Berita, Nasional

Aparat Bubarkan Paksa Pemutaran Film Pesta Babi Dandhy Laksono Di Berbagai Kampus Menuai Kecaman Keras Komnas HAM

Repelita.net

12 May 2026 17:37 WIB • 934 view

Aparat Bubarkan Paksa Pemutaran Film Pesta Babi Dandhy Laksono Di Berbagai Kampus Menuai Kecaman Keras Komnas HAM
Foto: Istimewa

Repelita Ternate - Rentetan insiden pembubaran paksa kegiatan nonton bareng film dokumenter terbaru karya Dandhy Dwi Laksono yang berjudul Pesta Babi memicu gejolak hebat di tengah masyarakat akibat adanya keterlibatan aparat berseragam pada tanggal 8 Mei 2026.

Upaya represif tersebut dilaporkan terjadi secara masif di kawasan Benteng Oranje Maluku Utara serta merembet ke sejumlah institusi pendidikan tinggi di wilayah Mataram Nusa Tenggara Barat yang memaksa diskusi beralih ke lokasi non-formal.

ADVERTISEMENT

Kehadiran personel Babinsa serta intelejen TNI di lokasi pemutaran film dilaporkan telah menekan mental panitia penyelenggara hingga berujung pada penghentian paksa aktivitas literasi visual tersebut oleh otoritas keamanan setempat.

Menanggapi fenomena pembungkaman ruang berekspresi ini, Ketua Komnas HAM RI Anis Hidayah melontarkan kecaman terbuka karena menilai tindakan tersebut merupakan bentuk ancaman serius terhadap hak konstitusional warga negara dalam berpendapat.

Dandhy Laksono selaku sutradara membeberkan bahwa karya sinematiknya ini bertujuan untuk merombak persepsi publik mengenai narasi keterlibatan pihak asing dalam eksploitasi kekayaan alam di bumi Papua Selatan yang selama ini terkesan ditutup-tutupi.

Isi dokumenter berdurasi satu setengah jam tersebut secara khusus menyoroti ancaman terhadap ruang hidup suku-suku asli di Papua seperti Marin, Auyu, Yei, dan Muyu akibat ekspansi proyek perkebunan skala besar serta kebijakan Food Estate.

Film ini menggunakan metafora ritual adat suku Muyu yang sakral sebagai simbol peringatan keras bahwa kerusakan ekosistem hutan Papua akan berdampak langsung pada kehancuran martabat serta identitas kebudayaan masyarakat lokal.

Narasi dalam film tersebut bahkan secara gamblang menggambarkan kondisi lapangan sebagai bentuk kolonialisme modern yang dilindungi oleh pengamanan militer ketat demi memuluskan jalannya investasi besar-besaran di wilayah paling timur Indonesia.

Hingga kini, gelombang protes serta perdebatan mengenai larangan pemutaran film Pesta Babi terus meluas di jagat maya sekaligus menjadi indikator penting dalam menguji tingkat kebebasan berpendapat di bawah pemerintahan saat ini.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung