Berita, Nasional

[GEGER] Pengukuhan Puluhan Ormas Oleh Hashim Djojohadikusumo Dinilai Sebagai Benteng Pertahanan Politik Untuk Redam Suara Kritis Publik

Repelita.net

11 August 2026 15:27 WIB • 458 view

[GEGER] Pengukuhan Puluhan Ormas Oleh Hashim Djojohadikusumo Dinilai Sebagai Benteng Pertahanan Politik Untuk Redam Suara Kritis Publik
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Langkah pengukuhan dua puluh organisasi kemasyarakatan baru di bawah Forum Masyarakat Indonesia Emas memicu sorotan tajam dari berbagai kalangan pengamat politik.

Langkah strategis yang dimotori oleh Hashim Djojohadikusumo tersebut dinilai bukan sekadar instrumen pengawalan program pembangunan negara semata.

ADVERTISEMENT

Pengamat kebijakan publik menduga manuver pengumpulan ratusan elemen massa ini berfungsi sebagai lapis pertahanan politik jangka panjang yang terstruktur.

Akumulasi kekuatan akar rumput tersebut disinyalir dirancang untuk meredam potensi perlawanan serta suara kritis terhadap kebijakan pemerintah.

Mesin mobilisasi massa ini berpotensi difungsikan sebagai sarana penciptaan opini tandingan manakala timbul gejolak sosial ataupun penolakan kebijakan publik.

Pengamat turut menyoroti posisi strategis tokoh penggerak sebagai kerabat dekat kepala negara serta pemegang jabatan penting di lingkaran kekuasaan.

Konsolidasi kekuatan di luar struktur formal kenegaraan tersebut memunculkan kekhawatiran adanya upaya melanggengkan pengaruh politik keluarga secara sistematis.

Di sisi lain, publik diingatkan agar tetap kritis terhadap potensi kemunculan narasi dukungan buatan dalam setiap dinamika demonstrasi sosial ke depan.

Masyarakat diminta jeli membedakan antara aspirasi murni rakyat dengan gerakan terorganisasi yang lahir dari ruang rapat elite kekuasaan.

Maki menyampaikan pandangannya melalui catatan publik terkait fenomena konsolidasi kekuatan massa tersebut.

"Saya baca berita soal Hashim kukuhkan 20 ormas baru ke dalam FORMAS (Forum Masyarakat Indonesia Emas), dan yang langsung kepikiran ini bukan cuma soal ngawal program pemerintah, tapi lebih ke arah membangun benteng pertahanan politik yang super kokoh," ujar Maki.

Ia menambahkan bahwa mobilisasi ratusan elemen masyarakat di bawah satu komando menyerupai pola konsolidasi kekuatan akar rumput.

"Fungsinya jelas, misal buat ngorganisir loyalitas biar suara-suara kritis di akar rumput bisa diredam dengan istilah pengawalan yang sebenarnya berarti gak boleh ada yang berani nentang," lanjut Maki.

Potensi penggunaan jaringan massa tersebut dinilai efektif untuk menciptakan legitimasi buatan dalam merespons kebijakan kontroversial.

"Terus bisa juga menjadi mesin legitimasi yang ampuh banget, karena kapan pun ada kebijakan kontroversial kayak MBG atau penangkapan aktivis, ormas-ormas ini bisa langsung diterjunkan buat bikin narasi tandingan seolah-olah itu suara rakyat, padahal jelas mobilisasi terstruktur dari atas," tutur Maki.

Jaringan masif ini juga diproyeksikan menjadi instrumen pengamanan pengaruh politik menjelang kontestasi pemilihan umum berikutnya.

"Berfungsi buat jaring pengaman buat Pemilu 2029, semacam mesin politik permanen yang udah disiapin dari sekarang," kata Maki.

Pengaruh keluarga penguasa dinilai semakin kuat dengan terkonsentrasinya jaringan sipil di bawah kendali figur sentral lingkaran istana.

"Dan yang paling krusial, ini adalah perpanjangan kekuasaan keluarga secara terang-terangan, karena Hashim bukan cuma adik Presiden tapi juga punya posisi strategis sebagai Utusan Khusus dan komisaris utama di perusahaan WIFI," ungkap Maki.

Konsolidasi kekuatan tersebut dikhawatirkan menggeser esensi asli pengawasan pembangunan menuju penguatan hegemoni politik praktis.

"Jadi ketika dia ngegas ngumpulin 103 ormas, ini bukan lagi tentang ngawal program, tapi tentang membangun kekuatan politik di luar struktur formal negara yang sepenuhnya di bawah kendali keluarga penguasa, biar kekuasaan tetap aman bahkan setelah Prabowo pensiun nanti," ujar Maki.

Dugaan rekayasa narasi dukungan publik diyakini bakal terlihat jelas dalam setiap aksi penyampaian pendapat di ruang publik.

"Btw, kalo ada demo mahasiswa besok, kita bakal liat ormas-ormas ini turun dengan narasi “rakyat mendukung pemerintah”, dan kita semua tau itu bukan gerakan spontan tapi sudah dirancang dari ruang rapat," pungkas Maki.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung