Berita, Internasional

Bantah Data Intelijen, Donald Trump Klaim Raih Kemenangan Militer Total Atas Iran

Repelita.net

16 May 2026 19:49 WIB • 644 view

Bantah Data Intelijen, Donald Trump Klaim Raih Kemenangan Militer Total Atas Iran
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Rombongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan menerapkan prosedur keamanan ketat usai menyelesaikan kunjungan kenegaraan di China sebelum bertolak kembali menuju Washington menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One.

Informasi tersebut mencuat setelah sejumlah staf Gedung Putih disebut membuang berbagai barang pemberian dari pihak China sesaat sebelum menaiki pesawat pada Jumat, 15 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

Seorang jurnalis The New York Times, Emily Goodin, mengungkapkan hal itu melalui akun media sosial X miliknya dengan menyebut barang-barang seperti kartu identitas, telepon genggam sekali pakai hingga lencana delegasi langsung dikumpulkan dan dibuang.

Dalam unggahannya, Emily Goodin menyebut bahwa seluruh perlengkapan tersebut tidak diperbolehkan ikut masuk ke dalam Air Force One sebagai bagian dari langkah pengamanan standar pemerintah Amerika Serikat.

Langkah tersebut kemudian turut dibenarkan sejumlah wartawan Gedung Putih lainnya yang berada dalam rombongan perjalanan Presiden Donald Trump selama kunjungan resmi di Beijing.

Penerapan prosedur itu disebut lazim dilakukan Washington ketika melakukan lawatan ke negara yang tidak masuk kategori sekutu strategis utama Amerika Serikat demi mencegah potensi penyadapan maupun ancaman keamanan elektronik.

Trump sendiri meninggalkan Beijing pada Jumat setelah menjalani rangkaian agenda bilateral sejak pertengahan pekan bersama Presiden China Xi Jinping.

Dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut, kedua negara dilaporkan menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis di bidang ekonomi maupun geopolitik internasional.

China dikabarkan menyetujui pembelian 200 unit pesawat Boeing buatan Amerika Serikat sebagai bagian dari penguatan kerja sama industri dan pembukaan lapangan kerja sektor manufaktur di AS.

Selain itu, pembahasan juga mencakup peningkatan ekspor produk pertanian Amerika Serikat termasuk komoditas kedelai guna menopang kebutuhan pasar domestik China.

Pertemuan Trump dan Xi Jinping turut menyinggung isu stabilitas kawasan termasuk situasi Selat Hormuz serta pembahasan diplomasi internasional terkait Iran dan regulasi kecerdasan buatan atau AI.

Presiden Xi Jinping dalam kesempatan tersebut juga disebut menyampaikan peringatan keras kepada Washington terkait isu kedaulatan Taiwan yang selama ini menjadi sumber ketegangan kedua negara.

Di sisi lain, Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah meluapkan kemarahan kepada seorang reporter The New York Times saat sesi tanya jawab di dalam Air Force One.

Trump menuding media menyebarkan informasi yang tidak sesuai fakta terkait perang Iran dan mengklaim Amerika Serikat telah meraih kemenangan penuh dalam operasi militernya.

"Oh saya mendapat, saya meraih kemenangan militer total. Tapi berita palsu, orang-orang seperti Anda, menulis dengan tidak benar. Anda orang palsu," kata Trump.

"Kami melumpuhkan semua persenjataan anti pesawat mereka. Kami melumpuhkan semua radar mereka. Kami melumpuhkan semua pemimpin mereka, nomor satu. Para pemimpin mereka divisi ketiga," lanjutnya.

"Kami telah meraih kemenangan total kecuali oleh orang-orang seperti Anda yang tidak menulis kebenaran. Anda tahu, saya sebenarnya berpikir apa yang Anda tulis itu semacam penghianatan. Tapi Anda di the New York Times, di CNN saya akan mengatakan Anda yang terburuk," sambung Trump.

Namun di tengah klaim tersebut, laporan intelijen Amerika Serikat justru memunculkan fakta berbeda mengenai kemampuan militer Iran pascakonflik bersama AS dan Israel.

Laporan internal yang beredar menyebut Teheran masih mempertahankan sebagian besar fasilitas rudal bawah tanah dan sistem peluncur strategisnya di berbagai wilayah.

Pejabat intelijen Amerika Serikat dikabarkan khawatir setelah Iran berhasil memulihkan akses operasional terhadap 30 dari 33 situs rudal di kawasan Selat Hormuz.

Situasi itu dinilai berpotensi mengancam kapal perang Amerika Serikat yang melintas di jalur pelayaran sempit tersebut apabila konflik kembali memanas sewaktu-waktu.

Iran juga disebut masih menguasai sekitar 70 persen peluncur seluler serta mempertahankan sebagian besar stok rudal balistik dan rudal jelajah miliknya.

Selain kemampuan rudal, Teheran dikabarkan masih memiliki akses terhadap sekitar 90 persen fasilitas bawah tanah untuk penyimpanan maupun peluncuran persenjataan strategis.

Dalam sidang komite Senat Amerika Serikat, anggota Kongres dari Partai Demokrat Ed Case mengungkap dugaan kerugian besar yang dialami militer AS selama agresi terhadap Iran.

Menurut laporan yang dikutipnya, angkatan udara Amerika Serikat kehilangan 39 pesawat dan 10 lainnya mengalami kerusakan dalam operasi selama 40 hari.

Ed Case kemudian mempertanyakan kesiapan Pentagon dalam menghitung biaya jangka panjang akibat kerugian tersebut kepada Kepala Pejabat Keuangan Pentagon Jules W. Hurst III.

Namun pihak Pentagon belum memberikan rincian lebih lanjut dengan alasan masih melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dampak operasional militer yang terjadi.

Di tengah situasi itu, Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC disebut bergerak cepat memulihkan persenjataan serta jaringan radar selama jeda konflik berlangsung.

Sejumlah analis menilai Iran memiliki kemampuan produksi militer dalam negeri yang membuat proses pengisian ulang amunisi dan rudal berlangsung lebih cepat dibanding lawannya.

Iran juga disebut memiliki jaringan pangkalan bawah tanah besar yang mampu menyimpan ribuan rudal balistik dan relatif aman dari serangan udara konvensional.

Pengamat Timur Tengah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Khalid Al Walid, mengungkap Iran terus memperkuat kapasitas pertahanan selama masa gencatan senjata.

"Jadi dalam waktu ceasefire (gencatan senjata) ini kita mendengar bahwa Iran telah membangun kembali seluruh persenjataan yang mereka miliki dan bahkan telah menguji cobakan beberapa rudal-rudal baru, seperti Rudal Fattah-3, kemudian juga Khorramshahr jenis ke-lima," katanya.

Prof Khalid juga menyebut Iran memiliki sejumlah persenjataan rahasia yang hingga kini belum dipublikasikan secara terbuka kepada dunia internasional.

"Di dari laut misalnya, Iran itu punya beberapa rudal laut, misal rudal tercepat yang dimilikinya itu disebut sebagai Rudal Hood artinya paus. Itu dapat menghancurkan kapal-kapal perang dan ini baru dimiliki oleh hanya atau hanya dimiliki oleh Iran," ujarnya.

"Dan juga demikian terowongan yang ada di bawah laut, yang siap meluncurkan rudal kapanpun," sambungnya.

Ia menambahkan Iran juga memiliki kendali penting terhadap kabel optik bawah laut yang melintasi Selat Hormuz dan dinilai vital bagi komunikasi global.

"Nah kalau ini diputus maka ini akan menghancurkan seluruh perekonomian Timur Tengah kemudian bagian Asia dan Eropa. Sehingga akan mengganggu seluruh proses komunikasi sistem keuangan dunia ya. Ini yang juga sangat dikhawatirkan."

Selain itu, sistem pertahanan udara Iran disebut semakin canggih dan sulit dilacak oleh pusat komando militer Amerika Serikat atau CENTCOM.

"Iya betul. Jadi Iran punya pertahanan udara selain dari S-400 yang dahulu mereka beli dan juga mendapatkan dari Rusia, mereka mengembangkan sendiri dan sampai sekarang ini teknologi yang digunakan itu masih belum diketahui," tuturnya.

"Termasuk terakhir apa yang terjadi misalnya di Iswahan dan ini sampai sekarang misalnya belum diketahui teknologi yang digunakan," katanya.

"Ini memang disiapkan dan sebenarnya ada satu pertahanan udara yang masih sampai sekarang belum digunakan yang dimiliki oleh Iran," ucap Prof Khalid.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung