Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Partai Baru Jadi Kendaraan Figur, Politik Indonesia Masuk Fase Early Booking Pilpres 2029

 Demokrat Dukung Pilkada Lewat DPRD, Pengamat Sebut Warisan Politik SBY  Dipertaruhkan - Telusur

Repelita Jakarta - Deklarasi dua partai politik baru yang langsung menyatakan dukungan kepada calon presiden tertentu dinilai sebagai pertanda perubahan pola kontestasi politik nasional.

Partai Gema Bangsa secara terbuka menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto, sementara Partai Gerakan Rakyat memposisikan diri sebagai pendukung Anies Baswedan untuk Pemilihan Presiden 2029.

Pengamat politik Arifki Chaniago menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa politik Indonesia telah memasuki era baru yang disebut sebagai “early booking” pilpres.

Partai-partai tersebut bahkan belum lolos verifikasi maupun menghadapi pemilu legislatif, tetapi sudah menentukan arah dukungan presidensial mereka.

Menurut Arifki yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, fenomena ini bukan sekadar deklarasi dukungan biasa melainkan strategi branding yang kuat.

Partai baru kini tidak lagi menawarkan ideologi atau program kerja, melainkan menjual kepastian posisi politik mereka di kubu tertentu.

Ia menjelaskan bahwa pergeseran ini mengubah fungsi partai politik secara mendasar.

Jika dulu partai berfungsi sebagai wadah kaderisasi dan perumusan gagasan, kini sebagian partai baru lahir hanya sebagai alat elektoral untuk mendukung satu figur politik tertentu.

Calon presiden menjadi titik awal kelahiran partai, bukan hasil proses internal partai itu sendiri.

Deklarasi dini ini juga dipandang sebagai respons terhadap persaingan politik yang semakin ketat dan padat.

Dengan banyaknya partai serta figur yang bersaing, partai baru memilih cara cepat untuk mengikat emosi pemilih melalui tokoh yang sudah dikenal luas oleh publik.

Arifki mengibaratkan Pilpres 2029 seperti konser besar di mana tiket sudah dijual jauh-jauh hari sehingga siapa yang lebih cepat memesan panggung akan lebih dulu terlihat oleh masyarakat.

Strategi ini diyakini membawa konsekuensi jangka panjang yang perlu diwaspadai.

Identitas partai yang terlalu melekat pada satu figur dapat melemahkan daya tawar partai tersebut jika dinamika politik berubah di kemudian hari.

Ruang dialog kebijakan juga berisiko tergeser oleh narasi personalisasi politik yang berkepanjangan.

Deklarasi cepat ini dinilai turut memperpanjang suhu kompetisi politik nasional secara keseluruhan.

Polarisasi tidak lagi muncul hanya menjelang pemilu, melainkan berpotensi menjadi kondisi permanen dalam kehidupan politik sehari-hari.

Arifki menambahkan bahwa elite politik saat ini sudah berpikir dan bertindak seolah Pilpres 2029 telah dimulai.

Hal ini menandakan bahwa siklus politik kita semakin pendek sementara masa kampanye justru semakin panjang.

Ia menutup dengan catatan bahwa masyarakat perlu memahami dinamika ini sebagai perubahan irama dalam demokrasi Indonesia.

Pilpres 2029 belum dekat secara kalender tetapi secara politik sudah mulai berjalan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved