Berita, Publika Repelita

Kelakar “Udah Mati”, Gadang Ota atau Besar Omong, dan Polemik Gaya Komunikasi Purbaya

Repelita.net

15 September 2026 13:40 WIB • 702 view

Kelakar “Udah Mati”, Gadang Ota atau Besar Omong, dan Polemik Gaya Komunikasi Purbaya
Foto: Istimewa

Oleh: Rina Syafri

Pergantian Menteri Keuangan secara mendadak menjadi perhatian publik. Purbaya Yudhi Sadewa dicopot dari jabatannya dan digantikan oleh Suahasil Nazara. Momentum pergantian tersebut menarik perhatian karena berlangsung beberapa hari setelah Purbaya memberikan penjelasan mengenai restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Whoosh dengan tenor hingga 80 tahun.

ADVERTISEMENT

Saya tidak ingin menyimpulkan bahwa pencopotan Purbaya berkaitan dengan pernyataannya mengenai utang Whoosh. Sampai terdapat penjelasan resmi mengenai alasan pergantian tersebut, hubungan antara kedua peristiwa itu sebaiknya tetap ditempatkan sebagai pertanyaan publik, bukan sebuah kesimpulan.

Namun, sebagai rakyat awam, saya merasa wajar apabila gaya komunikasi seorang pejabat negara ikut menjadi perhatian. Terlebih yang dibicarakan adalah persoalan utang dengan jangka pembayaran yang sangat panjang dan menyangkut kepentingan negara.

Ketika ditanya mengenai tenor 80 tahun, Purbaya menjawab, “Delapan puluh tahun saya dengar kemarin, makanya hebat juga tuh. Iya, kita udah mati, santai aja. Eh, gue yang udah mati, gue.”

Bagi saya, jawaban tersebut terdengar terlalu santai untuk persoalan yang sebenarnya serius. Bisa saja maksud Purbaya adalah bercanda atau menggambarkan betapa panjangnya tenor tersebut. Tetapi sebagai masyarakat biasa, saya tetap merasa ada sesuatu yang kurang tepat dari cara penyampaiannya.

Sebab, utang negara bukan persoalan yang berhenti ketika seorang pejabat selesai menjabat. Ketika pembayarannya berlangsung puluhan tahun, kewajiban tersebut dapat menjadi persoalan lintas generasi. Karena itu, masyarakat tentu berharap mendapatkan penjelasan yang tenang, jelas, dan mudah dipahami.

Dalam budaya Minang, ada istilah “gadang ota” yang secara umum digunakan untuk menggambarkan seseorang yang banyak bicara atau membesar-besarkan sesuatu. Saya menggunakan istilah tersebut bukan sebagai vonis terhadap pribadi Purbaya, melainkan sebagai gambaran atas kesan yang mungkin muncul ketika seorang pejabat menggunakan gaya komunikasi yang sangat percaya diri dalam menjelaskan persoalan ekonomi.

Kesan tersebut menjadi semakin menarik karena Purbaya sebelumnya juga pernah mendapat kritik terkait gaya komunikasinya yang dianggap terlalu percaya diri atau “omong gede”. Purbaya kemudian menjelaskan bahwa gaya tersebut merupakan bagian dari strategi untuk memulihkan psikologi pasar dan perekonomian nasional.

Saya memahami bahwa pemerintah memang membutuhkan optimisme. Dunia usaha dan pasar membutuhkan kepercayaan, kepastian, serta keyakinan bahwa perekonomian berada dalam arah yang benar.

Tetapi menurut saya, optimisme tidak harus selalu disampaikan dengan gaya yang berlebihan. Ada perbedaan antara memberikan keyakinan kepada pasar dengan membuat masyarakat awam merasa bingung terhadap maksud sebuah pernyataan.

Sebagai rakyat biasa, saya tentu tidak memahami seluruh perhitungan ekonomi dan fiskal yang menjadi pertimbangan pemerintah. Justru karena keterbatasan itu, saya berharap pejabat yang menguasai persoalan tersebut dapat memberikan penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan rasional.

Ketika mendengar utang Whoosh direstrukturisasi hingga 80 tahun, pertanyaan saya sebenarnya sederhana. Bagaimana mekanisme pembayarannya, bagaimana risikonya bagi keuangan negara, dan apakah skema tersebut benar-benar membuat beban fiskal menjadi lebih sehat dalam jangka panjang?

Menurut saya, pertanyaan seperti itu jauh lebih penting daripada memperdebatkan apakah pernyataan seorang menteri merupakan candaan atau bukan.

Pergantian Purbaya beberapa hari setelah pernyataan tersebut tentu membuat publik menghubungkan berbagai peristiwa. Namun, sekali lagi, saya tidak ingin mengatakan bahwa pernyataan mengenai Whoosh menjadi penyebab dirinya dicopot karena hal tersebut belum dapat dipastikan.

Yang menurut saya lebih penting adalah pelajaran dari persoalan ini. Jabatan publik bukan hanya mengenai kewenangan mengambil keputusan, tetapi juga mengenai bagaimana seorang pejabat berkomunikasi kepada masyarakat.

Seorang menteri memiliki posisi yang berbeda dengan masyarakat biasa. Setiap kalimat yang keluar dari seorang pejabat dapat ditafsirkan lebih serius karena berkaitan dengan kebijakan negara dan dapat memengaruhi persepsi publik maupun pelaku ekonomi.

Karena itu, menurut saya, humor tetap mempunyai tempat dalam komunikasi seorang pejabat. Namun, ketika topiknya menyangkut utang, APBN, dan kewajiban negara dalam jangka puluhan tahun, kehati-hatian dalam memilih kata menjadi sesuatu yang penting.

Saya tidak sedang menghakimi Purbaya. Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa seluruh kebijakan yang pernah disampaikannya keliru. Kritik saya lebih sederhana: rakyat membutuhkan penjelasan yang bisa dipahami, bukan sekadar keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Jika “omong gede” memang dimaksudkan sebagai strategi untuk membangun optimisme ekonomi, maka masyarakat berhak menilai apakah cara tersebut efektif atau justru menimbulkan persepsi berbeda.

Begitu pula dengan candaan mengenai “sudah mati”. Bagi sebagian orang mungkin itu hanya kelakar. Tetapi bagi sebagian masyarakat lainnya, kalimat tersebut bisa terdengar kurang sensitif ketika konteks pembicaraannya adalah kewajiban negara yang berlangsung hingga puluhan tahun.

Pada akhirnya, pergantian Menteri Keuangan merupakan kewenangan Presiden. Publik tidak perlu tergesa-gesa membuat kesimpulan mengenai alasan di balik keputusan tersebut.

Tetapi publik juga memiliki hak untuk bertanya. Bertanya bukan berarti menuduh, dan mengkritik bukan berarti membenci.

Bagi saya, persoalan Purbaya dan utang Whoosh seharusnya menjadi pengingat bahwa komunikasi pejabat negara perlu berjalan bersama transparansi, kehati-hatian, dan rasa tanggung jawab. Pasar membutuhkan optimisme, sementara rakyat membutuhkan penjelasan yang masuk akal.

Tenor utang boleh mencapai 80 tahun, tetapi komunikasi pemerintah kepada rakyat tidak boleh kehilangan keseriusan.(*)

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung