Berita, Nasional

Ketergantungan PSI pada Jokowi Menjelang Pemilu 2029 Dinilai Bisa Jadi Bumerang

Repelita.net

16 May 2026 18:11 WIB • 747 view

Ketergantungan PSI pada Jokowi Menjelang Pemilu 2029 Dinilai Bisa Jadi Bumerang
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Strategi politik yang mengandalkan figur Joko Widodo oleh Partai Solidaritas Indonesia diprediksi dapat menimbulkan dampak negatif menjelang kontestasi pemilihan anggota legislatif mendatang.

Skenario buruk tersebut mulai mencuat seiring adanya kabar mengenai kondisi kesehatan mantan kepala negara yang diklaim sudah berangsur membaik dan siap melakukan kunjungan ke berbagai wilayah.

ADVERTISEMENT

Agenda perjalanan dinas kemasyarakatan yang dijadwalkan berlangsung pada paruh tahun ini dibaca oleh sejumlah kalangan sebagai upaya terstruktur untuk mendongkrak popularitas partai di daerah.

Komitmen untuk turun langsung ke basis massa sebetulnya sudah pernah diutarakan secara terbuka dalam forum pertemuan akbar pengurus partai yang digelar di wilayah Sulawesi Selatan awal tahun lalu.

Seorang pakar komunikasi politik dari institusi pendidikan tinggi melihat bahwa organisasi politik berlambang mawar tersebut memang masih sangat bertumpu pada pesona mantan presiden demi menaikkan angka keterpilihan.

Hingga saat ini jajaran pengurus pusat dinilai belum berhasil melahirkan sosok kader internal yang mempunyai daya pikat kuat di mata pemilih termasuk figur pemimpin tertingginya saat ini.

“Ketergantungan terhadap Jokowi semakin besar karena hingga saat ini elektabilitas PSI masih rendah. Hasil survei terakhir, elektabilitas PSI hanya 1,2 persen,” ujar Jamiluddin kepada RMOL, Sabtu, 16 Mei 2026.

Padahal langkah taktis berupa safari politik ke berbagai penjuru daerah sudah berulang kali diupayakan oleh jajaran teras partai demi memperkuat simpul kekuatan di tingkat bawah.

Beberapa wilayah strategis di kawasan bagian tengah dan timur Indonesia bahkan sempat digadang-gadang bakal bertransformasi menjadi lumbung suara utama bagi basis massa mereka.

“Nyatanya petinggi PSI tak muat mengerek elektabilitas partainya. Karena itu, PSI tampaknya tinggal berharap pada Jokowi agar mimpinya ke Senayan dapat terwujud,” katanya.

Kendati demikian analisis lain menyebutkan bahwa kalkulasi politik semacam itu tergolong sangat berisiko mengingat magnet ketokohan mantan walikota tersebut kini ditengarai mulai menyusut.

Daya pikat personal yang dahulu dinilai sangat sakti dalam memengaruhi pilihan politik warga masyarakat kini dianggap sudah tidak lagi berada pada performa puncaknya.

“Jokowi bukan lagi sosok yang mampu menghipnotis anak bangsa untuk berpihak kepadanya. Jokowi saat ini adalah sosok kontroversial, termasuk terkait ijazahnya,” ujarnya.

Lebih lanjut limpahan suara dari kelompok pendukung fanatik juga belum tentu berjalan linier serta otomatis mampu meloloskan ambisi partai menembus ambang batas parlemen.

Alih-alih mendatangkan keuntungan elektoral, pola pendekatan yang terlalu bertumpu pada satu figur justru dikhawatirkan memicu resistensi dan pandangan miring dari masyarakat luas.

“Berharap pada Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas PSI tampaknya akan berujung pada kekecewaan. Kehadiran Jokowi ke penjuru tanah air membawa panji-panji PSI bisa jadi malah menjadi bumerang,” pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung