Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Thomas Djiwandono Masuk Radar BI Picu Kekhawatiran, Jurnalis senior Hersubeno Arief Soroti Rekam Jejak dan Latar Belakang

 

Repelita Jakarta - Pencalonan Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia terus menjadi sorotan tajam dari publik dan pelaku pasar keuangan.

Isu ini tidak terlepas dari pelemahan nilai tukar rupiah serta kekhawatiran investor global terhadap tingkat independensi bank sentral Indonesia.

Jurnalis senior Hersubeno Arief menilai munculnya nama Thomas berbarengan dengan keresahan pasar internasional terhadap kredibilitas kelembagaan BI.

Dan sejumlah analis publik serta media internasional menyebut bahwa calon yang terlalu dekat dengan lingkaran kekuasaan eksekutif berpotensi membawa risiko bagi kredibilitas Bank Indonesia di mata investor global lugasnya dilansir dari YouTube Hersubeno Point pada Jumat 23 Januari 2026.

Beberapa media asing menyoroti potensi tekanan tambahan terhadap rupiah akibat persepsi risiko atas independensi bank sentral terutama setelah nama Thomas Djiwandono mencuat ke publik.

Tekanan tersebut sempat mendorong rupiah mencapai level terendah sebelum akhirnya mengalami pemulihan bertahap.

Hersubeno mengupas rekam jejak dan latar belakang Thomas yang lebih condong ke ranah politik serta kebijakan fiskal ketimbang teknokrasi moneter murni.

Thomas Aquinas Miyatna Djiwandono merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto dan putra dari Sudrajat Djiwandono mantan Gubernur Bank Indonesia periode 1993 hingga 1998.

Meski berasal dari keluarga yang erat kaitannya dengan institusi bank sentral pendidikan Thomas tidak secara khusus mengarah pada kebijakan moneter.

Ia menyelesaikan sarjana sejarah di Haverford College Pennsylvania Amerika Serikat serta magister hubungan internasional dan ekonomi internasional di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies.

Basis akademik tersebut memberikan perspektif global namun berbeda dari jalur teknokrat moneter yang biasanya mendominasi kepemimpinan Bank Indonesia.

Karier Thomas dimulai di dunia jurnalistik dengan bekerja di Majalah Tempo serta Indonesia Business Weekly sebelum beralih ke sektor keuangan sebagai analis di perusahaan sekuritas Hong Kong.

Selanjutnya perjalanan profesionalnya lebih banyak berkembang di bidang usaha dan politik termasuk sebagai pengurus Partai Gerindra hingga dipercaya menjadi Wakil Menteri Keuangan sejak tahun 2024.

Hersubeno menilai kedekatan hubungan keluarga dengan Presiden menjadi elemen sensitif yang membuat pencalonan Thomas mendapat sorotan tajam.

Bank Indonesia selama ini dipandang sebagai pilar independen yang menjaga kepercayaan pasar sehingga indikasi kedekatan politik dinilai berpotensi mengganggu persepsi investor terhadap stabilitas kebijakan moneter.

Sorotan publik semakin menguat seiring munculnya spekulasi skema pertukaran posisi antara Thomas Djiwandono dan Yuda Agung Deputi Gubernur BI yang mengundurkan diri.

Spekulasi tersebut menyebut kemungkinan Yuda mengisi posisi Wakil Menteri Keuangan sementara Thomas masuk ke Dewan Gubernur BI.

Dinamika ini menambah kerumitan persepsi pasar terhadap tata kelola kebijakan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Pemerintah menyatakan pencalonan Thomas tidak akan mengganggu independensi Bank Indonesia dan ia telah melepaskan afiliasi politik termasuk mundur dari kepengurusan partai.

Meski demikian menurut Hersubeno Arief persepsi pasar tetap menjadi faktor penentu karena kepercayaan investor terhadap rupiah sangat bergantung pada keyakinan bahwa kebijakan moneter dijalankan secara profesional independen dan bebas intervensi politik.*

Editor: 91224 R-ID Elok


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved