Repelita [Jakarta] - Makam mertua seniman Djaduk Ferianto di TPU Pakuncen, Yogyakarta, dirusak oleh juru kunci makam berinisial S.
Petra, istri mendiang Djaduk Ferianto, mengetahui kejadian tersebut saat hendak berziarah ke makam ayahnya yang telah meninggal sejak 1971.
ADVERTISEMENT
Ia terkejut karena nisan sang ayah dipotong rapi oleh orang tak dikenal.
Petra sempat menanyakan hal itu kepada petugas kebersihan makam yang menduga pelakunya adalah orang stres.
"Kaget sekali, sareane kok tidak ada, nisan sudah ditugel (dipotong). Padahal potongannya itu rapi. Pas saya tanya ke orang yang suka bersih-bersih di situ, bilangnya dipotong orang stres. Tapi kan kelihatannya rapi, tidak mungkin orang stres," ujarnya, Rabu (12/8/2026).
Saat mencoba menginterogasi petugas tersebut, jawaban yang diberikan berbelit-belit dan ia mengaku tak bisa memberikan nomor kontak juru kunci karena HP rusak.
Petra kemudian mendatangi Kantor Kelurahan Pekuncen, namun kelurahan menyatakan makam sisi barat masjid bukan wewenang Pemkot Yogyakarta.
Ia pun melaporkan kasus ini ke Polsek Wirobrajan.
Setelah upaya panjang, Petra akhirnya bertemu dengan juru kunci S yang mengakui perbuatannya.
"Niki nek mboten kula ngetenke, jenengan rak mboten madosi kula (Kalau tidak saya buat begini, Anda kan tidak bakal mencari saya)," kata S menirukan penuturan juru kunci.
S beralasan keluarga tidak pernah datang dan memberikan uang kepadanya secara langsung.
Namun Petra mengaku selalu rutin nyekar dan memberi uang kebersihan pada penjaga makam.
Ia pun merasa diperas oleh S.
"Ini kan sudah mulai ada indikasi pemerasan, premanisme. Dia beralasan orang-orangnya cuma ada di makam jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Lah, jam segitu kan saya kerja. Pas saya bilang Minggu saya kegiatan gereja, dia malah bilang 'Lah gene isa teka rene jam yah mene?' Saya jawab, ya karena kamu buat masalah," tandas Petra.
Petra akhirnya sepakat membayar Rp500 ribu kepada S serta Rp50 ribu untuk perbaikan makam dan Rp100 ribu setiap bulan.
Saat ditemui media, S membela tindakannya.
"Dengan adanya kejadian itu kan terus nemoni (menemui). Padahal kalau pagi itu tahu, soalnya ngirimnya bukan cuma sekali dua kali, udah berkali-kali udah bertahun-tahun pagi. Jadi ndak pernah ketemu sama juru kunci," ucapnya.
Ia mengaku tidak mematok nominal tertentu dan menyerahkan pada keikhlasan.
"Berapa? (Besarannya) terserah seikhlasnya, ning ya tepa-tepa nek ngekei Rp2.000, Rp5.000, untuk apa duit segitu," kata dia.
"Tapi ngerti dewe (tapi tahu sendiri). Wong situ tuh tiap hari dibersihkan tempatnya aja ibu e ya ngerti nek resik (bersih). Kok ora tahu (memberi)," kata S.
Petra menyayangkan ketidakjelasan aturan pengelolaan makam yang membuat juru kunci memiliki kekuasaan tanpa kontrol.
"Ini kan tidak cetha (tidak jelas). Lahan itu milik siapa? Apakah Kas Desa, Sultan Ground, atau malah milik pribadi juru kunci? Pemkot bilang itu bukan wewenang mereka. Jadi juru kunci seperti punya kekuasaan penuh tanpa kontrol," terangnya.
"Harus ada efek jera dan aturan yang cetha. Kalau memang ada biaya sewa, terbitkan aturannya. Bayar ke mana, berapa nominalnya, legalitasnya ada. Jangan pakai modal premanisme dan main rusak makam seperti ini. Orang tua kita sudah tenang disemayamkan, kok malah diogrek-ogrek (diganggu)," tegasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok