
Repelita Teheran - Akhirnya Iran menggunakan rudal balistik jarak jauh bernama Sejjil untuk pertama kalinya dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel sebagai bagian dari Operasi True Promise 4 yang membuat lawan terguncang.
Televisi pemerintah Iran mengumumkan hal tersebut pada Minggu 15 Maret 2026 sebagai respons balasan atas serangan Israel dengan Amerika pada 28 Februari 2026.
Dalam keterangan media tersebut mengatakan bahwa Teheran telah menggunakan rudal balistik jarak jauh Sejjil seberat 23,6 ton untuk pertama kalinya dalam perang yang telah memasuki hari ke-17.
Sejjil termasuk dalam kategori senjata strategis paling penting yang dimiliki Teheran dan dianggap sebagai prestasi utama dalam program kemampuan militer dalam negeri negara tersebut.
Berbeda dengan banyak rudal balistik Republik Islam yang menggunakan bahan bakar cair Sejjil menggunakan sistem propulsi bahan bakar padat dua tahap yang lebih efisien.
Desain ini memungkinkan persiapan dan peluncuran dalam waktu singkat serta memudahkan transportasi dan penyimpanan dalam jangka panjang tanpa risiko kebocoran.
Rudal ini memiliki jangkauan yang diperkirakan antara 2.000 hingga 2.500 kilometer yang mencakup seluruh wilayah Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk.
Dari segi performa analisis teknis menyebutkan bahwa rudal ini dapat mencapai kecepatan lebih dari Mach 13 atau sekitar 17.000 km per jam pada fase akhir perjalanan.
Lintasannya melewati luar atmosfer sebelum menuju target sehingga membuat sistem pertahanan udara konvensional seperti Iron Dome atau Patriot tak berdaya menghadapinya.
Rudal seberat 23,6 ton ini juga diklaim memiliki kemampuan manuver untuk menghindari deteksi dan pertahanan meskipun klaim ini belum diverifikasi secara independen.
Teheran juga telah mengembangkan varian yang ditingkatkan bernama Sejjil-2 yang memiliki sistem navigasi dan panduan yang lebih baik dari versi sebelumnya.
Dilaporkan menggunakan kombinasi GPS dan navigasi inersia dengan beberapa laporan menyatakan margin kesalahan bisa kurang dari 10 meter meskipun belum dikonfirmasi.
Panjang rudal ini sekitar 17,5 meter dengan muatan hulu ledak sekitar 650 kilogram yang mampu menghancurkan target besar dengan sekali hantaman.
Sementara itu disitat dari kanal YouTube Kompas Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad Irak jadi target serangan drone saat rentetan ledakan mengguncang kota tersebut pada Sabtu waktu setempat.
Kedutaan Besar AS sempat mengeluarkan peringatan keamanan agar warga Amerika segera meninggalkan kota termasuk tak datang ke kedutaan di Baghdad maupun konsulat jenderal.
Peringatan itu dikeluarkan karena risiko serangan rudal drone dan roket yang terus berlanjut di wilayah utara Irak yang menjadi basis milisi pro-Iran.
Serangan drone tersebut melesat ke pusat pengisian bahan bakar kapal di Fujairah Uni Emirat Arab membuat operasi pemuatan minyak terpaksa dihentikan.
Serangan ke Fujairah terjadi beberapa jam setelah Amerika Serikat menyerang target militer di terminal ekspor minyak di Pulau Kharg Iran sebagai balasan.
Fujairah yang terletak di luar Selat Hormuz adalah jalur keluar untuk sekitar 1 juta barel per hari minyak mentah Uni Emirat Arab.
Jumlah itu setara dengan sekira 1 persen dari permintaan minyak dunia yang cukup signifikan untuk mempengaruhi harga global.
Sebelumnya Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran Ebrahim Zolfaghari memperingatkan UEA agar tidak membantu AS menyerang Teheran dengan menggunakan fasilitas mereka.
Menurut IRGC Amerika telah menggunakan pelabuhan dan dermaga UEA untuk melancarkan serangan ke Pulau Kharg yang merupakan pusat ekspor minyak Iran.
Terkait hal itu Iran juga meminta warga sipil untuk segera mengungsi khususnya di wilayah pelabuhan Jebel Ali di Dubai dan pelabuhan Khalifa di Abu Dhabi.
Ini adalah pertama kalinya Iran secara langsung mengancam pelabuhan komersial di negara tetangga sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026.
"Kami menyatakan kepada para pemimpin UEA bahwa Iran punya hak membela kedaulatan dan wilayah nasionalnya untuk menyerang dan menghantam titik peluncuran rudal musuh Amerika yang terletak di pelabuhan dermaga dan tempat persembunyian pasukan AS di UEA," tegasnya.
Penggunaan rudal Sejjil seberat 23,6 ton ini menandai eskalasi baru dalam konflik yang telah berlangsung selama lebih dari dua pekan.
Israel disebut terguncang dengan hadirnya rudal baru yang mampu menembus pertahanan udara mereka sementara basis militer AS di kawasan tak berdaya menghadapi ancaman ini.
Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi yang semakin kompleks dan berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

