Repelita Jakarta - Penulis ternama Tere Liye kembali melontarkan kritik pedas melalui unggahan terbarunya pada tanggal 12 Mei 2026 yang menyoroti ketidaktahuan publik serta para pejabat negara dalam menafsirkan angka rasio utang antara Indonesia dengan negara maju.
Dalam penjelasannya yang viral, ia memperingatkan masyarakat agar tidak mudah termakan narasi pembanding yang sering digunakan oleh otoritas keuangan untuk memberikan rasa aman palsu terkait kondisi fiskal nasional yang sebenarnya sedang mengkhawatirkan.
ADVERTISEMENT
Tere Liye memberikan penegasan melalui pernyataannya yang berbunyi Saya posting ulang, untuk ke 100 kalinya. Biar kalian tidak mudah dibohongi pejabat-pejabat. sebagai bentuk upaya edukasi berulang terhadap realitas beban ekonomi yang ditanggung rakyat saat ini.
Ia menguraikan bahwa tingginya rasio utang Jepang yang mencapai 235 persen tidak bisa disetarakan dengan kondisi domestik karena negara matahari terbit tersebut pada dasarnya merupakan pemberi pinjaman raksasa di level internasional melalui dana milik rakyatnya sendiri.
Menurut analisisnya, posisi Jepang dan Singapura jauh lebih stabil karena aset keuangan yang mereka miliki di luar negeri jauh lebih besar daripada nilai pinjamannya, sehingga utang yang tercatat hanyalah instrumen bisnis untuk memutar modal secara global.
Sebaliknya, ia menyoroti fakta bahwa beban sebesar sembilan ribu lima ratus triliun rupiah yang dimiliki Indonesia adalah murni kewajiban tanpa adanya piutang balik dari negara lain, yang diperparah dengan penggunaan dana untuk proyek-proyek non-produktif.
Penulis tersebut memberikan gambaran kontras dengan menuliskan Kita utang buat sok keren MBG, IKN, Whoosh, dll. Maka, meskipun rasionya hanya 40%, nilai utang per penduduk 33 juta, itu tuh 100x lebih mengkhawatirkan dibanding Jepang dan Singapura.
Kekhawatiran utama yang disampaikan terletak pada Debt Service Ratio Indonesia yang kini menyentuh angka 47 persen, di mana hampir separuh dari seluruh pendapatan negara setiap tahunnya habis hanya untuk membayar bunga dan cicilan pokok utang semata.
Kritik paling tajam dalam tulisan tersebut ditujukan langsung kepada Menteri Keuangan Purbaya yang dianggap tidak memberikan pemahaman ekonomi yang jujur kepada masyarakat terkait perbedaan mendasar antara posisi negara pemberi pinjaman dengan negara penghutang.
Ia menutup pandangannya dengan nada prihatin terhadap kompetensi pengambil kebijakan melalui kutipan Say asedih sekali, saat selevel Menkeu Purbaya, ngoceh begini, “Rasio utang kita masih lebih baik dibanding Jepang dan Singapura.” Dia ini betulan PhD ekonomi? yang menjadi sorotan luas.
Kondisi ini dianggap sebagai sinyal bahaya bagi masa depan ekonomi nasional mengingat Indonesia saat ini memiliki ketergantungan utang yang sangat tinggi terhadap Singapura hingga mencapai angka seribu triliun rupiah tanpa memiliki aset penyeimbang yang memadai.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok