Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Suntikan Rp200 Triliun Tak Dongkrak Kredit, Menkeu Akui Likuiditas Terserap dan Koordinasi BI Jadi Kunci

 Purbaya Geram Dana Pemda Mengendap di Bank Menteri Keuangan Purbaya Yudhi  Sadewa menyebut dana pemerintah daerah (pemda) yang mengendap di bank  mencapai Rp234 triliun. Pernyataan tersebut langsung memantik protes dari  sejumlah kepala

Repelita Jakarta - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan penjelasan mengenai alasan di balik kebijakan penempatan dana sebesar dua ratus triliun rupiah di perbankan yang dinilai belum memberikan dampak optimal terhadap pertumbuhan kredit.

Dia menyatakan bahwa berdasarkan perhitungan awal, suntikan dana tersebut seharusnya mampu mendorong pertumbuhan uang primer atau base money hingga mencapai sekitar tiga belas persen.

Pertumbuhan tersebut kemudian diharapkan dapat diikuti dengan kenaikan penyaluran kredit ke level dua digit pada akhir tahun berjalan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Purbaya dalam forum diskusi tahunan Semangat Awal Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh IDN Times di markas besarnya di Jakarta Selatan, pada hari Jumat tanggal 16 Januari 2026.

"Hitungan saya Rp200 triliun itu, itu kan menimbulkan pertumbuhan uang M0 base money-nya ke 13 persen. Harusnya kredit di akhir tahun udah tumbuh ke double digit juga 13 persen," katanya.

Namun demikian, Purbaya menyampaikan bahwa efektivitas dari kebijakan tersebut tidak berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya.

Hal ini terjadi karena likuiditas yang sempat disuntikkan ke dalam sistem perbankan kembali terserap oleh mekanisme pasar.

Dia menjelaskan bahwa proses penyerapan likuiditas mulai terjadi sejak pekan kedua bulan September dan berlanjut secara bertahap hingga memasuki bulan Oktober, November, dan Desember.

Akibatnya, pertumbuhan uang primer atau base money kembali mengalami penurunan hingga mendekati titik nol persen.

Kondisi tersebut, menurut analisis Purbaya, menyebabkan dorongan likuiditas ke dalam sistem keuangan tidak dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama untuk mendorong pertumbuhan kredit secara signifikan.

Proses penyerapan likuiditas ini berada dalam ranah kebijakan dan kewenangan Bank Indonesia sebagai bank sentral.

"Tapi karena mungkin ada miskomunikasi atau saya kasih sinyal juga nggak diikutin," ujarnya.

Purbaya menilai bahwa indikator awal yang lebih cepat terlihat justru berasal dari perkembangan di pasar keuangan, khususnya di pasar modal dan pasar obligasi.

Dia menyampaikan bahwa pada saat likuiditas mulai disuntikkan, sebagian dana yang belum terserap ke sektor riil secara alami mengalir menuju pasar keuangan.

Kondisi ini tercermin dari penguatan yang terjadi di pasar saham yang saat itu bergerak dengan cepat hingga berhasil menembus level di atas delapan ribu.

Pencapaian ini terjadi meskipun sebelumnya banyak pihak yang menilai bahwa level tersebut sulit untuk dicapai.

Selain pasar saham, Purbaya juga memantau pergerakan yang terjadi di pasar obligasi melalui perubahan pada imbal hasil atau yield.

Dia menyebutkan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah sempat turun hingga mencapai kisaran lima koma sembilan persen.

Namun kemudian, imbal hasil tersebut kembali mengalami kenaikan hingga mencapai sekitar enam koma tiga persen.

Kenaikan ini menjadi sinyal adanya perubahan kondisi likuiditas yang terjadi di pasar keuangan.

Purbaya menyatakan bahwa persoalan ini telah dibahas dan didiskusikan bersama dengan Bank Indonesia.

Dari hasil diskusi tersebut, pemerintah dan bank sentral disebut telah menemukan suatu titik keseimbangan baru yang terkait dengan pengelolaan likuiditas di pasar.

Dengan ditemukannya titik keseimbangan tersebut, kondisi pasar dinilai mulai menunjukkan perbaikan.

Setelah dilakukan penyesuaian dan koordinasi lebih lanjut, Purbaya mengatakan bahwa imbal hasil obligasi kembali turun hingga mencapai sekitar enam koma nol persen.

Menurut penilaiannya, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa likuiditas mulai kembali ke jalur yang diharapkan sebelumnya.

Sementara itu, dia menambahkan bahwa pasar saham sempat melanjutkan penguatan hingga mendekati level sembilan ribu, meskipun setelah itu mengalami koreksi.

"Kami sudah diskusi dengan Bank Sentral, dapatlah titik tengah yang seperti apa untuk likuiditas di pasar. Harusnya sekarang sih sudah agak aman," ujarnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved