Berita, Nasional

Sebut Mahfud MD Mantan Ternak Mulyono, Gus Nur Sindir Pejabat yang Baru Kritis Setelah Kehilangan Jabatan

Repelita.net

01 November 2026 22:39 WIB • 90 view

Sebut Mahfud MD Mantan Ternak Mulyono, Gus Nur Sindir Pejabat yang Baru Kritis Setelah Kehilangan Jabatan
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Sugi Nur Raharja alias Gus Nur melontarkan kritik pedas terhadap mantan Menko Polhukam, Prof Mahfud MD, menyusul pernyataannya mengenai Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang harus diseret ke pengadilan.

ADVERTISEMENT

Gus Nur menyebut bahwa kritik Mahfud terhadap KPU sejatinya sudah lama disuarakan olehnya, bahkan sejak 2018.

Namun, ia menyindir Mahfud yang kala itu justru berada di dalam lingkaran kekuasaan.

Secara blak-blakan, Gus Nur bahkan menyebut Mahfud pernah menjadi bagian dari kelompok yang ia istilahkan sebagai 'ternak Mulyono', merujuk pada para pendukung mantan Presiden Jokowi.

Gus Nur mengingatkan Mahfud bahwa kritik terhadap KPU dan persoalan demokrasi bukanlah hal baru.

Ia mengaku telah menyuarakan hal tersebut jauh sebelum Mahfud menyampaikan kritiknya saat ini.

"Pak Mahfud MD, apa yang anda katakan hari ini, (KPU harus diseret ke pengadilan. Ini adalah perusakan terhadap peradaban). Itu sudah saya serukan, sudah saya teriakkan dari tahun 2018. Ya, sudah saya teriakkan," ujar Gus Nur, dikutip dari fajar.co.id, Minggu (1/11/2026).

Ia kemudian menyinggung posisi Mahfud ketika masih menjadi pejabat pemerintahan.

Menurut Gus Nur, Mahfud saat itu turut berada dalam barisan pendukung Jokowi.

"Waktu itu anda bergabung ke rezim, waktu itu anda masih jadi pejabat. Bahkan kalau boleh saya katakan, mohon maaf kalau tidak sopan, waktu itu anda juga salah satu ternak Mulyono," tukasnya.

Gus Nur juga mengungkit momen ketika Mahfud sempat mengenakan pakaian putih dan bersiap menghadapi agenda pelantikan dalam kontestasi politik.

"Ya kan, masih ingat di kepala kita semua betapa Anda waktu itu dengan gagah, berani, sudah bawa baju putih, mau dilantik jadi wapres atau apa itu lupa saya," ucap dia.

Ia menilai sikap Mahfud saat itu berbeda dengan kritik yang disampaikan sekarang.

Lebih jauh, Gus Nur menyebut pengalaman Mahfud sebagai pelajaran bagi para pejabat, termasuk aparat, hakim, akademisi, dan tokoh publik agar tidak terjebak dalam kepentingan kekuasaan.

Ia menilai sebagian pejabat cenderung mengikuti sistem ketika masih menduduki jabatan, bahkan tetap memberikan pujian kepada penguasa setelah tidak lagi berada di pemerintahan.

"Ini pelajaran untuk semua pejabat ya, untuk semua orang-orang yang seperti Pak Mahfud MD ini ya, seperti Rocky Gerung, Mahfud MD, siapa lagilah," jelasnya.

Gus Nur kemudian menekankan pentingnya konsistensi dalam menyampaikan kritik, tanpa harus terikat pada kepentingan jabatan maupun kedekatan dengan penguasa.

"Bahwa sudahlah, kalau posisi ya oposisi, dunia akhirat jadi oposisi ya kan? Pokoknya intinya jangan jadi penjilat gitu loh, ya kan?" tegasnya.

Gus Nur juga menyinggung fenomena sejumlah tokoh yang disebutnya berpindah-pindah dukungan politik.

Ia mencontohkan figur yang ketika menjabat memberikan pujian kepada pemerintahan, tetapi kemudian menyampaikan kritik setelah tidak lagi berada dalam kekuasaan.

"Rata-rata tentara, jenderal, polisi, ya kan, apa lagi tuh seperti anda ini ya, hakim MK, pejabat, seperti anda inilah. Rata-rata orang-orang seperti Anda ini intinya, ketika masih menjabat, anda taklid buta dengan sistem, sistem bobrok. ya, anda tersandra oleh jabatan itu," imbuhnya.

Ia pun melontarkan sindiran terhadap tokoh yang menurutnya masih berupaya mencari posisi di pemerintahan.

"Bahkan ketika Anda tidak menjabat pun ya, kan Anda masih menjilat, masih memuji-muji rezim supaya Anda dapat jabatan. Kutu loncat kayak Ngabalin, ya kan," timpalnya.

Meski demikian, Gus Nur mengakui bahwa kritik yang disampaikan Mahfud saat ini tetap lebih baik dibandingkan memilih diam.

"Ya enggak apa-apa sih daripada enggak bersuara sama sekali kan begitu. Enggak apa-apa saya hanya geli saja," bebernya.

Lebih jauh, Gus Nur menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki jabatan maupun latar belakang akademisi atau pengamat politik.

"Saya hanya mengingatkan bahwa saya alhamdulillah. Doakan saya istiqomah walaupun saya bukan pejabat, saya bukan akademisi, saya bukan ekonom, saya bukan pengamat politik," tandasnya.

Namun, ia mengklaim tetap berusaha menyuarakan kritik sebagai warga negara.

"Paling tidak saya adalah salah satu rakyat yang berdaulat yang menyuarakan kebenaran yang tidak korupsi," kuncinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung