Berita, Timur Tengah

Rudal Iran Makin Presisi, Trump Kelimpungan dan Diam-diam Cari Jalan Keluar, Serahkan Selat Hormuz ke Eropa dan Negara Teluk

Repelita.net

01 April 2026 21:00 WIB • 992 view

Rudal Iran Makin Presisi, Trump Kelimpungan dan Diam-diam Cari Jalan Keluar, Serahkan Selat Hormuz ke Eropa dan Negara Teluk
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Iran terus melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat dan kawasan Zionis Israel dalam Operasi True Promise 4 yang membuat Presiden AS Donald Trump kelimpungan, dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) beberapa kali mengunggah tayangan video rudal yang disertai tulisan menohok.

“Ketika pemerintahan Trump menghancurkan Amerika Serikat, kita tidak perlu rudal untuk mencapai wilayah Amerika,” demikian tulisan yang terpampang pada badan rudal Iran dalam unggahan IRGC, seolah ingin mengatakan bahwa tanpa melakukan apa pun terhadap wilayah AS, Trump sudah menghancurkan negaranya sendiri.

ADVERTISEMENT

Satu bulan perang sejak 28 Februari 2026 telah berlalu dan kalimat itu terasa makin sulit dibantah karena Trump yang memulai perang kini menuai buah simalakma yang ditaburnya sendiri.

Yang paling ironis, senjata-senjata mahal Amerika Serikat ternyata tidak otomatis memenangkan perang melawan negara yang memang tidak berniat menang secara konvensional.

Teheran tidak bertujuan memenangkan pertempuran di medan perang melainkan menguras senjata mahal yang terpaksa dipakai AS untuk menandingi senjata-senjata presisi dan terjangkau yang mereka miliki.

Amerika Serikat memang menyerang wilayah Iran, tetapi Iran selalu memastikan bahwa balasan yang dirasakan jauh lebih menyakitkan dengan rudal yang makin presisi, Selat Hormuz yang masih tercekik, sekutu-sekutu teluk AS yang protes, dan warga AS sendiri yang menghujat Trump besar-besaran.

Itulah kenapa kini diam-diam Trump mulai mengambil sikap Tacol atau Trump always chicken out dengan membuka opsi membiarkan perang berakhir tanpa terbukanya Selat Hormuz.

Amerika Serikat berkali-kali mengklaim sudah menghancurkan kemampuan rudal angkatan laut dan angkatan udara Iran, namun nyatanya jumlah serangan Teheran memang sengaja dibuat menurun tetapi tingkat kepresisiannya justru meningkat dua kali lipat.

Iran mengubah isi rudal mereka dari hulu ledak konvensional menjadi hulu ledak tandan yang berisi 20 sampai 80 bom kecil yang bisa melepaskan puluhan bom kecil saat berada di udara.

Hal ini membuat sistem pertahanan Amerika Serikat atau Israel kebingungan harus menargetkan ke mana dulu, sehingga serangan Iran yang menurun jumlahnya justru memberikan tekanan dua kali lipat lebih berat.

Selain pergantian cara bermain rudal, Iran juga menggunakan strategi dengan memilih Selat Hormuz sebagai arena persaingan untuk mencekik ekonomi dunia.

Harga minyak melonjak, industri pupuk kekurangan bahan baku, produksi cip komputer terganggu karena helium langka, dan beberapa negara terpaksa melakukan penghematan bahan bakar.

Iran kini mulai memonetisasi cengkramannya atas Selat Hormuz dengan membuka selat hanya untuk negara-negara yang dianggap tidak bermusuhan, dan lebih dari 20 kapal sudah melewati selat tersebut dengan beberapa di antaranya diduga membayar sekitar 2 juta dolar AS sekali menyeberang.

Para anggota parlemen Teheran pun sedang menggodok undang-undang yang mewajibkan negara-negara pengguna Selat Hormuz untuk membayar bea masuk yang jika berhasil dapat mencapai lebih dari 800 juta dolar AS per tahun.

Lalu kalau ancaman Selat Hormuz belum cukup, Iran masih punya kartu lain yakni Selat Bab el Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.

Awal mula Trump memulai perang ini adalah untuk melumpuhkan Teheran, mengganti rezim Republik Islam, serta menghancurkan rudal dan nuklir Iran, namun satu bulan berlalu dan tujuan itu masih jauh dari ideal.

Alhasil, diam-diam Trump mulai menggeser gawangnya sendiri dengan menyampaikan kepada para pembantunya bahwa ia bersedia mengakhiri perang dengan membiarkan Selat Hormuz tetap ditutup Iran.

Trump kini bergegas menarik pasukan dan mengklaim bahwa perang melawan Iran kemungkinan akan segera berakhir dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

“Menurutku, dalam dua atau tiga minggu lagi kita akan pergi, karena tidak ada alasan bagi kita untuk melakukan ini. Lihat mungkin begitu saja,” katanya dalam jumpa pers di Gedung Putih pada Selasa (31/3/2026).

Menariknya, Trump mengklaim bahwa berakhirnya perang tidak harus melalui kesepakatan formal dengan Iran karena menurutnya diplomasi bukanlah syarat utama untuk menghentikan operasi militer.

Direktur Program Kebijakan Luar Negeri di Brookings Institution, Suzanne Maloney, mengkritik Trump sangat tidak bertanggung jawab jika sekarang keluar dari perang dengan membiarkan Selat Hormuz tetap tertutup.

Menurut Maloney, Amerika Serikat dan Israel tidak bisa lepas tangan dari kekacauan yang sudah mereka buat karena kepercayaan mitra-mitra AS di kawasan Teluk bisa menguap dan tak lagi memandang Washington sebagai rekan kredibel.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung