Berita, Nasional

[VIRAL] Prabowo Sebut Pakar Goblok, Video Anies Ulas Buku Matinya Kepakaran Kembali Disorot

Repelita.net

21 September 2026 00:21 WIB • 133 view

[VIRAL]  Prabowo Sebut Pakar Goblok, Video Anies Ulas Buku Matinya Kepakaran Kembali Disorot
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menjadi sorotan melalui program bedah buku bertajuk AniesBacaBuku yang tayang di kanal Youtube miliknya setahun yang lalu.

Tayangan tersebut mendadak kembali viral di tengah masyarakat menyusul polemik pernyataan kontroversial Presiden Prabowo Subianto yang mengkritik pedas kalangan pengamat dengan diksi kasar.

ADVERTISEMENT

Dalam video itu, Anies Baswedan mengupas tuntas karya literatur akademisi politik Tom Nichols yang membahas tentang fenomena memudarnya penghargaan terhadap otoritas keilmuan resmi.

Anies Baswedan menyoroti kemunculan fenomena pengamat instan di ruang digital yang kerap meremehkan metodologi sains serta pandangan para ahli yang telah teruji kredibilitasnya.

Gejala sosial tersebut dinilai bukan sekadar bentuk kehati-hatian biasa, melainkan sudah bergeser menjadi aksi penolakan terbuka terhadap kebenaran ilmiah yang sah secara akademis.

Lebih lanjut, Anies Baswedan memaparkan konsep psikologis mengenai kecenderungan individu berpengetahuan minim yang justru merasa paling menguasai persoalan secara berlebihan.

Bayangkan seseorang yang baru belajar main catur selama seminggu. Saking senangnya, merasa sudah pakar dan seakan-akan bisa mengalahkan seorang Grandmaster. Ini terlihat lucu kalau di papan catur, tapi menjadi persoalan serius saat terjadi dalam urusan kemasyarakatan, ungkap Anies Baswedan.

Ledakan arus informasi di dunia maya membuat siapa saja bebas menyebarkan pendapat tanpa fondasi ilmu, sehingga suara para ilmuwan tertutup oleh hiruk-pikuk opini awam.

Selain itu, ia menyoroti komersialisasi dunia pendidikan tinggi modern yang memperlakukan mahasiswa sebagai pelanggan sehingga mutu keilmuan kerap tergeser demi kepuasan semata.

Ancaman matinya kepakaran ini dinilai sangat berbahaya bagi tatanan demokrasi karena sistem yang sehat menuntut keterlibatan warga berpengetahuan serta kebijakan berbasis bukti nyata.

Pengalaman memimpin ibu kota selama masa krisis kesehatan dijadikan contoh nyata ketika pemerintah daerah wajib berdiskusi langsung dengan para ahli epidemiologi profesional.

Di saat itu, kita bisa menyaksikan siapa yang percaya ilmu pengetahuan dan siapa yang tidak. Ketika kami mau mengambil keputusan di Jakarta, kami selalu mengundang ahli epidemiologi dan ilmuwan kesehatan. Langkah yang disarankan pakar belum tentu populer di media sosial, tapi itu adalah hal yang benar secara kepakaran, tegas Anies Baswedan.

Pentingnya sikap menghargai proses belajar dan akumulasi pengalaman para ahli ditutup dengan ajakan agar masyarakat mampu menyaring informasi secara bijak di era modern.

Pengetahuan dan pengalaman itu terakumulasi dalam diri seorang pakar. Bila kita menghargainya, kita bisa mengambil manfaatnya secara optimal untuk kemajuan bersama, pungkas Anies Baswedan.

Perbincangan hangat ini beririsan langsung dengan pidato Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri perayaan hari jadi Partai Amanat Nasional ke-28 di Jakarta pada hari Jumat, 18 September 2026 malam.

Di hadapan para kader partai, kepala negara menegaskan komitmen pengentasan kemiskinan sekaligus melontarkan sindiran keras terhadap pihak yang mengkritik pemerintah berkedok pakar.

Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pinternya, saking pinternya jadi goblok, sindir Presiden Prabowo Subianto dalam acara tersebut.

Bahkan, Presiden Prabowo Subianto menuding sebagian oknum pengamat telah melampaui batas dengan menyebarkan fitnah terhadap kebijakan yang sedang dijalankan oleh jajaran pemerintahan.

Ada beberapa, ada beberapa, pakar, saking pakarnya dia melontarkan fitnah saudara-saudara, klaim Presiden Prabowo Subianto di hadapan para hadirin.

Sambil diiringi gelak tawa dan tepuk tangan peserta, ungkapan bernada sentilan tajam tersebut kembali diulang guna mempertegas posisinya di hadapan publik.

Saking pinternya, saking pinternya jadi goblok, sebut Presiden Prabowo Subianto yang menyadari ucapannya akan kembali menjadi bahan perbincangan luas di media sosial.

Ini masalahnya kalau bicara di tengah kawan-kawan sejati. Nanti yang diulangi-ulangi tadi itu, pungkas Presiden Prabowo Subianto menutup pernyataannya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung