
Repelita Sibolga - Video yang menunjukkan kerumunan warga memasuki Gudang Bulog Sarudik di Kota Sibolga, Sumatera Utara, sambil mengangkut karung beras dan stok pangan lainnya, menjadi viral di media sosial dan memicu perdebatan sengit di kalangan netizen.
Rekaman tersebut pertama kali dibagikan melalui akun Instagram @mommy_la, yang menggambarkan situasi sebagai penyerbuan tak terkendali di tengah krisis pasca bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut sejak akhir November 2025.
Dalam unggahan, terlihat puluhan warga merobohkan gerbang sementara gudang, merusak gembok, dan membawa keluar berbagai kebutuhan dasar seperti beras serta minyak goreng, yang diduga dilakukan karena kelaparan setelah akses logistik terputus selama berhari-hari.
Admin resmi akun Instagram Partai Gerindra segera merespons di kolom komentar dengan membantah narasi tersebut, sambil menekankan bahwa apa yang terjadi sebenarnya adalah proses pembagian bantuan yang sah dan terorganisir.
Admin Gerindra menulis Tidak usah membuat narasi provokatif, ini memang dibagikan bukan penjarahan.
Pemilik akun @mommy_la kemudian membalas dengan permintaan maaf atas potensi kesalahpahaman, meskipun tetap menyoroti kekacauan di lokasi yang membuatnya tampak seperti aksi anarkis.
Akun tersebut menyatakan Mohon maaf kalau ada yang salah dari narasi kami, karena kondisi yang kami lihat warga sudah ricuh berdatangan menyerbu ke gudang bulog Saran kalau memang pembagian dibagikan ke posko yang berdampak, Min.
Namun, pernyataan dari Partai Gerindra tersebut bertentangan langsung dengan konfirmasi resmi dari Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara, yang justru mengakui kejadian itu sebagai penjarahan murni akibat situasi darurat sosial yang memburuk.
Pimpinan Wilayah Bulog Sumatera Utara Budi Cahyanto menyatakan bahwa kejadian pada Sabtu, 29 November 2025, terjadi di tengah melemahnya kondisi masyarakat pasca bencana yang menyebabkan korban jiwa, rusaknya infrastruktur, dan putusnya rantai pasok pangan.
Ia menambahkan bahwa Kami memahami bahwa masyarakat sedang berada dalam situasi darurat akibat bencana banjir yang menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan terputusnya akses pangan.
Tim Bulog telah berkoordinasi dengan Polres Sibolga dan Kodim Tapanuli Tengah untuk pengamanan, tetapi jumlah massa yang datang secara tiba-tiba melebihi kemampuan pengendalian, sehingga stok gudang tidak bisa sepenuhnya dijaga.
Kejadian ini bukan yang pertama, karena sebelumnya video serupa menunjukkan warga menyerbu minimarket dan ritel modern di Sibolga serta Tapanuli Tengah untuk mengambil mi instan, keperluan bayi, dan barang esensial lainnya.
Penundaan bantuan logistik, yang baru mulai dikirim melalui pesawat Hercules sejak Jumat sebelumnya, menjadi pemicu utama aksi-aksi tersebut, di mana sebagian warga belum menyentuh makanan selama beberapa hari.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto membenarkan adanya upaya rebutan logistik serupa di Bandara Pinangsari, Tapanuli Tengah, sambil menekankan bahwa perilaku warga lahir dari keputusasaan, bukan niat jahat.
Kabid Humas Polda Sumatera Utara Kombes Ferry Walintukan menyatakan bahwa polisi sedang menangani insiden-insiden ini dengan strategi pencegahan eskalasi, termasuk penempatan pengamanan tambahan meskipun akses jalan masih terbatas.
Krisis ini menekankan perlunya respons bencana yang lebih gesit untuk mencegah gejolak sosial, di mana koordinasi antar lembaga harus ditingkatkan agar stok pangan bisa didistribusikan secara aman ke posko pengungsian.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

