Berita, Timur Tengah

Mohsen Rezaei Kembali Ke Pucuk Keamanan Iran Di Tengah Konflik Selat Hormuz, sinyal apa bagi AS?

Repelita.net

11 August 2026 13:50 WIB • 819 view

Mohsen Rezaei Kembali Ke Pucuk Keamanan Iran Di Tengah Konflik Selat Hormuz, sinyal apa bagi AS?
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Peta perpolitikan serta pertahanan Iran mengalami dinamika baru seiring masuknya figur senior militer ke dalam lingkar inti keamanan nasional.

Langkah strategis ini diambil Teheran di tengah proses tarik-ulur diplomatik bersama Amerika Serikat terkait masa depan Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

Mohsen Rezaei yang merupakan seorang veteran Korps Garda Revolusi Islam secara resmi kembali dipercaya menduduki pucuk pimpinan strategis.

Penunjukan tersebut diresmikan pada Minggu, 9 Agustus 2026, untuk mengisi dua posisi penting di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Rezaei diangkat sebagai sekretaris dewan sekaligus mengemban mandat sebagai representasi resmi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei.

Kembalinya sang jenderal sepuh bukan sekadar rotasi jabatan birokrasi biasa mengingat rekam jejak panjang yang dimilikinya.

Rezaei memiliki pengalaman luas melintang di berbagai sektor mulai dari kemiliteran, intelijen, hingga kebijakan makroekonomi negara.

Kehadirannya dinilai krusial ketika Teheran harus merumuskan sikap tegas menghadapi Washington, khususnya ihwal jalur distribusi energi global di Teluk.

Lahir pada 1954, Rezaei merupakan bagian dari generasi awal pasca-Revolusi Islam 1979 yang merintis karier militer gemilang.

Ia sempat mengemban amanah sebagai komandan tertinggi IRGC selama kurun waktu enam belas tahun sejak 1981 hingga 1997 silam.

Di bawah komandonya, tubuh IRGC tumbuh menjadi institusi pertahanan paling berpengaruh di dalam struktur kekuasaan domestik.

Selepas menanggalkan seragam militer, kiprah politiknya terus berlanjut melalui posisi mentereng sebagai sekretaris Dewan Penentuan Kepentingan Rezim.

Jabatannya di lembaga penengah sengketa antara parlemen dan dewan penjaga tersebut diemban selama lebih dari dua dekade.

Saat era kepemimpinan mendiang Presiden Ebrahim Raisi, Rezaei sempat dipercaya mengisi kursi wakil perdana bidang ekonomi.

Kini, penempatannya di dewan keamanan tertinggi mempertemukan kembali unsur politik, intelijen, serta komando militer di bawah satu kendali koordinasi.

Salah satu ujian terbesar di depan mata bagi dewan baru ini adalah penyelesaian status operasional Selat Hormuz.

Wilayah perairan sempit tersebut menjadi nadi utama lalu lintas kapal tanker minyak mentah dunia dari kawasan Teluk.

Bagi Teheran, jalur itu sekaligus berfungsi sebagai instrumen tawar-menawar geopolitik yang efektif terhadap tekanan militer asing.

Rezaei sendiri pernah secara terbuka menyatakan bahwa kendali penuh atas wilayah perairan tersebut jauh lebih bernilai strategis bagi negaranya.

Ia memandang pengamanan kawasan Teluk harus dikelola mandiri oleh negara-negara lokal tanpa intervensi kekuatan eksternal.

Dinamika internal pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian kini dihadapkan pada opsi antara membuka jalur diplomasi atau memperketat konfrontasi.

Pengalaman panjang Rezaei diproyeksikan mampu menjembatani perbedaan pandangan antar faksi di dalam struktur pemerintahan Iran.

Langkah pengangkatan ini memberikan sinyal kuat bahwa Teheran ingin memastikan daya gentar militernya tidak melemah di meja perundingan.

Seluruh arah kebijakan maritim ke depan dipastikan sangat bergantung pada hasil negosiasi intensif yang berlangsung di kawasan Teluk.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung