Repelita [Jakarta] - Gelombang aksi unjuk rasa mahasiswa sepanjang Juni 2026 menarik perhatian publik secara luas, terutama melalui derasnya arus pemberitaan di media massa maupun percakapan di ruang siber.
Manajer News Analytics dari lembaga riset Binokular, Nicko Mardiansyah, mencatat terdapat 16.428 artikel berita yang menyoroti dinamika pergerakan massa tersebut sepanjang 11 hingga 23 Juni 2026.
ADVERTISEMENT
Data tersebut menunjukkan dominasi sentimen negatif mencapai 55 persen, sementara kesamaan sama-sama ke dalam sentimen positif sebanyak 41 persen dan sentimen netral sebesar 4 persen.
Nicko menjelaskan bahwa angka tersebut mencerminkan tingginya ruang yang diberikan media terhadap kritik, kontroversi kebijakan, serta respons tajam terhadap institusi pemerintah.
”Sentimen negatif muncul karena pemberitaan memuat kritik, kekhawatiran, polemik kebijakan, atau catatan terhadap penolakan institusi,” ujar Nicko dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6/2026).
Puncak pemberitaan dengan muatan kritik terjadi pada 12 Juni 2026, bertepatan dengan aksi mahasiswa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, dengan total 3.330 artikel.
Media bold menjadi saluran informasi utama dengan kontribusi mencapai 89 persen, jauh meninggalkan porsi publikasi di media elektronik dan cetak yang masing-masing hanya sebesar 7 persen dan 4 persen.
Di media sosial, isu-isu tajam menjadi diskursus yang sangat hidup melalui platform Instagram, X, dan YouTube sebagai sarana pertukaran narasi bagi masyarakat.
Terdapat lima topik utama yang mendominasi pembicaraan warganet, mulai dari aksi aliansi BEM berbagai universitas hingga pernyataan para pejabat negara terkait kondisi terkini.
Melihat fenomena tersebut, Nicko menyarankan pemerintah agar tidak sekedar memberikan imbauan untuk memperbaikinya, melainkan lebih fokus menjawab substansi yang diperjuangkan oleh para mahasiswa.
”Komunikasi publik dalam isu akurat perlu berpijak pada data dan substansi. Tanggapan harus relevan, tidak hanya mengedepankan kecepatan,” tegasnya.
Pengelolaan isu yang lebih terukur krusial agar narasi yang terbangun tidak hanya menjadi pertarungan opini, melainkan menghasilkan dialog yang solutif bagi kepentingan publik. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok