Berita, Nasional

Pemerintah Genjot Proyek Hilirisasi Batu Bara Menjadi Metanol Kalimantan Timur Dan Sumatra Selatan Jadi Fokus Utama

Repelita.net

29 September 2026 18:19 WIB • 143 view

Pemerintah Genjot Proyek Hilirisasi Batu Bara Menjadi Metanol Kalimantan Timur Dan Sumatra Selatan Jadi Fokus Utama
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Langkah hilirisasi batu bara terus digenjot oleh pemerintah guna menciptakan bahan bakar alternatif baru. Kebijakan ini termasuk mengolah komoditas tersebut menjadi metanol untuk campuran bahan bakar minyak (BBM).

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) [Yuliot Tanjung](https://www.google.com/search?q=yuliot+tanjung&kgmid=/g/11vcb81710) mengungkapkan, investasi proyek ini diarahkan pada wilayah dengan cadangan batu bara besar. Salah satu lokasi pengembangannya saat ini berada di provinsi Kalimantan Timur.

ADVERTISEMENT

"Ini saya yang melakukan groundbreaking untuk kegiatan itu. Jadi ini ada beberapa yang di Kalimantan Timur itu sudah mulai. Yang kita dorong kegiatannya itu ada juga yang di Sumatra Selatan, ada daerah-daerah yang potensi batubaranya cukup besar. Itu terutama kita menggunakan batubara kalori rendah. Nah itu ada kerjasama teknologi," kata Yuliot ditemui di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Selasa (29/9/2026).

Lebih lanjut, Yuliot menerangkan bahwa output dari proses hilirisasi tersebut tidak langsung berwujud bensin. Fokus utama yang saat ini tengah dipacu oleh pihak pemerintah adalah memproses batu bara agar menjadi komoditas metanol.

"Jadi metanol itu kan bisa digunakan untuk sebagai pencampuran bahan takar minyak," ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, Sudirman Widhy selaku Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) memberikan pandangannya. Menurut beliau, pemanfaatan teknologi untuk mengubah batu bara menjadi bensin sangat mungkin dilakukan.

"Secara umum, mengubah batu bara menjadi bensin (gasoline) sangat memungkinkan. Teknologi untuk hal ini juga sudah ada," kata dia Rabu (23/9/2026).

Sudirman mencontohkan negara Afrika Selatan melalui perusahaan Sasol sebagai salah satu pihak yang sukses menguasai teknologi tersebut. Korporasi itu telah mengoperasikan fasilitas Coal to Liquid (CTL) untuk mengubah batu bara padat menjadi cair.

Sistem pengolahannya dimulai dengan mengonversi batu bara menjadi gas sintesis atau syngas. Bahan baku tersebut direaksikan menggunakan uap air serta oksigen pada suhu dan tekanan tinggi demi memicu karbon monoksida (CO) dan hidrogen (H2).

Tahapan berikutnya adalah memproses syngas menjadi metanol yang kemudian diturunkan lagi menjadi bensin atau Dimethyl Ether (DME). Kendati demikian, Sudirman memberikan catatan bahwa tantangan utama proyek ini bukan pada teknologi, melainkan nilai investasi.

"Permasalahan utama nya bukan mengenai teknologi, namun lebih kepada keekonomian," kata dia.

Besarnya dana investasi yang dibutuhkan menjadi faktor krusial yang membuat pelaku usaha swasta berpikir ulang untuk bergabung. Hal ini memerlukan perhitungan matang agar proyek pengolahan bahan bakar tersebut dapat berjalan secara ekonomis.

Sebagai bukti konkret, Sudirman mengingatkan kembali pada rencana proyek DME yang sebelumnya dirancang bersama mitra global. Rencana besar tersebut pada akhirnya mengalami kendala serius di tengah jalan akibat faktor komersial.

"Terbukti beberapa waktu lalu Air-Product dari Amerika Serikat, mundur dan enggan melanjutkan rencana utk pembuatan DME dari batubara ini, salah satunya karena alasan keekonomian," katanya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung