Berita, Nasional

Joko Intarto Sebut Pejabat Keliru Nilai Pelemahan Rupiah Tidak Berdampak pada Rakyat Pedesaan

Repelita.net

16 May 2026 23:35 WIB • 896 view

Joko Intarto Sebut Pejabat Keliru Nilai Pelemahan Rupiah Tidak Berdampak pada Rakyat Pedesaan
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pengamat sekaligus kolumnis ekonomi Joko Intarto menyoroti depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kian mengkhawatirkan hingga menembus angka 17.600 per USD di tengah klaim sejumlah pejabat publik bahwa fenomena ini tidak berdampak pada masyarakat pedesaan.

Menurut analisisnya, pernyataan dari otoritas pemerintahan tersebut sangat kontradiktif dengan realitas di lapangan lantaran kelompok masyarakat di daerah pelosok justru menjadi pihak yang paling rentan terkena imbas langsung dari fluktuasi mata uang asing tersebut.

ADVERTISEMENT

Meskipun warga di pedesaan tidak memiliki aset berupa valas maupun instrumen saham global, ketergantungan mereka terhadap konsumsi lauk pauk harian seperti tahu dan tempe membuat isi dompet mereka secara otomatis tergerus oleh penguatan mata uang asing.

Hubungan kausalitas antara pergerakan kurs dengan menu makanan di dapur rakyat dipicu oleh status komoditas kedelai yang persentase pemenuhannya masih didominasi oleh kebijakan impor dengan menggunakan standar transaksi keuangan internasional.

Kondisi tersebut memicu kepanikan di tingkat pengrajin lokal yang berujung pada penyusutan dimensi fisik tempe di pasaran demi menyiasati lonjakan biaya produksi tanpa harus menaikkan harga jual eceran setinggi langit kepada konsumen.

Ironisnya, sebagai salah satu negara dengan tingkat penyerapan kedelai terbesar di dunia, Indonesia justru harus bergantung pada pasokan eksternal karena hasil panen domestik hanya mampu menyuplai sekitar 15 persen dari total kebutuhan tahunan yang mencapai 3 juta ton.

Faktor utama yang menyebabkan mandeknya produksi dalam negeri adalah rendahnya minat petani lokal akibat nilai keekonomian kedelai yang kalah bersaing dengan komoditas pertanian komersial lain seperti kelapa sawit, jagung, maupun tanaman cabai.

Selain itu, kesenjangan produktivitas lahan tropis yang hanya menghasilkan maksimal 2 ton per hektare membuat efisiensi pertanian Indonesia tertinggal jauh dari pola modernisasi skala luas berbasis teknologi tinggi yang diterapkan di Amerika Serikat atau Brasil.

Kondisi tersebut kian diperparah dengan melimpahnya pasokan kedelai impor yang memiliki karakteristik ukuran lebih superior dan harga lebih ekonomis, sehingga mengikis motivasi para petani lokal untuk terus mempertahankan budidaya tanaman tersebut.

Joko Intarto menegaskan bahwa narasi mengenai kemandirian pangan nasional selalu menjadi komoditas politik yang digaungkan secara berulang saat kontestasi pemilu, namun realisasinya selalu dilupakan begitu saja setelah masa kampanye berakhir.

Ia menyayangkan komitmen pemerintah yang mampu menggarap megaproyek infrastruktur modern seperti kereta cepat, namun masih mengalami kegagalan total dalam melepaskan ketergantungan pasokan bahan baku makanan pokok rakyat dari kapal logistik asing.

Oleh karena itu, anggapan bahwa dinamika moneter global tidak menyentuh kehidupan masyarakat kecil adalah kekeliruan besar karena pergerakan nilai tukar pada akhirnya menjadi penentu utama terhadap porsi makanan yang tersaji di meja makan warga miskin.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung