Berita, Nasional

MIRIP PERISTIWA 98: Sinyal Gerakan Oposisi Mahasiswa Menguat dari Jogja Seiring Hilangnya Rasa Takut Melawan Rezim

Repelita.net

28 October 2026 23:32 WIB • 81 view

MIRIP PERISTIWA 98: Sinyal Gerakan Oposisi Mahasiswa Menguat dari Jogja Seiring Hilangnya Rasa Takut Melawan Rezim
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Dinamika pergerakan mahasiswa yang menuntut evaluasi total jalannya roda pemerintahan dinilai kian memasuki babak krusial.

ADVERTISEMENT

Penyatuan kekuatan antara elemen pemuda kampus dengan lapisan masyarakat sipil diprediksi memicu eskalasi gelombang unjuk rasa yang berumur panjang.

Berdasarkan diskusi mendalam pada kanal YouTube UBEDILAH BADRUN: ADA SINYAL DARI JOGJA... MIRIP PERISTIWA 98..., terdapat indikator sosiologis mirip prakondisi reformasi masa lalu.

Analis sosiologi Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun menyoroti hilangnya rintangan rasa takut di dalam diri para aktivis generasi Z saat ini.

Ubedilah Badrun memberikan ulasan kritis yang berbunyi mereka punya jargon makin ditekan makin melawan upaya-upaya untuk mahasiswa ee bergerak dan beraktivitas selalu ada upaya untuk menghambat mereka tapi saya melihat bahwa mereka enggak ada takutnya betul itu urat takutnya itu sudah hilang gitu menarik karena juga kemudian mereka mengambil titik simpul di tugu tani itu apa itu patung seorang anak muda menggunakan topi petani itu atau caping lalu bersama ibunya itu menggambarkan seorang ibu merestui anaknya untuk berjuang di dalam medan peperangan ada yang menarik di Jogja kemarin dosen-dosen meliburkan kelasnya untuk bersama-sama membersamai gerakan mahasiswa di Jogja ini mulai ada tanda-tanda mirip-mirip 98 ya di mana dosen meliburkan kampusnya tidak mau mengajar dan dosen bersama-sama mahasiswa untuk turun ke jalan mereka pelajari itu teori-teori ee politik termasuk tentang oligarki he dan mereka cermati bahwa e Prabowo Gibran itu dianggap sebagai bagian penting dari oligarki politik ee kalau istilahnya Jeffre Winters itu disebut sebagai apa the rule the ruling eh oligarch bahkan tuntutannya sebetulnya sudah mulai menuntut misalnya e Prabowo Gibran turun sudah mulai itu di beberapa kota sudah mulai bahwa ee orang-orang paling bertanggung jawab yang membuat negara ini rusak saat ini adalah Presiden dan Wakil Presiden apa itu akan berhadap-hadapan nanti dengan kekuasaan oh iya mahasiswa seperti mendapatkan energi untuk berhadapan dengan kekuasaan jangan dianggap remeh ya h situasi ini bisa makin eskalasi bisa makin luar biasa ketika kemudian kekuasaan justru melakukan semacam pengabaian terhadap aspirasi publik pada hari Rabu tanggal 28 Oktober 2026.

Momentum demonstrasi yang bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda memperlihatkan pola taktis yang bergeser dari model aksi konvensional selama ini.

Para mahasiswa sengaja melepaskan simbol almamater kampus saat memadati ruang publik demi menegaskan posisi mereka yang melebur bersama rakyat.

Ubedilah Badrun menambahkan bahwa akumulasi kemarahan dipicu oleh tingginya angka pengangguran terdidik serta lambatnya respons pemerintah terhadap kasus karhutla.

Host diskusi Indra J Piliang memaparkan catatan historis mengenai bagaimana para pengunjuk rasa memanfaatkan simbol perjuangan kultural ikonik sebagai pemantik kesadaran.

Indra J Piliang merangkum narasi diskusi yang berbunyi sobat Mariok setelah pelaksanaan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto yang dilaksanakan di secara terbatas di Jalan Kertanegara mahasiswa dan elemen masyarakat sipil turun ke jalan dalam rangka mengevaluasi mengkritisi perjalanan pemerintahan selama 2 tahun terjadi beberapa bentrok ya terutama di daerah ee tapi Jakarta dalam suasana yang sangat kondusif cuma dengan model penyatuan gerakan yang berbeda dengan sebelumnya untuk membahas apa yang dilakukan oleh Gerakan mahasiswa dan elemen aksi yang lain dalam menghadapi rezim pemerintahan Prabowo Ibran ini kita kembali menghadirkan seorang analisis dari Universitas Negeri Jakarta sosiolog Bung Ubedah Badrut.

Adanya perubahan paradigma pengamanan dari institusi kepolisian yang dinilai lebih humanis di ibu kota memberikan ruang merdeka bagi publik.

Pihak pengamat mengingatkan agar penguasa tidak mengabaikan tuntutan normatif tersebut guna meredam potensi perluasan konflik dengan lingkaran kekuasaan Istana.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok







TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung