasio tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun dua ribu tujuh belas dan hampir menyamai rekor yang terjadi pada masa pandemi di tahun dua ribu dua puluh satu yang juga di atas empat puluh satu persen.
Pembengkakan rasio utang ini berjalan beriringan dengan meluasnya defisit anggaran pendapatan dan belanja negara yang telah melampaui batas target yang ditetapkan sebelumnya sebesar dua koma sembilan dua persen dari produk domestik bruto.
Faktor pertumbuhan ekonomi pada tahun dua ribu dua puluh enam akan menjadi penentu penting untuk mencegah pembukaan defisit anggaran yang lebih lebar lagi setelah tahun lalu defisit tercatat enam ratus sembilan puluh lima koma satu triliun rupiah.
Kepala Ekonom untuk India dan Strategis Makro ASEAN di HSBC Pranjul Bhandari menyatakan kebijakan fiskal dan moneter Indonesia sepanjang dua ribu dua puluh lima bersifat longgar dan diperkirakan akan tetap berlaku pola serupa di tahun ini untuk mendorong pertumbuhan.
Dia mengidentifikasi salah satu tantangan berat yang akan dihadapi perekonomian nasional adalah melemahnya kinerja ekspor setelah adanya fenomena frontloading oleh eksportir untuk mengantisipasi kebijakan tarif dari Amerika Serikat.
Pihaknya memproyeksikan pertumbuhan PDB riil akan berkisar di angka lima persen pada dua ribu dua puluh enam yang sejalan dengan perkiraan resmi pemerintah dan kebijakan ekonomi diperkirakan akan tetap akomodatif serta mendukung pertumbuhan sepanjang tahun.
Mengacu pada kinerja tahun sebelumnya Pranjul mengakui defisit APBN telah mendekati batas maksimal tiga persen dimana outlook pemerintah pun telah direvisi menjadi dua koma tujuh delapan persen dari rencana semula dua koma lima tiga persen.
Namun realisasi defisit akhir sebesar dua koma sembilan dua persen terhadap PDB ternyata lebih tinggi dari perkiraan dengan penyebab utama adalah rendahnya realisasi penerimaan negara yang terdampak pelemahan ekonomi.
Di sisi lain dia melihat adanya potensi pemulihan ekonomi pada tahun ini yang dapat meningkatkan kinerja pendapatan negara terutama dari sektor perpajakan.
Pemulihan tersebut memungkinkan pemerintah untuk tetap menjaga level pengeluaran tanpa harus memperlebar defisit anggaran seperti yang terjadi pada periode sebelumnya sehingga akan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.
Optimisme perbaikan penerimaan negara juga didukung oleh membaiknya prospek ekonomi global dengan melemahnya inflasi komoditas dunia pada tahun dua ribu dua puluh lima.
Pranjul juga mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kepercayaan investor terutama yang memegang instrumen surat berharga negara.
Pasar keuangan menurutnya akan sangat sensitif dan mengawasi setiap kemungkinan pelampauan batas defisit tiga persen yang dapat berimplikasi pada pasar surat utang pemerintah.
Pemerintah dinilai tidak perlu sampai melampaui batas defisit yang telah ditetapkan tersebut untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan investor.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

