Berita, Nasional

Benny K Harman Sebut Kedudukan Gibran Wapres Batal Demi Hukum Pasca Putusan MA

Repelita.net

01 November 2026 22:46 WIB • 88 view

Benny K Harman Sebut Kedudukan Gibran Wapres Batal Demi Hukum Pasca Putusan MA
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Pernyataan dari politisi Partai Gerindra Kamrussamad yang menegaskan partainya tetap solid mendukung duet Prabowo-Gibran menuai reaksi keras.

ADVERTISEMENT

Komentar tersebut langsung disorot secara kritis oleh Pemerhati Politik dan Kebangsaan, Rizal Fadillah, pada hari Minggu (1/11/2026).

Rizal menganggap seruan Kamrussamad yang mendiskreditkan dampak putusan Mahkamah Agung serta Mahkamah Konstitusi sebagai kekeliruan besar.

Dirinya bahkan menyerukan gerakan boikot masyarakat terhadap Partai Gerindra apabila pernyataan itu menjadi representasi resmi dari organisasi tersebut.

Menurut pandangannya, Gerindra dapat dinilai mengabaikan gelombang tuntutan publik yang menghendaki mundurnya Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden.

"Jika demikian Gerindra potensial untuk menjadi musuh rakyat. Silahkan dukung Prabowo Gibran rakyat pun mampu untuk menggulingkan Prabowo Gibran. Konstitusi memberi akses luas untuk itu," ujar Rizal Fadillah, Minggu (1/11/2026).

Rizal menambahkan bahwa elemen aktivis dan warga sebenarnya sudah memilah target kritikan secara objektif agar stabilitas nasional terjaga.

Fokus desakan sejauh ini murni mengarah pada posisi wakil presiden, bukan untuk mengusik Prabowo Subianto sebagai presiden maupun pucuk pimpinan partai.

"Narasi halusnya adalah desak Gibran untuk mundur atau DPR/MPR memundurkan. Prabowo sendiri sebagai Presiden sekaligus Ketum Partai Gerindra tidaklah diganggu," tegasnya.

Ia juga menyayangkan pemikiran logis dari internal partai yang bersikeras membelai figur bermasalah dengan dalih melindungi stabilitas roda pemerintahan.

Langkah mempertahankan hal tersebut menurut Rizal justru berpotensi memicu gejolak politik yang jauh lebih destruktif dalam waktu dekat.

"Alasan Kamrussamad bahwa mempertahankan Prabowo Gibran dimaksudkan untuk menjaga stabilitas pemerintahan adalah contoh dari kegagalan berfikir," ucap Rizal.

"Mempertahankan barang busuk justru akan mengakibatkan ketidakstabilan politik dan pemerintahan. Jaga dan belai terus Gibran niscaya rakyat sebentar lagi akan menjadi harimau yang siap menerkam," imbuhnya.

Pimpinan Gerindra diminta segera mengevaluasi sekaligus memberikan teguran keras kepada kadernya jika opini tersebut dinilai melangkahi kebijakan bersama.

Apabila partai bergeming, konsolidasi perlawanan dari masyarakat sipil disebutnya akan semakin menguat untuk memberikan sanksi politik secara terbuka.

"Akan tetapi jika itu memang warna dari Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto maka rakyat harus bersikap tegas dan berani untuk menghabisi atau memboikot Partai Gerindra," terangnya.

Rizal menilai seorang nakhoda koalisi harus berani menindak tegas barisan anggotanya yang membuat manuver nyeleneh serta membahayakan perjuangan.

Ia menutup ulasannya dengan melontarkan pertanyaan mendasar terkait keberpihakan ideologis partai bentukan Prabowo tersebut dalam menyikapi situasi sekarang.

"Pertanyaan seriusnya adalah apakah Gerindra akan terus bersama Gibran atau bersama rakyat? Jika dengan sejuta alasan tetap bersama Gibran, maka biarkanlah rakyat membangun soliditas untuk melawan dan memboikot Gerindra," kuncinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung