Berita, Nasional

Panji Pragiwaksono Soroti Politik Dinasti dan Meritokrasi: Sah Secara Hukum Belum Tentu Baik

Repelita.net

29 September 2026 15:48 WIB • 149 view

Panji Pragiwaksono Soroti Politik Dinasti dan Meritokrasi: Sah Secara Hukum Belum Tentu Baik
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Komika senior Panji Pragiwaksono belum lama ini hadir sebagai narasumber dalam sebuah bincang-bincang politik yang disiarkan melalui kanal YouTube Ruang Republik.

Dalam perbincangan tersebut, Panji menyoroti dinamika perpolitikan nasional, termasuk berbagai kritik tajam yang ia layangkan terhadap jalannya pemerintahan Presiden Joko Widodo.

ADVERTISEMENT

Panji menjelaskan bahwa kritik-kritik pedas yang ia sampaikan tidak pernah diniatkan untuk membuat pihak lain merasa tidak nyaman secara personal.

Menurutnya, langkah tersebut diambil sebagai upaya untuk mendorong diskursus publik agar isu-isu penting mendapatkan perhatian serta perbincangan luas di tengah masyarakat.

Ia menilai para pejabat publik terkadang terkesan menganggap remeh pemahaman masyarakat saat menyampaikan berbagai kebijakan di hadapan publik.

Oleh karena itu, Panji memilih untuk mengimbangi narasi tersebut melalui kapasitas yang dimilikinya agar tercipta keseimbangan dalam ruang demokrasi.

Topik mengenai politik dinasti menjadi salah satu sorotan utama yang dibahas secara mendalam dalam sesi wawancara eksklusif tersebut bersama sang pemandu acara.

Panji menyatakan bahwa kekhawatiran publik muncul karena praktik politik dinasti yang terjadi di level nasional dinilai memberikan contoh kurang ideal bagi masa depan bangsa.

Ia menuturkan bahwa Indonesia sebenarnya telah mengalami peningkatan tingkat literasi yang jauh lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Namun, ia mempertanyakan mengapa masyarakat masih kerap terjebak dalam pusaran praktik politik keluarga yang dinilai dapat mencederai prinsip meritokrasi.

Ketika disinggung mengenai tidak adanya aturan hukum yang dilanggar dalam kontestasi politik tersebut, Panji memberikan analogi sederhana mengenai perbedaan antara konsep benar dan baik.

Ia mencontohkan situasi saat seseorang mengendarai mobil di perempatan jalan dengan lampu lalu lintas menyala hijau yang memperbolehkan kendaraannya untuk maju.

Meski tindakan berjalan tersebut dinilai benar secara aturan, ia menilai langkah itu belum tentu menjadi keputusan yang tepat apabila terdapat situasi lain di sekitarnya.

Panji turut membagikan pengalamannya ketika berdiskusi dengan Ridwan Kamil mengenai tawaran posisi politik bagi anggota keluarga terdekat.

Berdasarkan perbincangan itu, ia menyebutkan bahwa keputusan untuk tidak maju diambil karena langkah tersebut dinilai kurang elok meski sah secara aturan hukum.

Ia khawatir fenomena penempatan posisi strategis berdasarkan kedekatan keluarga dapat melemahkan semangat generasi muda untuk menempuh jalur prestasi.

Menurutnya, perjuangan masyarakat melalui pendidikan tinggi, riset, serta keahlian akan menjadi sia-sia apabila kesempatan tersebut selalu dikalahkan oleh faktor kedekatan kekuasaan.

Lebih lanjut, Panji juga memberikan tanggapan terkait kritik kerasnya terhadap Partai Solidaritas Indonesia yang kerap diidentikkan sebagai wadah bagi kalangan muda.

Ia menilai bahwa kehadiran partai politik baru seharusnya mampu menghadirkan praktik politik yang menjunjung tinggi nilai positif serta transparansi kepada publik.

Menanggapi risiko atas seluruh sikap kritis yang selama ini ia ambil, Panji mengaku siap menghadapi berbagai konsekuensi yang mungkin akan terjadi di kemudian hari.

Ia menegaskan bahwa keberaniannya bersuara didasari oleh keinginan untuk mewariskan landasan kehidupan bernegara yang lebih baik bagi anak-anaknya di masa depan.

Di akhir perbincangan, Panji berpesan agar masyarakat Indonesia senantiasa bersikap kritis dan cerdas dalam menilai setiap rekam jejak serta niat para tokoh politik. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung