Repelita Jakarta - Dinamika politik nasional kembali memanas seiring dengan bergulirnya berbagai kritik tajam terhadap posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pernyataan menohok terkait situasi tersebut dilontarkan secara langsung oleh loyalis Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Dede Budhyarto.
ADVERTISEMENT
Melalui tanggapan politiknya, Dede Budhyarto menyoroti adanya gelombang tekanan yang diduga kuat mengincar kursi jabatan wakil presiden yang sedang diemban Gibran.
Dalam pandangannya, manuver politik yang dilakukan oleh sejumlah faksi partai tertentu dinilai sarat akan kepentingan kekuasaan semata.
Ia melayangkan sindiran keras terhadap dinamika komunikasi politik yang terjalin antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera.
Kedua kubu partai tersebut disorot lantaran dinilai mulai merapatkan barisan guna melancarkan tekanan politis terhadap pemerintahan saat ini.
Menurutnya, berbagai upaya hukum serta isu administratif yang terus digoreng di ruang publik tidak lepas dari target terselubung perebutan posisi strategis negara.
Para pengkritik dinilai sengaja memanfaatkan momentum polemik keabsahan dokumen pendidikan demi mendiskreditkan legitimasi kepemimpinan wakil presiden.
Dede Budhyarto menegaskan bahwa serangan bertubi-tubi tersebut mencerminkan kekecewaan mendalam atas kekalahan dalam kontestasi politik masa lalu.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah terkecoh oleh narasi-narasi provokatif yang dibungkus seolah-olah sebagai gerakan penegakan hukum murni.
Dukungan penuh publik diharapkan tetap diberikan kepada jalannya roda pemerintahan agar roda pembangunan nasional tidak terganggu oleh kegaduhan politik.
Upaya konsolidasi antarpartai oposisi dalam menekan pemerintah dipandang sebagai agenda jangka panjang untuk merusak stabilitas nasional.
Pihaknya optimistis bahwa gelombang tekanan politik tersebut akan mampu diredam melalui soliditas pendukung serta penegakan konstitusi yang benar.
Seluruh rangkaian polemik ini pada akhirnya dikembalikan kepada penilaian objektif rakyat Indonesia serta ketetapan Tuhan Yang Maha Esa. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok