Repelita [Jakarta] - Agenda peringatan dua dekade lebih satu tahun perdamaian di Serambi Mekkah pada hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2026 berubah menjadi kericuhan.
Selepas bentrokan pecah di sekitar kompleks Masjid Raya Baiturrahman massa aksi lantas berjalan kaki menuju arah Pendopo Gubernur Aceh.
ADVERTISEMENT
Titik lokasi rumah dinas kepala daerah tersebut memang terletak tidak terlampau jauh dari kawasan tempat ibadah ikonik itu.
Sebelumnya gejolak bermula tatkala rangkaian acara doa bersama serta penyampaian orasi memperingati Hari Damai Aceh tuntas sekitar pukul 11.00 WIB.
Suasana pelataran masjid seketika bergolak tatkala ratusan orang mengibarkan bermacam atribut panji mulai dari bendera putih hingga lambang bulan bintang.
Bahkan sejumlah peserta aksi turut membentangkan bendera resmi milik institusi internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa di tengah kerumunan.
Tindakan pengibaran berbagai lambang tersebut langsung menyulut ketegangan serius dengan barisan petugas keamanan yang berjaga di lokasi.
Situasi yang tak terkendali akhirnya memicu bentrokan fisik terbuka hingga menyebar luas ke sejumlah titik sudut kota lainnya.
Satu unit kendaraan roda dua beserta satu mobil operasional milik aparat penegak hukum dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat amukan massa.
Gelombang kerusuhan kian tak terbendung manakala kelompok demonstran melanjutkan long march menuju gerbang Pendopo Gubernur Aceh.
Sambil mengusung panji bergambar bulan bintang rombongan tersebut merangsek masuk ke halaman dalam pendopo menjelang pukul 14.40 waktu setempat.
Sebagian dari mereka nekat memanjat bagian struktur bangunan untuk mencopot atribut lambang negara Garuda Pancasila di area atap.
Tidak berhenti sampai di situ aksi perusakan berlanjut dengan menurunkan paksa bendera Sang Merah Putih serta panji rumbai di kompleks pendopo.
Beraneka macam ornamen hiasan lingkungan sekitar rumah dinas tersebut turut menjadi sasaran amuk dengan cara diseret ke tanah.
Akibat tindakan anarkis tersebut area halaman Pendopo Gubernur Aceh tampak berantakan dengan puing serta atribut berserakan di mana-mana.
Padahal agenda peringatan hari damai tersebut seharusnya menjadi momentum bersama untuk merawat stabilitas serta kerukunan daerah. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok