Berita, Nasional

Dinkes Bandung Barat Sebut 31 Korban Keracunan Program Makanan Bergizi Gratis Termasuk Seorang Guru SDN 2 Cipeundeuy

Repelita.net

13 September 2026 23:26 WIB • 350 view

Dinkes Bandung Barat Sebut 31 Korban Keracunan Program Makanan Bergizi Gratis Termasuk Seorang Guru SDN 2 Cipeundeuy
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Puluhan orang dilaporkan harus menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan akibat mengalami gejala keracunan yang diduga bersumber dari program makanan bergizi gratis.

Insiden tersebut melibatkan para siswa serta tenaga pendidik dari Sekolah Dasar Negeri 2 Cipeundeuy yang terletak di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

ADVERTISEMENT

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat Lia N Sukandar mengonfirmasi bahwa korban terdampak tidak hanya berasal dari kalangan pelajar semata.

"Iya semua dari SDN 2 Cipeundeuy, ada guru satu orang," kata Lia saat dikonfirmasi, Minggu (13/9/2026).

Berdasarkan rekapitulasi data sementara yang dihimpun instansi kesehatan, jumlah total korban yang mengalami keracunan makanan mencapai 31 orang.

Para korban dilaporkan merasakan serangkaian keluhan fisik mengganggu mulai dari mual, muntah, rasa pusing di kepala, hingga demam tinggi.

"Mereka dibawa ke RS IMC Cimareme dan sejumlah fasilitas kesehatan untuk menjalani perawatan," ungkapnya.

Proses penanganan darurat langsung disebar ke beberapa titik fasilitas pelayanan medis baik yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat maupun Kota Cimahi.

"Laporan terakhir yang masuk, di RS Cibabat Kota Cimahi ada 14 dengan 5 diantaranya sudah pulang, Klinik Harapan Sehat ada 7 orang, dan IMC ada 10," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bandung Barat Lia N Sukandar saat dikonfirmasi, Minggu (13/9/2026).

Keluhan klinis yang dialami para korban saat mendatangi instalasi gawat darurat menunjukkan adanya indikasi gangguan pencernaan akut.

"Kami memang menerima laporan pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan mual pusing, diare, ada demam," ungkapnya.

Tim medis dikabarkan telah bergerak cepat melakukan wawancara medis guna menggali riwayat konsumsi makanan dari masing-masing korban.

Berdasarkan keterangan sementara, para korban diketahui menyantap hidangan program tersebut di lingkungan sekolah pada hari Rabu sore.

"Kejadian anamnesa wawancara dengan pasien, ada yang makan hari Rabu dan hari Kamis, dua hari itu," jelasnya.

Kendati demikian, pihak dinas kesehatan menegaskan bahwa instansi berwenang belum dapat menarik kesimpulan akhir mengenai pemicu pasti insiden keracunan massal ini.

Langkah pengujian klinis secara komprehensif melalui laboratorium higienitas pangan mutlak diperlukan sebelum mengumumkan hasil investigasi resmi.

"Saat ini kami belum bisa berbicara banyak, idealnya kami mengatakan keracunan itu harus ada sample amakanan yang diambil, biasanya kami kirim ke labkesmas," tandasnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung