Berita, Publika Repelita

Saat Hukum Jadi Alat Siasat? Mengapa Jenderal Gatot Sebut Posisi Prabowo Paling Berbahaya?

Repelita.net

24 September 2026 22:48 WIB • 87 view

Saat Hukum Jadi Alat Siasat? Mengapa Jenderal Gatot Sebut Posisi Prabowo Paling Berbahaya?
Foto: Istimewa

 Oleh: Rina Syafri

Panggung politik nasional kembali dikejutkan oleh kalkulasi dingin yang dibentangkan oleh mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo melalui kanal YouTube Hersubeno Point.

ADVERTISEMENT

Di tengah guliran gugatan ijazah Gibran Rakabuming Raka di Mahkamah Konstitusi (MK) yang diajukan oleh Denny Indrayana dkk, Jenderal Gatot secara lugas menyuarakan keyakinannya: gugatan tersebut dipastikan akan ditolak oleh majelis hakim.

Bukan tanpa alasan, keyakinan ini bersandar pada pembacaan atas kecermatan Presiden Joko Widodo beserta lingkar politiknya yang telah lama merancang strategi jangka panjang.

Jenderal Gatot mengingatkan publik bahwa tatkala skenario tiga periode mengalami jalan buntu, sebuah "payung cadangan" langsung dibentangkan melalui pencalonan Gibran.

Lebih jauh lagi, ia menegaskan bahwa hukum di negeri ini tidak pernah berjalan secara steril dari intervensi kekuasaan—pasti ada politik yang bekerja di belakang layar.

Yang paling mendebarkan dari analisis tersebut adalah peringatan keras bahwa jika skenario penolakan ini mulus, posisi Presiden Prabowo Subianto justru berada dalam ancaman yang "sangat, sangat berbahaya".

Sebab, arah permainan berikutnya diyakini bukan lagi tentang berbagi kekuasaan, melainkan bagaimana memastikan suksesi lanjutan berjalan mutlak demi ambisi dinasti.

Jerit Hati Orang Awam: Antara Pesimisme dan Harapan akan Keajaiban

Sebagai bagian dari masyarakat awam yang selama ini hanya bisa diam dan berdoa, pernyataan-pernyataan seperti ini menghadirkan rasa sesak yang familiar.

Kita tentu ingat bagaimana proses pencalonan Gibran bergulir begitu kilat, memotong kompas konstitusi, dan seolah tidak memberi ruang sedetik pun bagi publik untuk bernapas mencari kebenaran yang hakiki.

Ada kepasrahan kolektif yang menyelimuti warga: ketika hukum telah ditekuk sedemikian rupa oleh arsitektur kekuasaan, kepada siapa lagi akal sehat hendak mengadu?

Namun, di balik dinding-dinding kepesimisme itu, sisa-sisa asa tidak pernah padam.

Publik tidak rela jika negeri yang didirikan atas darah dan keringat para pejuang ini rusak dan hancur hanya karena syahwat politik segelintir elit.

Kita mendambakan keajaiban moral—suatu titik balik di mana kebenaran terungkap terang-benderang tanpa ada lagi tirai manipulasi yang menutupinya.

Membongkar Pertanyaan Publik yang Selama Ini Menggantung

Menanggapi dinamika ini, sudah saatnya kita mengurai kembali berbagai pertanyaan besar yang selama ini berkecamuk di benak publik tetapi sering kali diredam oleh narasi kekuasaan: 

1. Mengapa Regulasi Begitu Mudah Dilenturkan?

Publik berhak bertanya, bagaimana mungkin aturan batas usia dan syarat pencalonan bisa diubah dalam hitungan hari melalui tangan lembaga yang seharusnya menjadi pengawal konstitusi?

Jawabannya terletak pada apa yang disebut Jenderal Gatot sebagai dominasi aktor politik di balik instrumen hukum.

Ketika hukum kehilangan independensinya, hukum berubah fungsi menjadi sekadar alat legalisasi syahwat kekuasaan. 

2. Di Mana Letak Meritokrasi?

Negara ini dibangun di atas prinsip meritokrasi—bahwa jabatan tinggi diraih melalui prestasi, keringat, dan rekam jejak yang teruji, bukan karena garis keturunan atau hak istimewa keluarga (privilege).

Ketika pintu gerbang negara dibuka secara instan bagi kalangan tertentu, jutaan anak bangsa yang berprestasi murni dipaksa menelan ludah kekecewaan. 

3. Mengapa Transparansi Dokumen Begitu Sulit?

Polemik keabsahan administratif yang terus dipertanyakan publik seharusnya dapat diselesaikan dengan cara paling sederhana: buka seluas-luasnya, verifikasi secara independen, dan tunjukkan kepada rakyat.

Ketertutupan yang dipelihara justru melahirkan spekulasi liar, merusak kepercayaan publik (public trust), dan menanam benih kecurigaan bahwa ada sesuatu yang memang sedang ditutupi.

Menyelamatkan Masa Depan Republik

Peringatan Jenderal Gatot Nurmantyo tentang posisi Presiden Prabowo yang berbahaya seharusnya dibaca sebagai early warning bagi keselamatan transisi kepemimpinan nasional.

Jika sebuah kekuasaan bayangan (shadow power) masih mencengkeram erat instrumen yudikatif dan legislatif, maka presiden yang sah sedang berjalan di atas ladang ranjau.

Kita semua mencintai negeri ini.

Kita tidak ingin Indonesia runtuh karena para pemimpinnya lebih memilih melanggengkan dinasti ketimbang merawat keadilan sosial.

Hari ini, di tengah karut-marut hukum dan siasat politik tingkat tinggi, suara rakyat kecil mungkin terdengar pelan.

Namun sejarah telah membuktikan berkali-kali: kekuasaan yang dibangun di atas fondasi kelenturan konstitusi pada akhirnya akan runtuh oleh gelombang kebenaran yang tak terbendung.

Semoga keajaiban itu nyata, dan terang itu lekas tiba.(*)


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung