Repelita Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengeluarkan pernyataan mengejutkan terkait nilai tukar rupiah yang sempat melemah mendekati level tujuh belas ribu per dolar Amerika Serikat.
Dia mengklaim dengan berani bahwa dirinya dapat menguatkan kembali nilai tukar rupiah hanya dalam waktu satu malam saja.
Pernyataan tersebut langsung menimbulkan kegemparan di kalangan publik dan pelaku pasar keuangan.
Pernyataan itu muncul di tengah kondisi pasar yang sedang dilanda kecemasan akibat berbagai tekanan global.
Isu mengenai independensi bank sentral juga turut mempengaruhi sentimen negatif di pasar keuangan tanah air.
Kemudian muncul sosok pejabat tinggi negara yang menyatakan mengetahui secara persis penyebab pelemahan mata uang nasional.
Dia bahkan menyebut memiliki cara cepat untuk membalikkan situasi pelemahan tersebut dalam waktu sangat singkat.
Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa dirinya tahu betul alasan dibalik pelemahan nilai tukar rupiah.
Dia mengklaim dapat memperbaiki kondisi tersebut dalam waktu dua hari atau bahkan hanya semalam saja.
Namun dia juga mengingatkan bahwa dirinya bukanlah bank sentral yang memiliki kewenangan penuh di bidang moneter.
Data yang dilaporkan sebelumnya mencatat bahwa rupiah sempat menyentuh level terlemahnya dalam periode tertentu.
Pelemahan tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah dan dinamika internal di Bank Indonesia.
Menurut analisis Menteri Keuangan, fondasi ekonomi Indonesia sebenarnya bergerak ke arah yang berlawanan dengan tren pelemahan rupiah.
Artinya secara fundamental tidak ada alasan kuat yang mendasari pelemahan nilai tukar rupiah sedalam itu.
Dia menjelaskan bahwa fondasi perekonomian nasional terus menunjukkan perbaikan yang signifikan dari waktu ke waktu.
Sementara itu nilai tukar rupiah justru bergerak melemah terhadap mata uang asing terutama dolar Amerika Serikat.
Kondisi yang kontradiktif ini menjadi dasar pernyataan mengejutkan dari Menteri Keuangan tersebut.
Dia merasa yakin dapat melakukan intervensi cepat untuk mengembalikan nilai tukar rupiah ke level yang lebih wajar.
Keyakinan tersebut disampaikannya meskipun dia menyadari bahwa kebijakan moneter bukanlah kewenangan langsung dari kementerian yang dipimpinnya.
Pernyataan tersebut dianggap sangat berani mengingat kompleksitas faktor yang mempengaruhi nilai tukar mata uang.
Faktor eksternal seperti kondisi ekonomi global dan kebijakan bank sentral negara maju turut mempengaruhi pergerakan rupiah.
Namun Menteri Keuangan tetap percaya diri dengan kemampuannya untuk melakukan koreksi cepat terhadap nilai tukar.
Pernyataan ini menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan ekonom dan pelaku pasar keuangan.
Terutama mengenai koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

