Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya melempar handuk putih dalam hal penilaian intelektual terhadap rival bebuyutannya di Timur Tengah.
Di balik retorika politik yang tajam, Trump secara terbuka mengakui bahwa menghadapi rakyat Iran ternyata jauh lebih rumit dari kalkulasi awalnya.
Berbicara di hadapan awak media di Gedung Putih pada Senin, 16 Maret 2026, politisi Partai Republik ini memberikan pengakuan yang mengejutkan publik.
Ia menyebut Iran bukan sekadar lawan militer biasa, melainkan lawan intelektual dengan tingkat kecerdasan atau Intelligence Quotient yang sangat tinggi.
"Saya berurusan dengan pemain yang sangat cerdas. Mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas, orang-orang yang kejam dan bengis," ujar Trump blak-blakan.
Pengakuan Trump ini bukan tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Ia mengaku terperangah dengan pola serangan balasan yang diluncurkan Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026 lalu.
Di luar prediksi para ahli militer Washington, Iran secara berani menghantam titik-titik vital sekutu AS di Timur Tengah.
Serangan Iran menghantam wilayah Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Arab Saudi yang menjadi sekutu utama Amerika.
Bagi Trump, manuver Iran ini bukanlah serangan militer biasa, melainkan sebuah strategi permainan catur besar di tingkat yang sangat tinggi.
Strategi itu menurutnya hanya bisa dijalankan oleh mereka yang memiliki kapasitas otak jenius dan kecerdasan luar biasa.
"Beberapa dari mereka adalah orang yang sangat baik, tapi mereka bisa menjadi sangat kejam saat diperlukan," tambah Trump dengan nada gusar sekaligus kagum.
Sorotan terhadap IQ masyarakat Iran ini sejalan dengan efektivitas alutsista mereka di medan tempur yang memukau dunia.
Dalam 12 hari terakhir konflik melawan poros Amerika Serikat-Israel, dunia dibuat terbelalak oleh kemampuan militer Iran.
Rudal dan drone buatan mandiri Iran sukses menembus sistem pertahanan canggih milik Israel dan negara-negara Teluk.
Sistem pertahanan tersebut selama ini dipagari dengan teknologi tercanggih buatan Amerika Serikat.
Yang menarik, kemajuan teknologi ini dicapai Iran secara mandiri di tengah kepungan sanksi internasional yang mencekik.
Sanksi telah diberlakukan selama bertahun-tahun oleh negara-negara Barat terhadap Iran.
Data terbaru dari International IQ Test per 1 Januari 2026 memperkuat klaim Trump tentang kecerdasan bangsa Iran.
Laporan yang menghimpun sampel dari 1,2 juta peserta sepanjang tahun 2025 itu menempatkan Iran sebagai kekuatan intelektual papan atas dunia.
Berdasarkan skor rata-rata, Iran berhasil menduduki peringkat ke-4 dunia dengan skor IQ mencapai 104,8.
Posisi Teheran hanya berada di bawah tiga raksasa Asia Timur yang selama ini dikenal unggul dalam pendidikan.
Korea Selatan menduduki peringkat pertama dengan skor 106,97, disusul China 106,48, dan Jepang 106,30.
Capaian Iran ini menciptakan anomali yang pahit bagi blok Barat yang selama ini merasa superior.
Amerika Serikat, yang selama ini dianggap sebagai kiblat inovasi global, justru tercecer di peringkat ke-18.
Rata-rata IQ warga Amerika Serikat hanya mencapai 101,04 jauh di bawah Iran.
Kenyataan lebih pahit harus ditelan Israel yang selama ini membanggakan kejeniusan warga Yahudi.
Israel harus puas terlempar ke posisi ke-48 dunia dengan skor IQ rata-rata 98,57.
Negara yang mengklaim sebagai startup nation tersebut kini berada di peringkat bawah dalam hal kecerdasan.
Kini Washington harus menerima kenyataan bahwa perang di Timur Tengah bukan sekadar adu otot militer.
Konflik ini telah berubah menjadi adu otak di papan catur geopolitik yang sangat dinamis.
Dan bagi Trump, Iran terbukti bukan lawan yang bisa diremehkan hanya dengan gertakan sambal dan ancaman belaka.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

