Berita, Viral Sosmed

[HEBOH] Ferry Koto Semprot Prabowo Soal Pendidikan Karena Asal Diskusi Dengan Staf Daripada Pakar Ahli

Repelita.net

10 August 2026 19:07 WIB • 763 view

[HEBOH] Ferry Koto Semprot Prabowo Soal Pendidikan Karena Asal Diskusi Dengan Staf Daripada Pakar Ahli
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pengamat publik Ferry Koto melayangkan kritik terbuka terhadap cara Presiden Prabowo Subianto menyikapi ketertinggalan mutu pendidikan nasional dibanding negara tetangga.

Ia menilai argumentasi kepala negara yang menyalahkan luas wilayah dan jumlah penduduk sebagai alasan keterbelakangan merupakan bentuk pandangan yang keliru.

ADVERTISEMENT

Saran agar pimpinan negara bertukar pikiran dengan ahli ketimbang lingkaran staf internal disampaikan secara lugas melalui unggahan media sosial X di @ferrykoto

pada 10 Agustus 2026.

"Ini lah dampak jika Presiden @prabowo diskusi soal persekolahan dengan Teddy dkk, bukan dengan Menteri yg mengurusi pendidikan. Minimal diskusi dgn saya pak, akan sy tunjukan fatal sekali kelirunya bapak membela diri tertinggalnya pendidikan Indonesia dibanding Singapura karena Singapura jauh lebih kecil," tulis Ferry Koto.

Skema pendelegasian wewenang ke tingkatan daerah sejatinya sudah berjalan sejak berlakunya otonomi khusus.

"Pak Prabowo, sejak 2001, Indonesia sudah mendistribusikan kewenangan pengelolaan sekolah ke Pemda. Ingat dari 2001. Dulu, sebelum UU Pemda (UU 23/2014), seluruh sekolah formal itu dari SD sampai SLTA dikelola Kabupaten/Kota. Setelah UU Pemda, mulai 2016, kewenangan konkuren pengelolaan SLTA ke Provinsi, sementara SD sampai SLTP tetap di Kab/Kota," jelasnya.

Penataan di tingkat daerah dinilai memiliki skala tanggung jawab yang relatif sepadan dengan pengelolaan negara kota.

"Jadi, jika dibanding jumlah penduduk, luasan daerah, jumlah sekolah yang diurus, maka lebih kurang sama saja antara Singapura dan Pemda. Tapi kenapa tetap saja tertinggal?" tanyanya.

Akar permasalahan utama justru dituding bersumber dari inkonsistensi regulasi di jajaran pemerintah pusat.

"Bagi orang yang lama diurusan pendidikan, pasti tahu masalahnya pak, yaitu pemerintah pusat. Dimana Pempus membuat kebijakan yang suka berubah-ubah, mulai dari Kurikulum hingga kebijakan pembiayaan pendidikan. Walau tak menutup mata, ada juga daerah yang tidak beres mengurusi persekolahan," ungkapnya.

Perbandingan kebijakan pemuliaan profesi pendidik di Singapura diangkat sebagai cermin perbaikan.

"Pemerintah Singapura mengambil kebijakan menaikkan gaji guru sekian persen yang mulai berlaku 1 Oktober nanti. Padahal Gaji guru di Singapura sudah sangat tinggi, berlipat-lipat diatas gaji Guru di Indonesia. Alasan pemerintah Singapura sederhana, Gaji Guru harus dinaikan lebih tinggi dari rata-rata profesi lain, tidak boleh lebih rendah, agar talenta2 terbaik mau menjadi Guru, tidak hanya lari ke profesi lain," paparnya.

Fokus penanganan di tanah air disindir lantaran malah sibuk dengan persoalan pencetakan bahan ajar serta program pendukung lainnya.

"Bandingkan dgn pemerintahan bapak. Bukannya menaikan Gaji Guru yang masih sangat-sangat rendah (tidak manusiawi menurut saya) yang dipikirkan agar talenta terbaik berlomba jadi Guru, malah otak-atik soal buku. Malah punya ide memperbaharui seluruh buku sekolah yang tidak perlu dilakukan karena kita sudah punya BSE atau SIBI," tegasnya.

Alokasi dana fantastis untuk agenda makan siang gratis turut dibandingkan dengan kondisi sarana fisik sekolah yang minim penanganan.

"Belum lagi kebijakan2 ndak jelas arah lainnya, misal MBG dengan anggaran ratusan Triliun yg diberikan ke siswa tanpa kajian. Sementara gedung sekolah untuk memperbaikinya dilakukan bertahap dengan alasan anggaran terbatas. Negara lain serius dan fokus membereskan pendidikan rakyatnya, pak Presiden. Di Negara kita malah cari-cari proyek di bidang pendidikan yang acap tidak ada hubungan dgn peningkatan kualitas pendidikan," kencang Ferry Koto menyindir.

Pengalaman negara berpopulasi raksasa seperti Tiongkok diajukan sebagai bukti pembantah asumsi geografis.

"Kembali soal jumlah penduduk. Besar kecilnya negara, tak boleh dijadikan alasan kenapa pendidikan di negara kita masih tertinggal pak Presiden. Bapak lihat China, jauh lebih besar wilayahnya dan jumlah penduduknya, serta tingkat kesulitan akses daerahnya juga tinggi, tapi persekolahnnya jauh lebih maju dari Indonesia. Jika ingin maju persekolahan kita seperti Singapura dan China, ya tinggal Presidennya punya visi dan program yang jelas saja sebenarnya. Dan yang penting, teman diskusinya jangan Teddy pak Presiden," pungkasnya.

Unggahan tersebut langsung memicu banjir komentar dari kalangan netizen yang menyampaikan beragam tanggapan.

Akun @ese_oak menulis komentar: "Menurut saya, beliau sampe ngurusin buku tuh udah bener2 micro management...ketimbang ngurusin kue besarnya yaitu kurikulum, malah ngurusin buku karena hurufnya kecil2 Padahal pendidikan tuh klo emang mau digarap serius, udah gampang sekali mengembangkannya Probis, kita".

Netizen @IrwanMuhammad_7 menambahkan pandangannya: "Terlihat alasan yg disampaikan oleh Presiden & pembantunya utk melindungi MBG agar MBG tetap jalan. Adianya program MBG, menurunkan alokasi anggaran pendidikan thn 2026 Rp.122,73 T atau berkurang 18,37% dari alokasi pendidikan thn 2025 Rp.668,26 T. Lihat".

Sementara akun @IkhsanRdh menyampaikan pendapatnya: "Cuap soal pendidikan tapi setengah ngerti. Jadi presiden harus banyak ilmu dan pengetahuan. Tapi andai terbatas angkatlah orang-orang pintar termasuk akademisi dan diskusilah agar paham betul masalahnya. Jangan sok pinter sendiri tapi kebelinger".

Tanggapan pedas juga datang dari akun @jianshen1309: "Pemimpinnya aja yg kurang ngopi dan Tolol ... Ngapain ngurusin sekolah se-Indonesia .. kan ada dinas pendidikan di tiap daerah ... Semoga Subianto ikut makan MBG biar 1Qnya nambah jangan seperti orang utan".

Akun @ManggisBiring turut memberikan respons: "Saya curiga pak @prabowo ini memang benar pengidap NPD. Merasa dirinya pusat perhatian dunia, walau banyak ucapan dan tindakannya yang konyol dan keliru. Menjumlah angka saja dia sulit tp sok2an bicara pendidikan!? Hampir setiap hari keliru!!!".

Kritik tajam disampaikan akun @girikedaton_: "Kalau depan mic omongannya ngawur @prabowo . Bung @ferrykoto nyenggol Teddy gak takut di serang para buzzerRp Nya".

Sentilan keras juga dilayangkan akun @RonnieRusli: "Dia bukan orang sekolahan tapi orang kaburan/lari ke Yorsania karena ketakutan. Jadi percuma ngomong soal pendidikan karena dia bukan lulusan universitas. S1 saja tdk. Percuma bixara pendidikan karena bukan lulusan dari Lemhanas juga??".

Permasalahan tenaga pendidik disinggung oleh akun @AFamin_: "Gimana pendidikan mau maju, setiap tahun ada guru pensiun, tp pengangkatan guru belum tentu tiap tahun ada, akhirnya guru yg ngajar seadanya tidak sesuai formasi, coba bandingkan dengan militer yg tiap tahun seleksi besar-besaran".

Diakhiri dengan penegasan dari akun @temujin2406: "Begitulah pak, ini kisah nyata. Silahkan pak Ferry cek sendiri di daerah. Betapa mereka kekurangan guru hingga mereka membiarkan ada guru honorer, karena mereka tidak ada dana untuk melakukan rekrutmen guru. Dananya pada ilang kena efisiensi, ditambah lagi ada uu hkpd." (*)

Editor: 91224 R-ID Elok




TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung